JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Pemutihan Gigi, Bukan Tanpa Resiko

Pemutihan Gigi, Bukan Tanpa Resiko

3805
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

Gigi adalah bagian yang penting dari tubuh kita. Selain berfungsi dalam rangkaian pencernaan makanan, gigi juga berfungsi menunjang penampilan. Setiap orang tentunya menginginkan gigi yang putih cemerlang.  Dengan gigi putih yang cemerlang seseorang akan lebih percaya diri. Diapun tidak akan enggan tersenyum dan memamerkan sebaris giginya yang putih itu. Berbagai upaya untuk memutihkan gigi banyak dilakukan. Mulai dari pemakaian pasta gigi yang mengandung pemutih hingga melakukan tooth bleaching atau whitening ke dokter gigi. Bleaching gigi memang membuat kita gigi putih dalam waktu yang singkat. Tetapi putihnya gigi dengan tooth bleaching ini ternyata memiliki resiko tersendiri.

Dokter Gigi Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta, Drg Tri Iswati menjelaskan, bleaching gigi tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada sejumlah persyaratan sebelum seseorang melakukan tooth bleaching ini. Tooth Bleaching atau pemutihan gigi memang akan membuat gigi tampak lebih cerah dari sebelumnya. Tetapi, sebelum dilakukan pemutihan gigi harus dipastikan gigi dalam keadaan sehat. “Metode whitening ini memang membuat tampilan gigi menjadi beberapa derajat lebih cerah dari biasanya,” katanya.

Tetapi, menurut Iswati, sebelum dilakukan whitening gigi dan gusi harus benar-benar dalam keadaan sehat. Pada saat melakukan whitening gigi, gigi tidak boleh dalam keadaan berlubang, dan tidak boleh ada sisa-sisa akar gigi. Selain itu, pada saat bleaching juga tidak diperbolehkan ada karang gigi dan tidak boleh pula ada peradangan pada gigi. “Sebelum di-bleaching, masalah-masalah itu harus dihilangkan terlebih dahulu. Begitupula kalau ingin gigi dikawat, sebaiknya dikawat dahulu sebelum di-bleaching,” katanya.

Dijelaskan Iswati, tooth bleaching ini ada dua macam yakni office bleaching, yakni pemutihan gigi yang dilakukan di dokter gigi dan home bleaching. Kedua metode ini bisa dilakukan untuk memutihkan gigi. Selain derajat keputihan gigi yang dihasilkan yang berbeda, bahan serta mekanisme pemutihan juga berbeda. “Pemutihan gigi yang office itu dilakukan oleh dokter gigi, sedangkan yang home bleaching dilakukan sendiri oleh pasien di rumah,” katanya. Baik pada office bleaching maupun home bleaching, keduanya menggunakan bahan pemutih yang sama yakni hydrogen peroksida, tetapi dengan kadar yang berbeda.

Dikatakan Iswati, whitening gigi menggunakan berbagai teknik. Salah satunya yang digunakan di office bleaching adalah teknik laser. Teknik ini hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam, dan gigi akan tampak lebih putih 10 hingga 15 derajat. Kecerahan gigi dengan teknik ini akan awet selama dua tahun. “Bahan yang digunakan untuk memutihkan adalah hydrogen peroksida dengan kadar 35 persen,” katanya.

Dengan teknik laser ini, bisanya tidak semua gigi yang di-bleaching, hanya gigi-gigi yang ada digaris senyum saja yang dilakukan bleaching. Pada teknik ini, sebelum dilakukan bleaching jika masih ada karang gigi maka harus dibersihkan lebih dahulu. Setelah itu, dipasangkan alat atau bahan pelindung gusi (gum protector) untuk mencegah gusi terkena bahan pemutih. “Kemudian pada permukaan gigi dipasangkan bahan pemutih dan kemudian diaktivasi dengan sinar lasser,” jelasnya.

Teknik whitening gigi berikutnya adalah dengan gel yang mengandung hydrogen peroksida dengan kadar 10 hingga 20 persen. Teknik ini biasanya digunakan pada home bleaching. Dokter gigi akan membekali pasien dengan alat, bahan dan cara pemutihan gigi untuk dilakukan di rumah. Aplikasi gel ini membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan jam per hari dan harus dilakukan selama lima hingga tujuh hari. “Biasanya dipakai menjelang tidur, dan tidak boleh makan, agar hasil kerjanya lebih efektif. Hasilnya gigi akan tampak lebih cerah selama 2 tahun,” terang dia.

Selain dua teknik itu, masih ada satu teknik lagi yakni dengan teknik strip. Teknik strip ini menggunakan hydrogen peroksida empat persen dengan cara ditempelkan di gigi selama jam 1 jam. Teknik ini akan menghasilkan gigi yang lebih cerah sekitar 4 derajat dari sebelum pemakaian.

Menurut Iswati, semua metode memutihkan gigi tersebut tidak bisa lepas dari bahan kimia. Sehingga ada beberapa efek samping bagi si pengguna. Efek samping yang biasa dirasakan pada tooth bleaching ini antara lain, bisa menyebabkan sensitifitas gigi meningkat, terutama pada office bleaching. “Karena ini bahan kimia tentunya ada efek sampingnya, seperti gigi menjadi lebih sensitif,” katanya.

Selain itu, tooth bleaching juga bisa menyebabkan iritasi pada gusi. Apalagi jika gusi terkena bahan untuk whitening gigi, gusi akan berwarna keputihan dan akan terasa panas. Kalau gusi terkena bahan whitening, harus disemprotkan air banyak-banyak, atau sesampai di rumah harus banyak berkumur. Selain efek samping, tooth bleaching ini juga tidak boleh dilakukan oleh wanita yang sedang hamil karena takut berpengaruh pada janinnya. Selain itu, juga tidak boleh digunakan oleh anak yang usianya di bawah 14 tahun, karena giginya masih bercampur gigi susu dan gigi permanen juga belum tumbuh secara sempurna. Tri Sulistiyani