Melihat Trauma Healing Tahanan Lapas Cebongan

Melihat Trauma Healing Tahanan Lapas Cebongan

288

Diberi Bimbingan Rohani, Diajak Bermain

Sebanyak 31 tahanan dan 10 petugas Lapas mengalami shock sejak peristiwa penembakan berdarah Sabtu (23/3) lalu. Perlu pemulihan melalui trauma healing untuk membantu mereka.

Dampak penembakan sadis yang dilakukan sekelompok orang bersenjata di Lapas Kelas IIB, Cebongan, Kabupaten Sleman, masih dirasakan 31 tahanan dan 10 petugas Lapas. Bagaimana tidak, mereka menyaksikan langsung empat tahanan kasus penganiayaan yang menewaskan seorang anggota TNI itu dieksekusi dengan cara ditembak dari jarak dekat.

Pemulihan melalui trauma healing memang diperlukan bagi mereka. Bukan hanya agar mereka kondisi psikisnya stabil, namun beberapa mereka adalah merupakan saksi dari penembakan berdarah. Keselamatan dan kondisi psikis yang stabil dari para saksi untuk membantu mengungkap tragedi berdarah ini.

“Sampai hari keempaat pasca-kejadian, ada tahanan yang belum bisa makan karena trauma dan shock mencium dan melihat korban serta darah berceceran,” ucap Aris Bimo, Kepala Bagian Tata Usaha (TU) Lapasa Cebongan.

Trauma healing dilakukan dengan mendatangkan mendatangkan pemimpin-pemimpin agama untuk memberikan siraman rohani guna menguatkan mental mereka. “Bagi warga binaan atau tahanan yang beragama Kristiani kami mendatangkan pastur atau pendeta, kemudian bagi yang beragama Islam, setiap harinya ada bimbingan, namun saat ini lebih intensif,” katanya.

Kemarin, Selasa (25/3) sekitar 25 orang rohaniwan dari gereja di DIY melaksanakan pendampingan terhadap para warga binaan yang ada di Lapas Kelas 2B. Terhitung sebanyak 45 umat Kristiani yang saban harinya  mengikuti siraman rohani dari pendeta. Dari 45 warga binaan itu, ada dua tahanan yang melihat langsung pembunuhan empat tahanan pada Sabtu kemarin.

“Kami gabungan dari gereja-gereja yang ada di Yogyakarta. Mulai hari ini hingga tiga minggu ke depan ada kegiatan penghuni LP untuk mengikuti terapi psikologi,” kata pendeta Rima Matruti dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gejayan, Sleman, Selasa (26/3).

Menurut keterangan Rima, wajah-wajah para tahanan yang ditemuinya juga terlihat stres, shock, dan ketakutan. Terapi yang diberikan selain siraman rohani, ibadah, menyanyi, juga diberikan permainan-permainan yang menarik (joy game). Juga para tahanan yang paling berat terguncang psikologinya diberikan perhatian khusus untuk konseling.

Hal serupa juga akan diberikan para sipir yang berjaga saat terjadinya penyerangan juga diberi terapi dengan program trauma healing.  “Secara kejiwaan, mereka terguncang. Sebab, ada yang menyaksikan langsung, ada pula yang berada di sel lain, tetapi diintimidasi dan mendengar suara tembakan, “ jelasnya.

Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) akan membantu Lapas Kelas IIB, Cebongan, untuk memulihkan kondisi psikologis para tahanan yang trauma akibat penyerangan kelompok tak dikenal yang menewaskan empat orang.  “Kami sudah menggandeng Fakultas Psikologi UGM untuk membantu memulihkan kondisi psikologis, baik bagi 31 tahanan maupun petugas jaga, yang mengalami syok,” ucap Sukamto, Kalapas Cebongan. Cisilia Perwita S

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR