JOGLOSEMAR.CO Daerah Jogja Pembangunan Asrama Etnis Diperketat

Pembangunan Asrama Etnis Diperketat

416
BAGIKAN
Sri Sultan HB X  Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
Sri Sultan HB X
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

SLEMAN– Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X menegaskan beberapa konflik antar etnik yang terjadi di wilayah ini dalam beberapa waktu terakhir telah mengusik suasana damai yang telah lama tumbuh. Sri Sultan menyatakan pihaknya akan membatasi pendirian asrama mahasiswa dari luar daerah.

“Yogyakarta kini mengalami kemunduran. Selama 40 tahun, di wilayah ini tidak pernah ada kasus perkelahian antaretnis,” kata Sultan pada Saresehan Penanganan Konflik Sosial, di Sleman, Rabu (27/3).

Menurut dia, masing-masing kepala daerah diminta ikut bertanggung jawab atas konflik yang terjadi beberapa hari lalu. Ia mengharapkan Yogyakarta tetap aman dan nyaman bagi siapa pun penduduk yang ingin menjadi masyarakat provinsi ini. “Pendatang agar jadi warga yang baik. Tidak perlu jadi orang Jogja agar bisa diterima di sini. Masyarakat sini tidak mempersoalkan latar belakang daerah, sepanjang bisa membaur, no problem,” katanya.

Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan siap melaksanakan instruksi tersebut dengan menindaklanjuti secara teknis. “Untuk asrama etnis yang sudah ada, Pemkab akan terus memantau. Diharapkan mereka bisa menjaga kondusivitas daerah,” ungkap Sri Purnomo.

Guna meminimalisasi konflik antaretnis, Sri Sultan akan membatasi pendirian asrama mahasiswa dari luar daerah. Menurut dia, selama ini kecenderungan mereka yang tinggal di asrama hanya bergaul dengan teman se asrama atau sesama etnis. “Pendirian asrama akan dibatasi, izin dipersulit karena semakin banyak asrama justru jadi perkumpulan etnis yang rawan memicu konflik,” ucap Sultan.

Sultan mencontohkan sejumlah konflik yang muncul seperti di Babarsari, Depok, Sleman juga dipicu solidaritas etnis. “Akan lebih baik bila mahasiswa luar daerah tinggal di indekost yang ada di masyarakat sehingga bisa berbaur dengan warga setempat dan etnis lain,” katanya.

Raja keraton tersebut juga mengingatkan komitmen para pendatang di Yogyakarta untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan di kota gudeg itu. “Mahasiswa dari 10 perguruan tinggi di Yogyakarta telah membuat kesepakatan, jika melakukan tindak kekerasan di Yogyakarta, maka mereka harus keluar dari Yogyakarta. Itu janji mereka,” tegasnya.

Antara Okezone