Penembakan LP Cebongan: Duka Selimuti Korban Penembakan

Penembakan LP Cebongan: Duka Selimuti Korban Penembakan

504
Ilustrasi
Ilustrasi

Suasana duka menyelimuti keluarga tahanan titipan Polda DIY yang menjadi korban penembakan oleh sekelompok bersenjata di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Sabtu (23/3), dini hari. Empat tersangka pengeroyokan, Sertu Heru Santoso yakni Hendrik Angel Sahetapi alias Deki (31), Johanes Juan Manbait (38), Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29), dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33), tewas mengenaskan dengan luka tembak. Bahkan istri tersangka Yohanes mengaku ketakutan. “Tolong jangan foto saya ya. Saya takut sekali,” kata ibu beranak satu itu saat mendatangi Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sabtu pagi seperti dikutip Vivanews, Sabtu (23/3).

Dia juga tak mau wartawan menuliskan namanya.  Istri Johannes bercerita, terakhir bertemu suaminya Kamis (21/3), siang lalu di Markas Polda DIY. “Saya dipesankan petugas supaya tidak ke luar rumah karena kondisi masih rawan,” kata dia.

Saat itu, kata dia, suami tidak bercerita terlibat dalam kematian anggota Kopassus. “Dia juga tidak bilang kalau dia ditahan karena terlibat pengeroyokan di Hugo’s (Cafe),” kata dia.

Saat terakhir bertemu, Johannes yang biasa disapa Johan, hanya mengatakan padanya, “Mama adalah hidup mati saya. Mama tampak cantik menggunakan jilbab.”

Sementara itu, isak tangis mewarnai rumah keluarga dua warga Kupang, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki dan Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu. Di rumah Deki Sahetapy di Kelurahan Bakunase, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, warga sekitar mulai membangun tenda dan melakukan segala persiapan untuk menerima jenazah Deky, yang rencananya akan dikirim ke Kupang. Keluarga pun menyesalkan aksi penembakan yang menewaskan Deki dan tiga temannya, yang merupakan tersangka penganiaya anggota Kopassus,  Sertu Heru Santoso.”Kami sangat menyesalkan kejadian itu. Apalagi, penembakan itu terjadi di dalam lembaga pemasyarakatan,” kata Albert Johanis, keluarga Deki seperti dikutip Tempo.co, Sabtu (23/3).

Bahkan, keluarga mempertanyakan, kenapa keempat tahanan itu dititipkan di LP, padahal mereka masih menjadi tersangka pelaku pengeroyokan. “Kami heran. Kok bisa terbunuh dalam LP,” katanya.

Selain itu, issak tangis juga terdengar di rumah Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu, di Kelurahan Labat, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang. Tetangga dan kerabatnya juga mulai memasang tenda. Kakak korban, Nona Rohi Riwu, mengaku mengetahui Gameliel tewas melalui media, Sabtu pagi.

Dia hanya meminta agar jenazah adiknya dipulangkan ke Kupang untuk dimakamkan. “Apa pun yang terjadi, jenazah adik saya harus dipulangkan,” katanya.

Menurut keluarganya, Deki dan Gamaliel sudah lama tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Deki bekerja sebagai ajudan Paku Alam, sementara Gamaliel menjadi kondektur bus Transjogja.

Selain menewaskan empat tahanan titipan, lima sipir juga mengalami luka-luka di bagian wajah dan badannya. Kelimanya, Widiyatmana yang mengalami luka di bagian dagu dan bibir bawah akibat dipukul dengan gagang senjata laras panjang. Sedangkan, Supratikno mengalami luka di mata kanan, lebam akibat dipukul dengan gagang senjata laras panjang, Agus Murjanto luka lebam di bagian dahi dan bengkak di dahi akibat dipukul dengan gagang senjata laras panjang. Kemudian, Adi Praseta mengaku dipukul di lehernya dengan gagang senjata laras  panjang dan Edi Prasetyo yang ditendang badannya dan dipukul dengan gagang senjata laras panjang.

Kedua petugas Lapas, Widiatmana dan Supratikno merupakan saksi yang mengetahui kejadian penyerangan 17 orang yang menewaskan empat tahanan.

Detik | Eko Susanto

BAGIKAN