Museum Keris Tak Hancurkan Gedung Eks Dispendukcapil

Museum Keris Tak Hancurkan Gedung Eks Dispendukcapil

356
 Mufti Raharjo Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo.
Mufti Raharjo
Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo.

LAWEYAN-Pembangunan Museum Keris, di bekas lahan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mangunjayan akan mempertahankan bentuk gedung eks Dispendukcapil. Alasannya, gedung itu termasuk Benda Cagar Budaya (BCB).

Kepala Bidang, Pelestarian Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya, Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo, Mufti Raharjo, mengatakan, pembangunan fisik Museum Keris dimulai Juni atau Juli mendatang. Lokasinya,  di atas lahan belakang Selatan Stadion Sriwedari. Meliputi eks RSJ Mangunjayan, Dispendukcapil, Sekretariat Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari), hingga Mess Persis Solo.

”Tapi, nanti kita tetap mempertahankan bentuk gedung eks Dispendukcapil. Artinya, tidak dibongkar dan dibiarkan utuh selama proyek pembangunan Museum Keris berlangsung,” ujarnya, kepada Joglosemar, Selasa (26/3).

Kepastian mempertahankan gedung bekas Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) itu telah didapatkannya dari hasil kajian bersama tokoh masyarakat setempat. Karena termasuk BCB, dia berujar, keberadaan gedung eks Dispendukcapil tersebut akan dilestarikan.

Namun, lanjut dia, bisa juga gedung itu akan dimanfaatkan untuk mendukung keberadaan Museum Keris. Kata dia, untuk saat ini Detail Enginerring Detail (DED) Museum Keris telah disusun. “Kontraktornya nanti berasal dari Kota Semarang,” imbuh dia.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, museum tersebut akan dibangun menjulang setinggi lima lantai hingga enam lantai. Untuk pendirian bangunannya ditargetkan kelar pada akhir tahun ini. Sehingga, Museum Keris mampu menjadi ikon baru bagi Kota Bengawan supaya lebih dikenal masyarakat luas.

”Karena itulah, aktivitas pembangunan Museum Keris dibiayai dari APBN senilai Rp 10 miliar. Kami berharap, museum itu bisa menjadi ikon baru bagi Solo dalam hal melestarikan benda seni budaya lokal di dalam satu bangunan,” bebernya.

Mengenai keberadaan penghuni di Orari maupun Sekretariat Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Surakarta, dia menegaskan, sudah diminta pindah ke lokasi lain. Alternatif lokasinya, masih dikaji oleh Pemkot Solo. “Saat ini, mereka bangunan di sana sudah dikosongkan,” jelasnya.

Anggota KPCBN, HM Sungkar, menilai bangunan eks kantor Dispendukcapil memang telah berusia lebih dari 50 tahun. Gedung itu, diperkirakan peninggalan keluarga Paku Buwono VIII atau IX.  ”Sepengetahuan saya, gedung bekas Dispendukcapil itu salah satu peninggalan Paku Buwono VIII atau IX. Tapi, itu harus ditelusuri lebih dalam lagi supaya nilai sejarahnya lebih kuat dan layak dilestarikan,” ujarnya.

Sebelumnya, Widdi Srihanto, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo, sempat mengungkapkan, tahap pembangunan museum tidak merusak bangunan utama BCB. Diperkirakan, di lokasi eks Mangunjayan seluas satu  hektare terdapat sebuah bangunan yang diduga BCB.

Terakhir kalinya, lahan Mangunjayan sempat digunakan sebagai kantor Dispendukcapil, Orari, Hipmi dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Pembongkaran bangunan yang tidak termasuk BCB akan dikerjakan kurang dari dua hingga tiga bulan ke depan.

Fariz Fardianto

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR