JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Pendidikan Kurikulum 2013 Kembali Dikritik

Kurikulum 2013 Kembali Dikritik

307
BAGIKAN
LATIHAN UJIAN-Siswa-siswi SMA N 4 Surakarta saat mengerjakan soal pada Latihan Ujian yang diselenggarakan sekolah tersebut, Senin (18/2). Sejumlah sekolah di wilayah Surakarta menyelenggarakan latihan ujian untuk mempersiapkan siswa-siswinya jelang menghadapi Ujian Nasional. Joglosemar/Yuhan Perdana
Ilustrasi

SOLO – Badai kritik terhadap pelaksanaan kurikulum 2013 terus saja mengalir, padahal pelaksanaan kurikulum yang terbaru ini tinggal hitungan bulan saja. Yang terbaru, salah satu pengkritiknya adalah anggota komisi X DPR RI, Dedy Suwandi Gumelar atau yang biasa dikenal masyarakat dengan nama Mi’ing.

Ditemui saat menjadi pembicara dalam dialog publik “Sejauh Mana Peran Pengawasan Masyarakat dalam Proses Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah” di Kusuma Sahid Prince Hotel, Dedy mengatakan jika pihak-pihak yang terkait di dunia pendidikan sebenarnya tidak siap untuk melaksanakan kurikulum 2013. “Dari DPR beranggapan tidak siap dan tidak setuju. Karena belum ada sosialisasinya,” ucapnya kepada wartawan, Rabu (13/3).

Namun, menurutnya tidak penting apakah DPR setuju atau tidak setuju karena itu sudah merupakan domain pemerintah. Akan tetapi, jika nantinya ada keluhan dari masyarakat tentang pelaksanaan kurikulum yang bakal merugikan, maka DPR pantaslah jika bertindak.

Selain itu, faktor anggaran dana dan persiapan guru dalam menghadapi kurikulum 2013 juga tak luput dari sasaran kritik pria asal Banten ini. Pasalnya, besarnya dana untuk kurikulum yang mencapai Rp 2,4 triliun tersebut patut dipertanyakan, dari mana asalnya dana sebesar itu.

Selanjutnya yang dikritiknya adalah persiapan guru, jumlah guru yang akan disosialisasi. Jumlah guru di Indonesia yang sebanyak 2,9 juta tersebut, bagaimana cara sosialisasinya. Walaupun tidak semua guru yang disosialisasi, tapi tetap saja akan susah untuk mengerti sekaligus memahami mengenai  kurikulum 2013. “Untuk KTSP saja, para guru belum tentu paham betul mengenai sistemnya,” ucap anggota DPR dari Fraksi PDI-P itu.

Belum lagi masalah pengadaan buku untuk kurikulum 2013, Dedy Gumelar juga sangat menyorot hal ini. “Permasalahnya bukan masalah buku, tapi gurunya. Kalau nyusun bukunya cuma 1-2 bulan, hasilnya apa?” tambah Mi’ing.

Dony Suryadi P