Krisis Solar Makin Parah, Perekonomian Sragen Terancam Lumpuh

Krisis Solar Makin Parah, Perekonomian Sragen Terancam Lumpuh

255
Ilustrasi
Ilustrasi

SRAGEN—Pihak Pertamina menjadi sasaran kecaman masyarakat dan pengelola SPBU, menyusul krisis solar bersubsidi di wilayah Sragen yang semakin parah. Sendi-sendi perekonomian pun terancam lumpuh menyusul kekosongan stok solar bersubsidi di semua SPBU yang sejak Kamis (21/3) hingga Jumat (22/3) tak kunjung dipasok.

Kepala Bidang (Kabid) SPBU Hiswana Migas Surakarta, Rochim Agus Suripto, menyampaikan semua SPBU di Sragen memang sudah tidak bisa melayani pembelian solar karena tidak lagi punya stok. Ia juga menyayangkan sikap Pertamina yang tidak segera bertindak, namun justru beralasan kondisi ini terjadi karena kebijakan pembatasan kuota BBM bersubsidi.

“Kami sudah berusaha berkoordinasi dengan Pertamina, tapi jawabannya ya karena ada pengendalian kuota. Kami juga bingung, sebab program pembatasan ini juga membuat SPBU menjerit. Omzet menjadi tidak menentu. Ini bisa jadi bumerang bagi pemerintah karena BBM menyangkut perekonomian rakyat,” paparnya, Jumat (22/3).

Baca Juga :  Ngeri, Disambar Kereta Api 360 Ton, Jasad Kakek Asal Kerjo Ini Sungguh Mengenaskan

Menurutnya, semestinya Pertamina tidak hanya bertahan dengan alasan pembatasan mengingat kekosongan stok solar sudah terjadi hampir sepekan. Pihaknya berharap Pertamina segera mengirim pasokan ke SPBU-SPBU di Sragen agar bisa kembali melayani masyarakat. Soal pembatasan, menurutnya kebijakan itu tidak semudah bisa diterapkan karena butuh waktu dan sosialisasi ke masyarakat.

Wakil Ketua DPRD Sragen, Bambang Widjo Purwanto juga mengecam sikap Pertamina yang seolah membiarkan krisis terus berlanjut. Padahal, keberadaan solar di Sragen sangat krusial mengingat sebagian besar petani membutuhkannya untuk operasional pengolahan sawah, selain kebutuhan untuk bahan bakar angkutan.

Baca Juga :  Duh, Suami Sakit Stroke, Istri Malah Nggantung

“Ini seminggu solar sudah susah didapat, otomatis operasional alat pertanian tidak bisa jalan dan dampak buruknya akan menunda masa tanam dan menunda produksi pertanian. Kalau dibiarkan terus, ekonomi Sragen bisa hancur,” ujarnya.

Di sisi lain, Gubernur Jateng, Bibit Waluyo mengaku tidak tahu soal krisis solar bersubsidi yang terjadi di Sragen maupun sejumlah daerah di eks Karesidenan Surakarta. Sejauh ini, ia mengaku belum mendapat laporan mengenai hal itu. “Saya nggak berani ngomong kalau nggak ada laporan dan data valid. Tanya sama Pemasaran IV Pertamina saja,” ujarnya di sela-sela kunjungan ke Sragen, kemarin.

Wardoyo

BAGIKAN