JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Labelisasi BCB Ditentang Keraton

Labelisasi BCB Ditentang Keraton

285
BAGIKAN
SALAHI ATURAN-Bentuk Labelisasi Benda Cagar Budaya (BCB) dari Pemkot Surakarta yang terpasang di Tugu Jam Pasar Gedhe, Kamis (21/3). Pihak Keraton Kasunanan Surakarta menilai labelisasi tersebut merupakan tindak perusakan BCB dikarenakan cara pemasangan grafis batu kedalam benda sejarah tersebut. Joglosemar/Yuhan Perdana
SALAHI ATURAN-Bentuk Labelisasi Benda Cagar Budaya (BCB) dari Pemkot Surakarta yang terpasang di Tugu Jam Pasar Gedhe, Kamis (21/3). Pihak Keraton Kasunanan Surakarta menilai labelisasi tersebut merupakan tindak perusakan BCB dikarenakan cara pemasangan grafis batu kedalam benda sejarah tersebut. Joglosemar/Yuhan Perdana

PASAR KLIWON-Labelisasi Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilakukan Pemkot Solo, ditentang pihak Keraton Kasunanan Surakarta. Karena, dalam penerapannya, justru merusak BCB yang ada.

Wakil Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton Surakarta, KRMH Satriyo Hadinagoro, mencontohkan labelisasi yang merusak BCB itu adalah menempelkan grafis batu pada bangunan cagar budaya. Cara seperti itu, katanya, melukai nilai kutuhan BCB.

”Coba lihat di Gapura Gladag, Tugu Pasar Gede, Gapura Pasar Klewer, dan beberapa situs lain. Di situ grafis batu dimasukkan dengan cara ditempelkan di tembok dengan cara dipaku. Itu sudah merusak namanya,” kata Satriyo, Rabu (20/3).

Menurutnya, labelisasi BCB yang sudah dilakukan sejak tahun 2012 lalu tersebut, sudah melanggar UU Cagar Budaya. Dalam UU itu dijelaskan,  siapa pun tidak boleh merusak, mengubah, atau menggeser situs BCB.  ”Jika ditempelkan dan memaku, itu jelas sudah merusak. Karena paku itu sudah merusak tembok secara fisik,” ujarnya.

Ia mendesak Pemkot untuk mengeluarkan grafis batu itu dari situs BCB, dan dipasang terpisah.  Jika masih dipasang, katanya, Pemkot tidak memahami hakikat pelestarian BCB. ”Dulu, waktu koordinasi dengan pihak kami, sudah disarankan agar cukup memasang satu prasasti saja yang menegaskan keraton, dan seluruh bangunan di dalamnya itu BCB yang dilindungi hukum,”  imbuh dia.

Sebaliknya, Staf Komite Peduli Cagar Budaya Nasional (KPCBN) HM Sungkar, menilai, labelisasi oleh Pemkot sudah tepat. Sebab pelabelan yang dilakukan hanya berukuran kecil, sehingga tidak mengganggu kondisi BCB.

“BCB memang harus dijaga dan dilestarikan. Tapi sebaiknya jangan terlalu didewakan. Labelnya itu kan kecil, kecuali yang dilabeli itu benda-benda kecil seperti keris atau gamelan. Kalau seperti itu jelas mengganggu,”kata Sungkar.

Sementara itu,  Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo, Ahyani, mengatakan, pelabelan yang dilakukan Pemkot sudah dikoordinasikan dengan pihak yang menangani BCB. Kendati demikian, pihaknya akan menampung keberatan dari pihak keraton tersebut. ”Kami tidak asal melabeli begitu saja, sudah kami lakukan koordinasi terlebih dahulu dengan pihak yang berwenang mengurusi BCB ini,” katanya, Kamis(21/3).  Ronald Seger Prabowo