JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Pederita Diabetes Harus Hindari Luka

Pederita Diabetes Harus Hindari Luka

679
Ilustrasi
Ilustrasi

Penderita diabetes, memang harus menghindari terjadinya luka pada tubuh. Pasalnya, luka sekecil apapun bisa berakibat fatal, bahkan bisa berujung tindakan amputasi. Tentunya hal itu sangat tidak diinginkan. Selain faktor biaya, dalam beberapa kasus, meskipun sudah di operasi tapi tetap saja luka itu bisa muncul menjalar ke bagian tubuh lain. Sehingga banyak penderita Diabetes mellitus yang merasa sangat khawatir jika mengalami luka. Penderita diabetes biasanya mengalami kendala penyembuhan yang lambat.

Dokter Spesialis Bedah Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta, Dr Utama, Sp.B menjelaskan, diabetes mellitus adalah suatu kondisi di mana tubuh tidak dapat mengendalikan gula darah. Biasanya tubuh yang memiliki sistem kekebalan yang baik bisa bertempur melawan mikroba. Sel darah putih adalah pejuang utama untuk menjaga tubuh yang dilindungi. Penderita diabetes mengalami gangguan pada sistem kekebalan tubuhnya. “Selain itu, pembuluh darah yang rusak karena gula darah berlebihan juga menjadi kendala tersendiri bagi penderita diabetes,” katanya.

Dijelaskannya, diabetes melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak mampu melawan organisme menyerang pada luka. Gula darah tinggi membuat darah lebih menguntungkan bagi bakteri dan mikroorganisme untuk tumbuh. Akibatnya, jika penderita diabetes jika mengalami luka akan sulit sembuh. Pada beberapa kasus luka tidak bisa disembuhkan.

Oleh karena itu, penderita Diabetes Mellitus harus menghindari luka terutama luka terbuka. Luka pada penderita Diabetes Mellitus ini biasanya akan menjadi Ulkus Diabetikus yakni luka pada permukaan kulit atau selaput lendir yang terjadi akibat komplikasi penyakit Diabetes Mellitus.

Dikatakannya, luka diabetes harus ditangani dengan cepat dan tepat. Penanganan yang cepat mencegah berkembangnya luka atau berubah menjadi luka gangren. Luka Gangren adalah luka yang sudah membusuk dan bisa melebar, ditandai dengan jaringan yang mati berwarna kehitaman dan membau karena disertai pembusukan oleh bakteri. “Kalau sudah begini, maka memerlukan penanganan khusus,” jelasnya.

Gangren biasanya mempengaruhi penderita diabetes dengan gula darah tinggi dan tak terkendali. Gula darah tinggi bisa mengakibatkan kerusakan saraf kaki yang bisa menyebabkan neuropati perifer dan juga mengerasnya dinding-dinding arteri, sehingga pasokan darah terhalang.

Dia menjelaskan, Ulkus atau luka terbuka ini merupakan kematian jaringan yang luas dan disertai invasive kuman saprofit. Kuman saprofit inilah yang menyebabkan ulkus berbau. Ulkus Diabetikum ini terbagi hingga mulai dari grade 0 hingga grade 5, masing-masing memiliki tingkat keparahan tersendiri. “Grade 0 tidak ada luka, sedangkan grade 5 adalah kondisi paling parah,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, pada grade 0 tidak ada luka pada penderita diabetes,  sedangkan grade 1 penderita hanya merasakan sakit sampai pada permukaan kulit. Pada grade 2 kerusakan kulit yang terjadi akibat luka mencapai otot dan tulang, sedangkan pada grade 3 sudah ada abses di luka itu. Sedangkan pada grade 4 terkaji gangrene pada kaki bagian distal, pada grade j gangrene terjadi pada seluruh kaki dan tungkak bawah distal.

Dia menjelaskan, salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien diabetes mellitus adalah masalah kaki. Misalnya luka pada kaki yang tidak kunjung sembuh, infeksi bakteri atau jamur, dan yang paling parah adalah pembusukan jaringan sehingga perlu dilakukan amputasi. “Ulkus timbul pada daerah yang sering mendapatkan tekanan atau trauma pada daerah telapak kaki,” jelasnya.

Dikatakannya, Diabetes Mellitus dengan karakteristik hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dapat mengakibatkan berbagai macam komplikasi berupa komplikasi akut (yang terjadi secara mendadak) dan komplikasi kronis (yang terjadi secara menahun). “Komplikasi Diabetes Melitus ini ada dua komplikasi, yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronik,” ujarnya.

Luka pada penderita diabetes atau ulkus diabetic ini bisa diobati obat antibiotika. Ataupun dengan pengompresan ulkus dengan larutan klorida atau larutan antiseptic ringan. “Luka pada penderita diabetes bisa dibersihkan dengan rivanol dan larutan kalium permanganate 1 : 500 mg dan penutupan ulkus bisa dengan kasa steril,” ujarnya. Tetapi pada kasus DM yang sudah parah terkadang perlu dilakukan amputasi untuk mencegah penyebaran luka.

Penanganan ulkus diabetikum ini sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan edukasi tentang alas kaki khusus dan pelengkap alas kaki yang dianjurkan. Ada juga sepatu atau sandal yang dibuat secara khusus untuk dapat mengurangi tekanan. “Sebaiknya, penderita DM menggunakan alas kaki khusus, untuk mencegah terjadinya luka di kaki. Karena kaki ini rawan terjadi  tekanan dan mudah timbul ulkus,” ujarnya.

Selain itu, jika sudah timbul ulkus dan sulit untuk diobati, biasanya akan dilakukan debridement. Debridement adalah suatu proses usaha menghilangkan jaringan nekrotik atau jaringan nonvital dan jaringan yang terkontaminasi dari luka dengan mempertahankan secara maksimal anatomi yang penting. “Debridement dilakukan pada jaringan nekrotik atau jaringan yang infeksius. Kemudian dilakukan perawatan lokal luka dan pengurangan beban,” jelasnya.

Tri Sulistiyani

BAGIKAN