Menikmati Sajak Visual Lost in Destination

Menikmati Sajak Visual Lost in Destination

531
PAMERAN LUKISAN - Pengunjung melihat lukisan yang di display saat pameran  di Balai Soedjatmoko, Solo, Selasa (5/3). Joglosemar/Abdullah Azzam
PAMERAN LUKISAN – Pengunjung melihat lukisan yang di display saat pameran di Balai Soedjatmoko, Solo, Selasa (5/3). Joglosemar/Abdullah Azzam

Memasuki balai Soedjatmoko pemandangan mata dimanjakan dengan rentetan kata bahasa Perancis. Bukan sembarang kata, rangkaian kata tersebut berbentuk sajak. Jika visualisasi sajak disampaikan lewat seni pertunjukkan, kini pameran ini membungkus sajak dengan visualisasi lewat instalasi seni rupa.

Tampak puluhan bentuk yang menyerupai payung yang di gantungkan di tengah ruangan ini. Payung yang terbuat dari bahan kertas dipenuhi dengan tulisan sajak bahasa Perancis berikut arti dalam bahasa Indonesia. Jadi tak terlalu menyiksa bagi penikmatnya untuk melihat pameran ini.

Kebanyakan puisi ini bertemakan tentang percintaan, salah satunya yakni bercerita tentang hubungan seorang kekasih yang harus terpisahkan oleh jarak. Seperti puisi berjudul Semua Berada di Tanganmu jika dialihbahasakan bahasa Perancis adalah Tous Sont Dans ma Main.

Puisi percintaan ini menggambarkan bagaimana proses hidup dan gejolak yang dialami dua sejoli saat menghadapi kisah cinta terpisahkan jarak. Lain lagi dengan 2 buah botol yang di dalam botol itu terdapat puisi dengan judul Inuk Molas menceritakan kehidupan anak pantai yang jauh dengan hingar bingar keributan suasana kota.

Puisi yang disajikan dalam pameran bertajuk Lost in Destination ini tak memang biasa. Menggabungkan seni sastra lewat sajak dengan seni rupa berupa instalasi. Maklum, Lost in Destination ini merupakan karya dari komunitas  Garis (Gabungan Satra Perancis UGM dan Diskonvis ISI Jogja).

Melalui gabungan seni seperti ini, membuat karya ini tidak monoton. Penikmat tak hanya ditawari beragam deretan kata, namun beragam warna-warni yang dihadirkan lewat coretan seni rupa. Apalagi dengan tema yang cukup berat, Lost in Destination yang merujuk pada kehilangan tujuan hidup. Warna ceria, ragam sajak dan bentuk instalasi berhasil mengganggu mata.

“Jumlah karya keseluruhan berjumlah 27 puisi dan 17 seni rupa. Pameran menceritakan tentang proses hidup manusia, yang acap kali kehilangan arah tujuan hidup dan membuat bingung apa yang seharusnya dilakukan,” ucap Damar Rakhmayastri, ketua panitia kepada Joglosemar, Senin (4/3).

Damar menceritakan pameran ini merupakan kolaborasi dari mahasiswa Sastra Perancis UGM dan mahasiswa Diskomvis ISI Jogjakarta. Kelompok yang September 2012 lalu telah menggelar pameran serupa di Jogja akhir tahun lalu. “Kami hanya ingin untuk memberikan gambaran baru tentang sastra yang dikemas dengan instalasi seni,” ujarnya.

Sukses dengan pameran di Solo dan Jogja, Garis bakal mengemasnya dalam bentuk buku. Tidak hanya melibatkan mahasiswa, namun juga dosen. “Untuk proses pembuatan sendiri dirinya megaku sampai saat ini buku itu sudah jadi. Hanya belum ada penerbit yang mau di ajak bekerja sama,” akunya.

Yunanto, pengelola balai Soedjatmoko, mengapresiasi pameran ini. Pasalnya baru pertama kali pameran sastra Perancis yang dipadu dengan seni rupa digelar di tempat ini. “Terlebih lagi menggabungkan ilustrasi gambar dengan puisi itu tak mudah. Semoga ke depan pameran seperti ini akan terus ada di sini,” inginnya. Raditya Erwiyanto

BAGIKAN