JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Pemfigoid Bulosa, Lepuh Kulit Pada Usia Senja

Pemfigoid Bulosa, Lepuh Kulit Pada Usia Senja

977
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

Mantan pesinden Keraton Solo, Sudjirah, 80 tahun, alias Mbah Jiwo saat ini tengah terbaring di rumah sakit. Wanita tua yang bersuara merdu tersebut harus mendapatkan perawatan karena kulit tuanya mengalami lepuh pada beberapa bagian. Lepuh pada kulitnya itu sebagian sudah pecah dan menimbulkan luka lecet di kulit keriputnya itu. Penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh sinden yang suaranya sempat dipuji oleh Ir Soekarno ini?

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUD Moewardi Surakarta, Dr. Muh Eko Irawan, SpKK menjelaskan, penyakit yang diderita oleh Mbah Jiwo adalah penyakit lepuh yang dalam istilah kedokteran disebut Pemfigoid Bulosa. Golongan kulit lepuh ini bermacam-macam, salah satunya adalah Pemfigoid Bulosa yang masuk dalam kategori penyakit kulit Autoimun Blistering Deseases. “Mbah jiwo menderita sejenis penyakit kulit lepuh. Ini macamnya banyak sekali, salah satunya Pemfigoid Bulosa yang masuk dalam jenis Autoimun Blistering Deseases,” katanya.

Pemfigoid Bulosa ini terjadi karena adanya gangguan kekebalan tubuh. Menurut Dr Eko, pada penyakit ini kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang tubuh sendiri. Penyakit ini bersifat genetis dan sudah dibawa masing-masing penderita. “Pemfigoid bulosa adalah penyakit autoimun kronik yang ditandai oleh adanya bula subepidermal yang besar dan berdinding tegang di atas kulit yang eritematosa,” jelasnya.

Dia menjelaskan, pada penyakit ini, antibodi yang terganggu adalah pada perbatasan dermis dan epidermis (Basal Membrane Zone). Keadaan umum pada Pemfigoid Bulosa baik, perjalanan penyakit biasanya ringan, sering disertai rasa gatal. Pemfigoid bulosa menunjukkan cenderung  menimpa di masa-masa tua, dengan menunjukkan kejadian pada usia 70an tahun. “Penyakit ini umumnya muncul pada usia lanjut antara usia 60an ataun 70an tahun,” jelasnya.

Penyakit ini memang penyebabnya karena faktor genetis. Tetapi ada beberapa hal yang bisa memicu munculnya penyakit itu. Pemicu Pemfigoid Bulosa antara lain, karena dipicu obat-obatan yang dikonsumsi. “Pemicunya karena mengonsumsi obat tertentu. Tetapi bisa saja muncul secara tiba-tiba tanpa sebab khusus pada usia yang sudah lanjut,” ujarnya.

Penyakit ini hanya muncul ketika penderita sudah berusia lanjut, dan tidak bisa diketahui tanda atau gejalanya di usia muda.  Penyakit ini biasanya diawali dengan biduran muncul seperti eksim dan gatal-gatal. Tidak ada screening khusus yang bisa digunakan mendeteksi penyakit ini. Penyakit ini muncul dengan tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda khusus.

Pada Pemfigoid Bulosa ini lepuh yang terjadi berupa lepuh tegang. Lesi-lesi khas penyakit yang sudah terbentuk sering menunjukkan lepuh utuh yang muncul di atas kulit normal atau kulit eritematosa. Diameternya bisa mencapai beberapa sentimeter dan lazimnya berbentuk kubah. “Setiap bagian tubuh bisa terkena, tetapi lepuh paling umum terdapat di sekitar perut bawah,” paparnya.

Dia menjelaskan, Pemfigoid Bulosa pada sebagian penderita bisa sembuh dengan sendirinya. Tetapi pada kebanyakan akan kambuh lagi, karena sudah ada autoantibody yang akan sewaktu-waktu siap menyerang kulit. “ Autoimun ini tetap ada meski penyakit sembuh, suatu saat akan bisa muncul kembali,” tuturnya.

Penyakit ini sebenarnya tidak mengancam jiwa, tetapi jika terjadi komplikasi bisa saja mengakibatkan kematian kepada penderitanya. Menurut Dokter Eko, jika lepuh yang pada kulit penderita Pemfigoid Bulosa ini pecah, maka akan menimbulkan luka lecet. Luka terbuka ini akan berisiko terkena infeksi. “Kalau lepuh pecah maka akan ada bagian kulit yang terbuka, maka akan berisiko terkena infeksi,” ujarnya.

Selain itu, jika penyakit ini tidak segera tertangani maka lepuh akan terjadi di seluruh tubuh. Jika lepuh pecah, maka akan banyak bagian kulit yang terbuka. Bagian kulit yang terbuka ini, menyebabkan komponen cairan tubuh baik elektrolit maupun komponen air banyak yang hilang. Kondisi ini bisa menimbulkan dehidrasi yang pada akhirnya mengganggu organ lain yang bisa menyebabkan kematian. “Kalau lepuh di seluruh tubuh tidak segera tertangani akibatnya bisa fatal,”ujarnya. Tri Sulistiyani