JOGLOSEMAR.CO Hiburan Selebritis Mural Muka Tembok oleh Koper-K

Mural Muka Tembok oleh Koper-K

689
PAMERAN MUKA TEMBOK - Pengunjung melihat karya yang didisplay saat pameran seni rupa Muka Tembok di Kepatihan Art Space, Solo, Jum'at (8/3).Pameran dengan teknik menempel karya ke tembok menggunakan tepung kanji sebagai perekatnya tersebut berisi kritik terhadap kehidupan sosial dan pemerintahan di Indonesia saat ini. Joglosemar/Abdullah Azzam
PAMERAN MUKA TEMBOK – Pengunjung melihat karya yang didisplay saat pameran seni rupa Muka Tembok di Kepatihan Art Space, Solo, Jum’at (8/3).Pameran dengan teknik menempel karya ke tembok menggunakan tepung kanji sebagai perekatnya tersebut berisi kritik terhadap kehidupan sosial dan pemerintahan di Indonesia saat ini. Joglosemar/Abdullah Azzam

Seluruh ruangan Kepatihan Art Space di penuhi dengan berbagai gambar yang tergambar jelas di dinding tembok. Sekitar 15 karya terlihat jelas di sana. Rentetan gambar-gambar ini terlihat seperti mural yang mengusung beragam tema.

Ada satu gambar yang mengganggu mata milik Abdul Rouf. Coretan bergambar tikus mengelilingi gedung – gedung yang menjulang tinggi dan gambar Tugu Monas ada juga terpampang. Lukisan ingin menggambarkan para koruptor berdasi putih yang menggerogoti uang negara

Terlihat juga gambar laki-laki yang berdiri di atas awan. Secara logika itu tak mungkin dilakukan. Namun lewat karya ini sang perupa ingin menggambarkan bagaimana cita – cita seseorang yang terkadang menggebu –gebu tanpa ada hasil dan kerja kerasnya.

Lewat karya seni rupa bertajuk Muka Tembok inilah 15 seniman yang tergabung dalam Koper – K (Kelompok Perupa Kepatihan) menggelar pameran di Kepatihan Art Space, Rabu – Selasa (6-12/3). Kebanyakan anggota dari Koper – K sendiri merupakan mahasiswa dari ISI Solo dan UNS Solo yang gemar membuat karya seni rupa.

Ketua Koper-K, Dimas Bagus Maulana mengatakan bahwa kegiatan pameran sudah kedua kali diadakan. Pameran perdana digelar Jogja akhir tahun kemarin, Koper – K mengusung konsep visualisasi. Namun untuk pameran dengan memanfaatkan sarana tembok baru pertama kali ini.

“Selain kritik sosial melalui karya ini teman – teman juga mengungkapkan siapa jati dirinya yang sebenarnya. Pasalnya masih jarang perupa yang memanfaatkan dinding sebagai suatu tempat yang bisa menghasilkan karya seni,” ujarnya saat berbincang dengan Joglosemar, Jumat (8/3).

Dimas Dhempul sapaan akrab Dimas Bagus Maulana mengaku persiapan untuk memamerkan karya seni rupa ini terbilang sangat singkat, sekitar satu minggu. “Untuk bahan dasar pembuatan sendiri, ada cat air dan ada juga yang memakai pilox. Menurut rencana ke depan kami juga akan mengadakan pameran dengan konsep yang sama di luar kota,” inginnya. Raditya Erwiyanto

BAGIKAN