JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional Penyerbu Lapas Pakai Sandi Khusus

Penyerbu Lapas Pakai Sandi Khusus

295
BAGIKAN

JAKARTA – Belasan pelaku yang menyerbu Lapas Cebongan, Sleman, Sabtu (23/3) lalu, diketahui menggunakan sandi khusus untuk berkomunikasi. Informasi itu diperoleh polisi dari keterangan para saksi mata.

“Ya ada, tapi itu bagian dari penyelidikan. Artinya apakah dialek, perawakan, ciri-ciri, alat-alat apa yang dipakai pasti digali,” ujar Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Boy Rafli Amar  di Jakarta, Rabu (27/3).

Ditanya bahasa khusus apa yang dipakai para pelaku, Boy enggan membeberkan lantaran masih rahasia penyelidikan.  Boy hanya menyebut bahwa penyerangan Lapas Cebongan sudah direncanakan dengan rapi, sehingga eksekusinya sangat sempurna.

” Ini direncanakan dengan baik, cermat, sistematis dan cepat,” ujarnya.

Sementara itu, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan siap melindungi saksi penyerangan Lapas Cebongan.  LPSK tinggal menunggu rekomendasi dari Komnas HAM dan penyelidik kepolisian yang tengah bekerja. Dari informasi yang didapatnya, ada 31 saksi. Dari hasil penyelidikan itu, pihaknya akan menentukan jenis perlindungan yang perlu diberikan sesuai  kebutuhan saksi.

“Kami siap memberi perlindungan,” terang juru bicara LPSK Maharani Siti Shopia, Rabu (27/3).

Menurutnya, perlindungan yang diberikan, perlu lebih dulu mendapat penilaian dari psikolog untuk mengetahui tingkat trauma dan perlindungan  fisik yang harus diberikan.  Untuk itu, LPSK segera menurunkan tim ke Lapas Cebongan.

“Harapannya, para saksi siap memberikan kesaksian tanpa ketakutan. Hasil koordinasi LPSK dengan Komnas HAM menyebutkan perlunya perlindungan saksi yang melihat langsung penembakan empat  rekannya di Lapas,” ungkap Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai, seperti dikutip Metronews.

Pada bagian lain, temuan penyidik Komnas HAM, Mimin Dwi Hartono mengenai 31 tahanan di Lapas Cebongan yang dipaksa bertepuk tangan oleh eksekutor, memang cukup menggemparkan. Tepuk tangan itu dilakukan 31 tahanan usai seorang eksekutor menembak mati empat tahanan titipan Polda DIY yang berada di satu sel dengan mereka di Blok A5 (Anggrek Nomor 5).

Namun, sumber Tempo di Lapas Sleman mengungkapkan,  Selasa (26/3) kemarin ada kesaksian lain yang tak kalah mengejutkan. Saat ke-31 tahanan itu bertepuk tangan, menurut sumber, ada salah seorang tahanan yang meneriakkan “Hidup Kopassus!”

Teriakan itu keruan saja membuat eksekutor naik pitam. “Siapa yang teriak? Saya tembak kamu!” kata sumber itu menirukan hardikan sang eksekutor. Untung saja, itu hanya gertakan semata.

Sementara itu, rencana Komnas HAM untuk melakukan klarifikasi ke markas Grup-2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo terpaksa dibatalkan. Pasalnya, Komnas HAM belum mengantongi izin dari Mabes TNI.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua Komnas HAM, Noor Laela. Ia  mengatakan, pihaknya memang belum mendapatkan izin dari pihak Mabes TNI.  Karena itu, Komnas HAM memutuskan untuk membatalkan  kunjungan ke markas Kopassus.

“Akhirnya kami mengambil keputusan untuk mendatangi Mabes saja,” kata dia di Mapolda DIY, Rabu (27/3).

Terpisah, Sosiolog Kriminalitas Universitas Gadjah Mada (UGM), Soeprapto menegaskan, kasus penyerangan Lapas Cebongan yang menewaskan empat narapidana,  lebih didasari motif pembungkaman.  Menurutnya, perseteruan yang terjadi bukan merupakan masalah individual, tapi bentrok antar kelompok.

Ia justru menilai jika modus  penembakan dalam Lapas tersebut sama dengan modus kejadian G30S PKI yang terjadi tahun 1965 silam, yakni keterlibatan nama pasukan TNI.  Menurutnya, dengan mencuatnya nama Kopassus, seakan-akan TNI terlibat dalam penembakan yang terjadi, meski memang belum terbukti.

“Namun ada kemungkinan pula nama TNI sengaja dicatut oleh sekelompok orang profesional dengan peralatan dan strategi canggih agar tertuduh mengarah pada TNI,” jelas Soeprapto, di Kampus Fisipol UGM, Rabu (27/3).

Namun yang jelas, ujar Suprapto, siapapun pelakunya mereka adalah orang atau suruhan dari orang yang berbiaya karena semuanya itu berbiaya mahal. Menurut Soeprapto, penyelesaian kasus tersebut wajib terintegrasi.

Selaras dengan usulan Suprapto,  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Kapolri Jenderal Timur Pradopo dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono bekerja sama mengusut kasus penyerangan Lapas Cebongan secara integratif.

“Intinya, Presiden meminta Polri berkoordinasi dan bekerja sama dengan TNI untuk menindaklanjuti insiden di Lapas Sleman,” kata juru bicara kepresidenan, Julian Aldrin Pasha di Bali, Rabu (27/3). **

Detik | Okezone