JOGLOSEMAR.CO Daerah Klaten Kualitas Raskin Buruk, Warga Protes

Kualitas Raskin Buruk, Warga Protes

320
BAGIKAN
DIPROTES - Petugas membagikan jatah Raskin di Kantor Desa Kujon, Kecamatan Ceper, Sabtu (23/3). Joglosemar/Angga Purnama
DIPROTES – Petugas membagikan jatah Raskin di Kantor Desa Kujon, Kecamatan Ceper, Sabtu (23/3). Joglosemar/Angga Purnama

KLATEN – Warga Desa Kujon, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten memprotes bantuan Beras Miskin (Raskin) yang kualitasnya jelek. Selain kualitasnya buruk dan tak layak konsumsi, berat takaran beras juga tidak semestinya.

Purwoyo (60) warga Dusun Jebugan, Desa Kujon mengaku terkejut setelah membuka karung Raskin yang diterimanya. Menurutnya, buliran beras sudah remuk mirip bekatul. “Mayoritas kualitas Raskin sangat jelek, seperti bekatul. Selain itu, setelah saya timbang beratnya juga cuma 13 kilogram, padahal seharusnya 15 kilogram. Saya kemudian kembalikan ke desa,” ujar Purwoyo, Minggu (24/3).

Kepala Desa Kujon, Edi Purwanto membenarkan protes warga penerima Raskin di desanya. Ada 394 sak Raskin untuk penerima di 12 RW yang turun sejak Selasa (19/3). Dari jumlah itu, sudah 75 persen terlanjur disalurkan. “Sebagian sudah diterima warga. Setelah itu warga mengeluh dengan kualitas Raskin. Setelah saya cek, memang tidak layak konsumsi. Selain itu takaran juga tidak sesuai. Saya sudah meminta perangkat desa untuk menghentikan penyaluran,” kata Edi.

Edi menjelaskan, keluhan disampaikan warga tidak hanya sekali ini. Namun sudah tiga kali distribusi sejak Februari-Maret 2013. Pihaknya sudah koordinasi dengan Bulog mengenai kualitas Raskin di desanya. “Sisa raskin yang belum disalurkan ini ditahan dulu hingga menunggu keputusan Bulog. Saya juga sudah meminta masyarakat yang sudah terlanjur menerima Raskin untuk mengembalikan sebelum dikonsumsi,” ujar Edi.

Sementara itu, Kepala Gudang Bulog Karangwuni, Ceper, Purwoko menjelaskan, Bulog sudah menerjunkan tim ke Desa Kujon untuk mengganti Raskin dengan kualitas lebih baik.

“Menurunnya kualitas Raskin karena penyimpanan di gudang terlalu lama, yakni sekitar tujuh bulan. Namun kami sudah menarik dan mengganti dengan beras yang lebih baik,” ujar Purwoko.

Menanggapi soal tidak sesuainya takaran Raskin, Purwoko menjelaskan, menyusutnya jumlah takaran itu masalah teknis. Misalnya adanya jahitan karung yang rusak sehingga banyak beras yang  tercecer saat didistribusikan. “Prosedur pendistribusian sudah dilakukan secara benar. Mungkin pada saat perjalanan ke lokasi, terdapat beberapa karung yang rusak,” paparnya. Angga Purnama