JOGLOSEMAR.CO Foto Makelar Penjual Gadis SMP Diburu

Makelar Penjual Gadis SMP Diburu

813
BAGIKAN

Dua Tersangka Terancam 15 Tahun Penjara  

Identitas dari makelar penjual gadis di bawah umur yang membawa korban ke Gunung Kemukus sudah diketahui dan tinggal melakukan penangkapan.

ilustrasi
ilustrasi

SRAGEN—Usai membekuk dua tersangka sindikat penjualan gadis di bawah umur di Sumberlawang Senin (4/3), jajaran Polres Sragen menyatakan masih memburu satu pelaku yang diduga bertindak sebagai makelar sekaligus pencari mangsa. Sementara, dua tersangka, masing-masing pemilik kafe di Gunung Kemukus, Manto alias Pethik (60) yang mempekerjakan korban dan Sekdes Pendem, Sumberlawang, Widodo (64) dipastikan bakal dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman lebih dari 15 tahun.

Kapolres Sragen, AKBP Susetio Cahyadi mengatakan hasil pengembangan penyidikan, selain melibatkan Manto dan Sekdes Pendem, sindikat trafficking itu juga melibatkan satu oknum berinisial M alias ETH (60). M yang berdomisili di Keden, Kalijambe, Sragen ini terdeteksi menjadi perantara yang membawa korban DTY (13), pelajar SMP asal Ngandong, Boyolali untuk kemudian dijual ke Manto.

“M inilah yang berperan mencari mangsa. Dia yang pertama kali mengajak dan membawa korban dari daerah domisilinya kepada tersangka pemilik kafe di Gunung Kemukus. Identitasnya sudah kami ketahui dan masih kami kejar. Tapi informasi dari tim sudah terlacak, tinggal melakukan penangkapan,” ujar Kapolres, Selasa (5/3).

Selain memburu M, Kapolres mengungkapkan kedua orangtua korban juga tidak akan lepas dari sasaran pemeriksaan. Keduanya akan diperiksa terkait kemungkinan mengetahui atau bahkan sengaja melakukan pembiaran atas terjadinya kasus ini. Mengingat, berdasarkan riwayatnya, korban sudah menghilang dan bekerja di kafe Gunung Kemukus hampir dua bulan lamanya.

“Bahkan, mereka juga bisa terjerat pasal jika nantinya terbukti mengetahui atau bahkan sengaja melakukan pembiaran terhadap anaknya. Makanya akan terus kita dalami secara serius,” tegasnya.

Untuk pemilik kafe, Manto sudah disiapkan pasal berlapis. Selain UU Perlindungan Anak, ia juga dijerat pasal 2 ayat 1 UU No 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 600 juta.

Begitu pula, Sekdes Pendem, Widodo, yang membuatkan KTP palsu untuk korban, akan dijerat pasal 263 atau 266 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. Tidak hanya itu, hukumannya juga diperberat dengan pasal tambahan juncto 55 UU 21/2007 yakni membantu terjadinya trafficking.

Lebih lanjut, Kapolres menegaskan jerat pasal berlapis itu akan diterapkan mengingat kasus trafficking merupakan kejahatan tidak manusiawi yang merusak masa depan generasi muda. Terlebih, dalam kasus ini, para pelaku menjalankan modus yang terbilang cukup profesional. Hal itu dilihat dari upaya pencarian identitas KTP untuk korban dengan umur yang dituakan agar bisa dipekerjakan.

Kapolres juga berharap kasus ini bisa menjadi pembelajaran bagi siapa pun agar tidak mudah tergiur dengan iming-iming pekerjaan enak dengan gaji besar, namun ternyata berisiko terhadap keselamatannya. Kemudian untuk orangtua jangan mudah percaya dengan oknum yang menawarkan jasa membantu mencarikan pekerjaan jika dianggap meragukan.

Terpisah, Kades Pendem, Saidi Rosyid mangatakan pihaknya sudah menyiapkan laporan terkait penahanan Sekdesnya, yang akan diajukan ke kecamatan dan kabupaten. Namun surat itu baru akan diajukan setelah ada surat pemberitahuan penahanan dari institusi kepolisian. “Ini kami sedang berkoordinasi dengan Polsek dulu,” tandasnya. Wardoyo