JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Pekan Depan, Sosialisasi Pertokoan Saripetojo

Pekan Depan, Sosialisasi Pertokoan Saripetojo

285
BAGIKAN
Proyek Hotel Grand Saripetojo
Proyek Hotel Grand Saripetojo

LAWEYAN-Rencana pendirian pusat perbelanjaan modern di Grand Hotel Satipetojo, disosialisasikan kepada para Pedagang Kaki Lima (PKL), pekan depan. Ada sekitar 35 pedagang yang mangkal di kawasan bekas pabrik es itu.

Rencana sosialisasi itu disampaikan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Solo, Subagiyo, Senin (12/3). Subagiyo mengatakan, ada  46 tempat usaha yang berada di dekat Saripetojo. Namun, dua unit di antaranya mangkrak, dan sembilan lainnya sudah kosong.

Sehingga, praktis, hingga saat ini hanya 35 pedagang yang aktif berjualan di kawasan itu saban harinya. ”Jadi, pada Minggu depan kita akan bertemu dengan mereka yang berjumlah 35 PKL ini untuk menyosialisasikan rencana pembangunan pusat perbelanjaan modern di lantai tiga Saripetojo,” katanya.

Ia mengatakan, keberadaan ke-35 PKL ini sebelumnya telah didata petugas penataan PKL dari DPP. Kata Subagiyo, beberapa PKL itu, di antaranya ada sekitar 11 pedagang buah, dua pedagang jasa jual beli handphone, sembilan pemilik rumah makan, dan dua usaha perbengkelan.

Kemudian, dua pedagang kelontong, satu pedagang gerobak, satu pedagang tanaman, dua penjual jasa peralatan kecantikan dan satu bakul Jamu. ”Nanti, kita akan mencoba mengomunikasikan kepada masyarakat sekitar khususnya seluruh PKL yang kerap mangkal di sana,” ucapnya.

Rencananya, para pedagang itu akan dasukkan dalam pusat perbelanjaan Saripetojo. Rencana itu, ia anggap sebagai solusi agar mereka tidak berjualan di ruas jalan. Mengutip Perda 5/2011 tentang Penataan dan Pembinaan Pusat dan Toko Modern, kata Subagiyo, para pedagang itu bisa ditampung di pusat perbelanjaan terdekat, dalam hal ini pertokoan Saripetojo.

Kendati demikian, pendirian pusat perbelanjaan modern itu, harus mempertimbangkan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), Rencana Tata Ruang Wilayah, ketentuan zona barang serta perkembangan ekonomi sekitar, khususnya pelaku usaha mikro, perkoperasian dan pasar tradisional. ”Yang penting, jenis dagangannya tidak boleh sama dengan yang ada di Saripetojo,” ujarnya. Fariz Fardianto