Nasib Mbah Jiwo, Duta Keraton Usai Ditolong PMI Solo

Nasib Mbah Jiwo, Duta Keraton Usai Ditolong PMI Solo

383

Terbaring di Rumah Sakit, Masih Bisa Nyinden

Menjenguk Mbah Jiwo
Menjenguk Mbah Jiwo

Senyum lebar dipamerkan perempuan yang tenar sebagai sinden Keraton Surakarta di era 1960-an. Sujirah, nama perempuan yang beberapa hari ini jadi sorotan publik, karena merana di hari tuanya itu, kini dirawat di RS Dr Moewardi. Berkat bantuan PMI dan Komunitas Public Relation di Solo, Mbah Jiwo—sapaan akrab Sujirah—kondisinya, berangsur membaik.

Bahkan, saat Joglosemar menjenguk, Mbah Jiwo sanggup menyinden, meski dengan kondisi tubuh terbaring. Di ruang Anggrek II, Mbah Jiwo menyanyikan beberapa bait lagu pangkur macapat. Kondisinya membaik, setelah perempuan berusia 85 tahun itu seharian dirawat dokter.

Rasa gatal yang dideritanya selama ini, katanya, tidak separah sebelumnya. Meski tanpa ditemani kerabatnya, Mbah Jiwo mengaku senang, ada yang mau merawatnya di usia senja itu. ”Kula seneng teng mriki, sakniki rasane sampun penak. Maeme pun sampun katah. (Saya senang di sini. Sekarang rasanya sudah lebih baik. Makannya pun sudah banyak),” tutur Mbah Jiwo, Selasa (5/3).

Dokter kulit dan kelamin yang menangani Mbah Jiwo, Muhammad Eko Irianto, mengatakan,  meski saat ini kulit Mbah Jiwo sekilas terlihat melepuh seperti luka bakar, namun kondisinya sudah mulai membaik. ”Jadi nanti setelah kulit lepuhnya lepas kemudian menjadi lecet seperti luka biasa. Setelah itu, kulit kering yang pada akhirnya sembuh normal seperti semula,” terangnya.

Baca Juga :  Badko TPQ dan Pemkot Gelar Seleksi Pengajar

Menurutnya, penyakit lain yang diidap Mbah Jiwo seperti anemia juga jadi fokus tim medis. Karena asupan protein Mbah Jiwo selama ini kurang. ”Dengan anemia itu, kami sudah koordinasi dengan dokter penyakit dalam untuk penyembuhan Mbah Jiwo,” ujarnya. ”Saat ini kami masih melakukan penyembuhan secara keseluruhan. Nanti ketika kondisi tubuhnya sudah kembali normal, tentunya sudah dibolehkan dibawa pulang.”

Humas PMI Solo, Sumartono Hadinoto, mengatakan saat ini kondisi Mbah Jiwo sudah berangsur stabil. “Kemarin dibawa ke Rumah Sakit Moewardi. Tapi waktu kami bawa ke sana kamarnya masih penuh jadi baru sekitar pukul 20.00 WIB, beliau baru bisa dapat kamar,” katanya.

Sebenarnya, kata Sumartono, pihak rumah sakit sempat menolak menerima Mbah Jiwo. Alasannya, tidak ada yang menunggui. Oleh karena itu, pihaknya mengerahkan relawan dari PMI untuk menjaga Mbah Jiwo sampai sembuh. “Dari relawan PMI bergantian menjaga Mbah Jiwo. Tiap dua jam mereka akan bergantian menjaga Mbah Jiwo,” ujarnya.

Baca Juga :  Rutan Tahanan Pamerkan Hasil Karya Warga Binaan

Untuk biaya pengobatan, kata Sumartono, sepenuhnya ditanggung Dompet Kemanusiaan PMI Solo. “Jika memang tidak cukup, nanti akan kita carikan bantuan,” katanya. Sementara itu, Pengageng Sasana Wandawa Keraton Surakarta, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger mengakui Mbah Jiwo sebagai mantan Sinden dan penari Bedhaya di keraton. Meski demikian, Mbah Jiwo tidak mendapatkan santunan dana pensiun, karena tak bekerja lagi di Keraton. “Ya dulunya dia sinden dan abdi dalem di keraton, tapi sekarang sudah pensiun. Kalau soal dana pensiun memang tidak ada karena yang kami utamakan adalah abdi dalem yang masih bekerja di lingkungan keraton,” ucapnya.

Meski demikian, pihaknya akan tetap memberikan perhatian kepada Mbah Jiwo. Hanya saja, perhatian tersebut berasal dari uang pribadi kalangan kerabat keraton dan sentana dalem. “Bentuknya ya patungan pakai uang pribadi. Tapi terus terang secara kelembagaan memang tidak ada bantuan,” katanya. Ronald Seger Prabowo

BAGIKAN