LP Sleman Diserbu, 4 Tahanan Tewas

LP Sleman Diserbu, 4 Tahanan Tewas

393
Ilustrasi
Ilustrasi

SLEMAN—Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan Sleman, Yogyakarta, diserang belasan orang bersenjata, Sabtu (23/3) dini hari. Para penyerang itu menembak mati empat tersangka pengeroyokan anggota TNI yang dititipkan di LP tersebut.  Empat orang tewas tersebut adalah Angel Sahetapi alias Deki (31), Adrianus Candra Galaga alias Dedi (33), Gameliel Yermiayanto Rohi alias Adi (29), dan Yohanes Yuan (38).

Belum diketahui dengan pasti, dari mana kelompok bersenjata yang melakukan serangan. Namun Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Polisi Sabar Raharjo membenarkan penyerangan itu terkait dengan meninggalnya Sertu Santoso (31) yang tewas dikeroyok di Kafe Hugo’s Sleman, beberapa waktu lalu. Santoso sebelumnya disebut sebagai anggota Kopassus Kandang Menjangan.

Panglima Kodam IV Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso mengklarifikasi penyerangan LP Cebongan, tidak ada hubungannya dengan Satuan Kopassus. “Pelaku adalah kelompok tidak dikenal, dan tidak ada hubungannya dengan Kopassus,” kata Hardiono. Menurut dia, anggota TNI AD yang meninggal dunia dalam kasus pengeroyokan di Hugo’s bukan anggota Kopassus.

“Sertu Santoso yang menjadi korban dalam kejadian pengeroyokan di tempat hiburan adalah anggota Intel Kodam IV Diponegoro yang sedang menjalankan tugas. Dulu memang bertugas di Kopassus, namun saat kejadian sudah tidak lagi,” katanya.

Hardiono Saroso juga membantah senjata yang digunakan untuk menembak empat tahanan di LP Cebongan berasal dari kesatuannya. “Bukan (senjata TNI),” Hardiono usai mengikuti upacara penutupan pendidikan Secaba di Lapangan Rindam IV Diponegoro, Magelang.

Setelah mendapat informasi soal insiden di LP Sleman, Hardiono mengaku langsung menggelar apel. Tujuannya untuk mengecek jumlah senjata. Dan tidak ada senjata TNI seperti yang digunakan dalam penyerangan tersebut. “Organik kita maupun yang nonorganik, dan saya bertanggungjawab penuh semua yang ada di Kodam,” tegas Hardiono. Dia sendiri tidak bisa memastikan siapa pelakunya. “Entry point-nya, pelaku dilakukan oleh orang yang tidak dikenal,” tandasnya.

Hardiono mengatakan pihaknya akan membantu Polda DIY untuk mengungkap kelompok pelaku penyerangan LP Cebongan. “Tugas saya di wilayah Yogyakarta membantu Polda DIY mengungkap pelaku, dan kami juga tidak akan berspekulasi,” katanya. Ia mengatakan, kelompok pelaku bersenjata api dan terlatih itu bukan indikasi pelaku dari militer. “Kelompok teroris juga terlatih, mereka juga bersenjata api dan dapat membuat bom. Yang terlatih belum tentu tentara,” katanya.

Dari Sukoharjo, Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan Kartasura membantah keterlibatan anggotanya dalam penembakan di LP Cembongan. Pernyataan ini disampaikan oleh Kasi Intel Grup 2 Kopassus, Kapten (inf) Wahyu Yuniartoto kepada sejumlah wartawan di Kandang Menjangan Kartasura. “Semalam semua siaga di dalam, melakukan dinas dalam semua,” kata dia.

Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya jadwal atau agenda kedinasan ke luar markas. Selain itu, menurut dia, ketika ada anggotanya yang keluar markas, pihaknya pasti akan mengetahuinya. Pasalnya, mereka harus mengisi buku absen di pintu gerbang utama Kopassus. Pihaknya juga menegaskan, semua anggotanya sudah menjalankan tugas sesuai dengan prosedur yang ada. “Pintu utama akses ke Kopassus hanya satu, yakni di depan. Perlu kami tegaskan, tidak ada anggota yang terlibat penembakan,” katanya lagi.

 

Lompat Pagar

Kapolda DI Yogyakarta Brigjen Polisi Sabar Raharjo menjelaskan penyerangan LP Cebongan dilakukan oleh sekitar 17 orang. “Penyerangan pada sekitar pukul 02.00 WIB itu, dilakukan oleh sekitar 17 orang. Mereka masuk ke Lapas dengan cara melompat pagar,” kata Sabar Raharjo.

Menurut dia, setelah berhasil masuk area LP, para pelaku memaksa petugas jaga menunjukkan sel keempat tahanan kasus pengeroyokan. “Para penyerang sempat menodongkan senjata api, dan memaksa petugas menunjukkan kunci sel. Empat orang tewas dengan luka tembak,” katanya. Ia mengatakan kelompok penyerang ini juga membawa semua CCTV yang ada di lapas setempat. Sedangkan seorang petugas Lapas Cebongan sempat dipukul, saat diminta menunjukkan kunci sel yang dimaksud.

Sumber di Lapas Cebongan yang minta namanya tidak disebut mengatakan kelompok penyerang datang sekitar pukul 02.00 WIB. Mereka sempat menembaki pintu gerbang, dan mengancam akan meledakkannya pakai granat.

Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin langsung mengunjungi LP Cebongan, Sabtu (23/3).  Amir meminta maaf atas ketidakberdayaan aparatnya dalam melindungi dan mencegah terjadinya peristiwa tersebut. “Saya sebagai Menkum HAM menyatakan turut berduka cita belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga dan kerabat para korban. Selanjutnya saya juga ingin menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf atas ketidakberdayaan aparat saya dalam melindungi dan mencegah terjadinya peristiwa seperti ini,” ujar Amir.

Amir juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut, menangkap pelaku atas tindakan perusakan fasilitas negara dan penganiayaan petugas LP. “Dan yang paling serius tindakan pembunuhan keji untuk diadili dan diberi hukuman yang setimpal,” imbuhnya.

Terpisah, pengacara keempat tersangka yang tewas ditembak dalam peristiwa kemarin, Rio Rama Baskara mengatakan penyerangan dan penembakan di LP Cebongan, dilakukan orang terlatih. “Dilihat dari runtutan kejadiannya, mulai dari masuk kemudian memukuli sipir hingga penembakan terhadap tahanan, jelas bukan dilakukan orang biasa, namun orang-orang terlatih,” katanya di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta. “Insiden penembakan ini seperti dalam sebuah operasi, dimana pelaku masuk ke Lapas, dan mensterilkan lokasi, kemudian yang terjadi keempat tahanan itu tewas di dalam Lapas Cebongan,” katanya.

Antara | detik | Murniati

BAGIKAN