JOGLOSEMAR.CO Foto Penembakan Jogja: 31 Proyektil di Tubuh Korban

Penembakan Jogja: 31 Proyektil di Tubuh Korban

397

Pasukan Siluman Mengancam 

Menunggu Jenazah Korban Penembakan. (ant)
Menunggu Jenazah Korban Penembakan. (ant)

SLEMAN – Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menemukan 31 proyektil peluru pada tubuh keempat korban penembakan oleh kelompok oknum bersenjata yang terjadi di Lapas Kelas IIB Cebongan, Mlati Sleman. Namun, polisi belum mau menyebutkan jenis peluru yang digunakan dalam aksi tersebut.

Kapolda DIY, Brigjen Pol Sabar Rahardjo mengatakan, meski sudah mengevaluasi hasil pemeriksaan tersebut, kepolisian belum bersedia memaparkan hasilnya. Dia meminta agar pihaknya diberi kesempatan melaksanakan penyelidikan ilmiah.

“Prosesnya akan berjalan secara transparan jika polisi sudah mengumpulkan semua alat bukti sehingga diperoleh kepastian,” kata Kapolda DIY kepada  wartawan di Mapolda DIY, seperti dikutip ROL, Minggu (24/3).

Sabar juga menjelaskan, pihaknya belum dapat menyimpulkan indentitas pelaku penembakan. Ketua Jogja Police Watch (JPW), Asril Sutan Marajo meminta ada upaya serius menuntaskan kasus tersebut. Dia juga menyayangkan adanya pemindahan tahanan ke Lapas tanpa diikuti penjagaan ketat.

Sedangkan kuasa hukum keempat korban, Rio Rama Baskara menengarai ada upaya kesengajaan dalam proses pemindahan keempat tahanan, hingga keempatnya tewas. Karena itu pihaknya tetap meminta pertanggungjawaban Polda DIY atas alasan pemindahan tersangka ke Lapas Cebongan.

“Seolah seperti dibiarkan untuk tewas,” kata Rio seperti dikutip ROL, Minggu (24/3).

Rio juga meminta Komnas HAM mengawal kasus tersebut, sebab pembunuhan itu dianggapnya  tindakan pembantaian. Terlebih penembakan dilakukan saat korban tidak bersenjata.

Melihat kasus tersebut, Indonesia Police Watch (IPW) menyatakan, penyerangan gerombolan bersenapan laras panjang ke Lapas  II-B Cebongan, Sleman itu merupakan bentuk aksi yang dilakukan pasukan siluman.

“Indonesia saat ini dalam bahaya teror pasukan siluman bersenjata api yang setiap saat bisa mencabut nyawa orang-orang tertentu,” kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, Minggu (24/3).

Menurut dia, jika aksi teror semacam itu dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti aksi pasukan siluman tersebut akan menyerang sendi-sendi kenegaraan. “Termasuk menyerang kepentingan kepala negara,” ujar Neta.

Dalam setahun terakhir, IPW mencatat tiga kasus penyerangan oleh pasukan siluman yang tak kunjung terungkap. Pertama, penyerangan oleh pasukan yang disebut-sebut sebagai Geng Motor Pita Kuning di Jakarta, April 2012 lalu. Kedua, penyerangan yang menewaskan delapan anggota TNI dan satu orang sipil di Papua, 21 Februari 2013. Terakhir, penyerangan sekelompok orang ke LP II-B Cebongan, Sleman, kemarin.

Terhadap dugaan teroris, Neta mengatakan, jika mereka preman atau teroris, apa kepentingan mereka menyerbu LP dan mengeksekusi tersangka pembunuh anggota Kopassus. Menurutnya, penyerangan ke LP II-B Cebongan, Sleman itu merupakan sejarah terburuk dalam sistem keamanan di Indonesia.

“Meski pasukan siluman terus menebar teror, belum ada tanda-tanda bakal terungkap,” Neta berujar.

Dugaan pembiaran terbunuhnya empat tersangka mendapat dukungan dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).  Ketua Kontras, Haris Azhar mengatakan, dari hasil investigasinya, diketahui Kepala LP, Sukamto menelepon Polda, mempertanyakan alasan pengiriman empat orang itu.

“Pertanyaan Kepala LP itu didasari firasat buruk seperti terjadinya peristiwa di OKU,” kata Haris di Jakarta, Minggu (24/3) .

Pertanyaan itu menurut Haris, dijawab bahwa Polda akan mem-back up pengamanan LP. Sukamto, menurut Haris, berprasangka baik atas jawaban Polda tersebut. Meski sebelumnya, Polda tidak pernah menitipkan tahanan ke LP, karena mereka memiliki tahanan sendiri. Hanya Kejaksaan yang biasa menitipkan tahanan di LP tersebut. ** Detik

BAGIKAN