Meraba Konflik Perbatasan

Meraba Konflik Perbatasan

1119

Konflik di perbatasan yang biasanya berakar dari ketidakpedulian pemerinatah menimbulkan beragam ekses.

KETOPRAK MAHASISWA - Salah satu adegan dalam pementasan ketoprak mahasiswa berjudul "Klawu Ing Lemah Patalan" di Teater Arena, TBJT, Solo, Senin (25/3) malam. Joglosemar/Abdullah Azzam
KETOPRAK MAHASISWA – Salah satu adegan dalam pementasan ketoprak mahasiswa berjudul “Klawu Ing Lemah Patalan” di Teater Arena, TBJT, Solo, Senin (25/3) malam. Joglosemar/Abdullah Azzam

Tinggallah satu keluarga di daerah pinggiran Kademangan Patalan, perbatasan antara Negara Mataram dan Bumi Perdikan Kemangiran. Sariban, petani berusia tua pernah menjadi prajurit Patalan, memiliki tiga orang anak bernama  Basri, Cahyatun dan Kinasih. Sementara sang ibu telah meninggal saat Sariban  ikut dalam pertempuran di Pati. Lantaran menganggap kehidupannya tak diperhatikan, Kemangiran, Basri memilih menjadi prajurit Mataram.

Suatu hari Demang Patalan mendatangi rumah Sariban. Dalam kunjunganya. Demang Patalan meminta kerjasama Sariban untuk membantu Prajurit Mangiran dalam aksi penjebakan prajurit Mataram yang sering meminta pajak di wilayah Kemangiran. Karena merasa memiliki tanggung jawab membela tanah kelahirannya Sariban menyanggupi permintaan Demang Patalan.

Aksi jebakan untuk Prajurit Mataram pun berhasil. Namun, insiden jebakan membuat Basri dipecat dari prajurit Mataram karena dianggap ikut terlibat dalam serangan itu. Kepulangan Basri memunculkan ketegangan antara ayah dan anak ini. Konflik keluarga terjadi di antara Basri dan Sariban. Mereka berdua memiliki argumen masing-masing yang mereka anggap benar. Cerita pun berakhir dengan dibunuhnya Basri dan keluarganya oleh prajurit Mataram.

Pentas kethoprak dikemas dengan baik oleh Kelompok Kerja Teater Tradisional Wiswakarman Fakultas Sastra dan Sseni Rupa UNS di Teater Arena TBJT, Senin (25/3) malam. Lakon Klawu ing Lemah Patalan ini sengaja disuguhkan untuk melihat kembali sejauh apa konflik masyarakat perbatasan.

Alfath Noke Nugroho, Sutradara sekaligus penulis naskah , mengakui memang ingin mengajak masyarakat memahami persoalan di daerah perbatasan.  “Kami memang sengaja tidak mengusung ketoprak dengan setting istana sentris. Karena persoalan di perbatasan adalah bagian dari kita sekarang ini. Persoalan di perbatasan bukan hanya simpel terhenti pada masalah ekonomi dan keterbatasan infrastruktur,” jelasnya.

Konflik di perbatasan yang biasanya berakar dari ketidakpedulian pemerinatah menimbulkan beragam ekses.  “Pada kenyataannya menimbulkan konflik keluarga hingga konflik politik dua negara, “ ucapnya. Bambang Prihantoro

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR