JOGLOSEMAR.CO Foto Menjelang Kemarau, Warga Pesisir Siapkan Bak Penampung

Menjelang Kemarau, Warga Pesisir Siapkan Bak Penampung

364
BAGIKAN

Pasir dan Batu Gratis, Siapkan Rp 1,5 Juta untuk Beli Air.-

MENCARI PASIR-Sejumlah warga tengah mencari batu dan pasir sebagai bahan fondasi bak penampung di tepi Pantai Klothok di Desa/Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, Minggu (24/3). Joglosemar | Eko Sudarsono
MENCARI PASIR-Sejumlah warga tengah mencari batu dan pasir sebagai bahan fondasi bak penampung di tepi Pantai Klothok di Desa/Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, Minggu (24/3). Joglosemar | Eko Sudarsono

Hari masih pagi, ketika Ismanto (31) bersama sejumlah warga berkumpul di tepi Pantai Klothok di wilayah Desa/Kecamatan Paranggupito, Minggu (24/3). Awalnya, Joglosemar menduga mereka adalah para nelayan yang akan ngrendhet mencari udang lobster. Setelah bertanya, ternyata mereka hendak mengambil batu dan pasir laut. Di tengah perbincangan yang diawali wedangan dan makan jadah goreng itu, sempat terlontar pula tentang bantuan air bersih.

Ismanto mengatakan, ia mencari pasir dan batu sebagai bahan membuat fondasi bak penampung air. Maklum, saat musim kemarau, ia dan warga Dusun Kranding RT 2 RW IV lainnya selalu krisis air bersih. “Bak penampungan air, di sini sangat berharga. Rumah rusak pun tidak mengapa, asal ada bak penampung. Rencana akan membuat bak yang muat untuk dua tangki air ukuran 6.000 liter. Repot kalau tidak punya bak,” kata Ismanto.

Warga lainnya, Sularto (40) mengatakan akan membuat bak berukuran sekitar 4×3 meter dengan kedalaman sekitar setengah meter. Meski batu dan pasir laut dipakai, tetap harus menggunakan pasir Merapi dan tentunya semen.

“Biaya membuat satu bak, kalau dihitung semua Rp 6 juta lebih. Tapi ongkos untuk tenaga, makan, serta angkut kan tidak ada karena semua dikerjakan sambatan. Juga terbantu batu dan pasir laut. Paling habis sekitar Rp 4 juta. Tanpa ada bayaran untuk upah. Tidak semua warga bisa buat bak seperti ini,” katanya.

Salah satu yang belum memiliki bak penampung adalah Sukatno (53), juga warga Kranding. Bagi warga yang belum punya, memilih membuat semacam kolam berukuran 4×2 meter dengan dalam sekitar setengah meter. Lalu, lubang itu ditutup terpal, mirip kolam lele. “Nanti setiap tahun ganti terpal. Tapi hanya cukup untuk menampung air satu tangki,” terang Sukatno.

Namun tak hanya membuat bak penampung, warga pun kini harus menyiapkan biaya Rp 1,5 juta untuk membeli air tangki selama kemarau. Satin (46), warga Dusun Karangkulon RT 4 RW IV mengatakan selama kemarau bagi keluarga yang beranggotakan lebih dari tiga orang, rata-rata habis enam sampai tujuh tangki. “Dengan harga per tangki beragam. Mulai Rp 130.000 hingga Rp 150.000 per tangki,” jelas Satin.

Tak jarang pula, warga setidaknya menjual dua ekor kambing untuk membeli air selama kemarau. “Biasanya dua kambing tiap kemarau. Sedangkan untuk pakan ternak sapi, tahun lalu saya beli damen satu rit Rp 500.000,” jelas dia.

Sularto menambahkan, untuk mandi, air satu ember dipakai berurutan. “Yang punya bayi, dimandikan dulu. Air sisa mandi dipakai mandi orangtua. Setelah itu bisa dipakai untuk menyiram tanaman atau langsung dibuang. Pasti seperti itu,” tandasnya.

Eko Sudarsono