JOGLOSEMAR.CO Foto Mantan Wakil Bupati Karanganyar Meninggal Dunia

Mantan Wakil Bupati Karanganyar Meninggal Dunia

728

Bapaknya Tukang Becak Itu, Pergi Selamanya….

Bumi Intanpari kembali berduka pada Jumat (8/3), malam . Mantan Wakil Bupati Karanganyar periode 2003-2008, Sri Sadoyo kembali ke sisi-Nya sekitar pukul 23.40 WIB, dalam usia 70 tahun. Kepergiannya menjadi duka tersendiri bagi keluarga dan masyarakat Karanganyar. 

Muhammad Ikhsan

Joglosemar | Muhammad Ikhsan BERDOA-Sejumlah pelayat saat mendoakan almarhum di Pendapa Ageng Putri Duyung, Karangpandan, Sabtu (9/3).
Joglosemar | Muhammad Ikhsan
BERDOA-Sejumlah pelayat saat mendoakan almarhum di Pendapa Ageng Putri Duyung, Karangpandan, Sabtu (9/3).

Suasana berduka menyelimuti Pendapa Ageng Putri Duyung, Ngunut RT 1 RW I, Tohkuning, Kecamatan Karangpandan, Sabtu (9/3). Terlihat sejumlah kerabat dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Karanganyar terus berdatangan ke rumah duka menyampaikan ucapan bela sungkawa.

Sementara itu, pihak keluarga terlihat sibuk untuk mempersiapkan acara pemakaman yang akan dilangsungkan di Astana Laya Sekoang, Dengkeng Tohkuning Karangpandan,  Minggu (10/3), sekitar pukul 10.00 WIB.

Salah seorang keponakan almarhum Tri Hariadi,, menuturkan kesehatan pamannya tersebut terus menurun dalam kondisi beberapa tahun terakhir. Gangguan kesehatan tersebut berawal dari Hemoglobin (HB) yang terus menurun hingga akhirnya pamannya tersebut mengalami gangguan jantung.

“Almarhum sudah berulang kali masuk ke rumah sakit. Biasanya almarhum menjalani opname selama 2-3 hari di rumah sakit, baru kembali ke rumah. Kemudian berulang seperti itu,” tutur Tri saat ditemui, Sabtu (9/3).

Kondisi kesehatan yang kian menurun, akhirnya membuat mantan Wakil Bupati Karanganyar tersebut menghembuskan nafas terakhir di RSU Dr Oen Solo, Jumat (8/3) pukul 23.40 WIB. Tak langsung disemayamkannya jenazah almarhum karena masih menunggu kedatangan salah seorang putranya, Sasotyo Hartawan dari Papua.

“Sebelum pemberangkatan jenazah almarhum ke pemakaman besok (hari ini-red) juga akan ada kegiatan penghormatan terakhir,” jelasnya.

Sri Sadoyo, bagi keluarga merupakan sosok yang ulet dan teguh dalam menjaga silaturahmi. Almarhum dikenal sangat bersemangat untuk berkumpul bersama keluarga besarnya. Almarhum sendiri merupakan anak terakhir dari silsilah keluarga besar Harjo Miguno. “Almarhum tersebut juga mendirikan pengajian Selasa Kliwon di Pendapi Ageng Putri Duyung. Selain menjadi penggagas, almarhum juga cukup aktif mengikuti kegiatan pengajian hingga lebih dari 600 kali,” terangnya.

Dari pengajian yang digagas almarhum tersebut sejak dirinya tinggal di Desa Ngringo, Jaten, berbuah pada munculnya gerakan sosial yang mengangkat harkat martabat tukang becak di Kabupaten Karanganyar pada saat itu. Dia mendirikan koperasi simpan pinjam bagi para tukang becak untuk mengembangkan usahanya. “Dari apa yang telah almarhum lakukan semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai bapaknya tukang becak di Kabupaten Karanganyar,” ungkapnya.

Untuk kelanjutan pengajian rutin tersebut, pihak keluarga masih akan membahas lebih lanjut, apakah akan melanjutkan atau tidak. Pasalnya kelompok pengajian tersebut telah memiliki puluhan jemaah dari berbagai kalangan sosial. “Sebelum meninggal, almarhum sempat ingin mengadakan pengajian lagi di Kecamatan Jaten,” terangnya.

Kepergian almarhum meninggalkan istri, Dewi Aisyah Sri Sadoyo dan dua putra, Sasotyo Hartawan serta Donny Sasotyo Adhie. Kemudian,  telah dikaruniai enam orang cucu.

Sebagaimana yang pernah diberitakan Joglosemar, mantan Wakil Bupati Karanganyar periode 2003-2008, pernah menjabat Wakil Ketua DPRD Karanganyar. Saat menjabat Wakil Ketua DPRD tersebut, yang bersangkutan diduga terlibat korupsi dana purnabakti. Sebagaimana dalam putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) No.665 K/PID.SUS/2009  tertanggal 28 September 2009, yang otomatis menggugurkan putusan PN Karanganyar No.101/Pid.B/2008/ PBKray tanggal 15 Januari 2009 yang membebaskan terdakwa dari segala tuntutan. Untuk itu, akhirnya diganjar hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 100 juta serta diwajibkan mengganti uang negara Rp 55, 786 juta.

BAGIKAN