Mengenal Leptospirosis

Mengenal Leptospirosis

461
ilustrasi
ilustrasi

Jika di rumah anda banyak tikus berkeliaran anda perlu waspada. Selain menjengkelkan karena sering mencuri simpanan makanan anda, tikus adalah salah satu hewan pembawa penyakit antara lain penyakit Leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira. Leptospirosis merupakan penyakit pada manusia yang ditularkan oleh hewan (atau disebut juga zoonosis) yang diduga paling luas penyebarannya di dunia. Penularan leptospirosis pada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi leptospira atau secara tidak langsung melalui genangan air yang terkontaminasi urine yang terinfeksi leptospira. Bakteri Leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang luka atau membran mukosa.

Dokter Umum Klinik Cahaya Mitra, Dr Enny Listyawati menjelaskan, Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang menginfeksi manusia dan hewan. Nama lain dari penyakit ini adalah swineherd’s, demam pesawah (rice-field fever), demam lumpur, jaundis berdarah, penyakit  stuttgant, atau demam  canicola. Ada juga yang menyebut demam Icterohemorrhage sehingga biasa juga disebut penyakit kuning non-virus. “Masyarakat sering menyebut penyakit ini dengan penyakit kencing tikus,” katanya.

Menurutnya leptospirosis belum ditemui di wilayah eks Karesidenan Surakarta, tetapi di Kabupaten Bantul pada awal 2011 data menunjukkan ada sebanyak 12 warga terserang Leptospirosis, satu orang di antaranya meninggal dunia. Namun angka penderita di desa Bantul pada tahun 2011 lebih sedikit jika dibandingkan pada tahun 2010, yang terdapat 110 penderita dan 12 meninggal dunia. Sementara tahun 2009, hanya 10 penderita, dan satu orang di antaranya meninggal dunia. “Kalau di Kota Solo memang belum ada, tetapi di Bantul yang tak jauh dari kita sudah sering terjadi kasus Leptospirosis ini,” jelasnya.

Kontaminasi bakteri leptospira di negara tropis lebih tinggi, hal ini dikarenakan di daerah tropis tikus masih berkembang pesat. Selain itu pembuangan bangkai sembarangan juga mendukung berkembangnya tikus di lingkungan tropis. Tikus dan bangkai binatang sembarangan akan menyebabkan ada kontaminasi bakteri leptospira di air tanah atau genangan air. “Sehingga setiap kali musim hujan dan banjir, angka kejadian leptospira biasanya meningkat,” ujarnya.

Enny mengungkapkan, sejauh ini tikus merupakan reservoir sekaligus penyebar utama leptospirosis karena bertindak sebagai inang alami dan memiliki daya reproduksi tinggi. beberapa hewan lain yang juga merupakan sumber penularan leptospira memiliki potensi penularan ke manusia tidak sebesar tikus. “Selain tikus hewan lain juga bisa menyebarkan leptospirosis.  Tapi hewan utama yang menyebarkan leptospirosis adalah tikus,” terang dia.

Gejala dan tanda penyakit Leptospirosis tergantung kepada berat ringannya infeksi yang dialami. Gejala dan tanda klinik dapat berat, agak berat atau ringan saja. Penderita mampu segera membentuk antibodi (zat kekebalan). Sehingga mampu menghadapi bakteri Leptispira, bahkan penderita dapat menjadi sembuh. “Pada Leptospisrosis ringan, dan antibodi kuat biasanya Leptospirosis ini tidak akan bertahan lama,” ujarnya.

Dijelaskannya, gejala klinis yang timbul pada Leptospirosis ini di stadium pertama adalah demam menggigil, sakit kepala, malaise dan muntah, konjungtivis serta kemerahan pada mata, rasa nyeri pada otot terutama otot betis dan punggung. “Gejala-gejala tersebut akan tampak antara empat hingga sembilan hari,” terang dia.

Sedangkan pada stadium kedua, biasanya telah terbentuk antibodi di dalam tubuh penderita. Gejala-gejala yang tampak pada stadium ini lebih bervariasi dibanding pada stadium pertama antara lain ikterus (kekuningan). Apabila demam dan gejala-gejala lain timbul lagi, besar kemungkinan akan terjadi meningitis. “Biasanya stadium ini terjadi antara minggu kedua dan keempat Stadium ketiga,” ujarnya.

Pada stadium yang lebih lanjut, komplikasi Leptospirosis dapat menimbulkan gejala pada ginjal,renal failure yang dapat menyebabkan kematian. Pada mata, konjungtiva yang tertutup menggambarkan fase septisemi yang erat hubungannya dengan keadaan fotobia dan konjungtiva hemorrhagic. Pada hati,  jaundice (kekuningan) yang terjadi pada hari keempat dan keenam dengan adanya pembesaran hati dan konsistensi lunak. Pada jantung, aritmia, dilatasi jantung dan kegagalan jantung yang  dapat menyebabkan kematian mendadak. Pada paru-paru,  hemorhagic pneumonitis dengan batuk darah, nyeri dada, respiratory distress dan cyanosis. Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah (vascular damage) dari saluran pernapasan, saluran pencernaan, ginjal dan saluran genitalia. Infeksi pada kehamilan menyebabkan abortus, lahir mati, prematur dan kecacatan pada bayi. “Stadium lanjut ini yang sering menimbulkan kasus kematian pada penderita,” ujarnya. Tri Sulistiyani

BAGIKAN