JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Market Perajin Wayang Koran: Modal Iseng, Berbuah Karya Seni Bernilai Jual

Perajin Wayang Koran: Modal Iseng, Berbuah Karya Seni Bernilai Jual

723
BAGIKAN
Joglosemar|Budi Arista RomadhoniWAYANG KORAN-Perajin kerajinan tangan  Wayang Koran Burhan Gatot tengah menyelesaikan pekerjaannya di Kampung Gambuhan, Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo, Senin (18/3). Wayang Koran dipesan hingga keluar Pulau jawa  dengan harga berkisar Rp. 25.000.
WAYANG KORAN-Perajin kerajinan tangan Wayang Koran Burhan Gatot tengah menyelesaikan pekerjaannya di Kampung Gambuhan, Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo, Senin (18/3). Wayang Koran dipesan hingga keluar Pulau jawa dengan harga berkisar Rp. 25.000. Joglosemar|Budi Arista Romadhoni

Kecintaan pada nilai seni dimiliki hampir setiap orang. Tak jarang ada yang menjadikannya sebagai profesi, namun ada pula yang hanya menjadikan kreasi seninya hanya sebatas hobi yang dapat menguntungkan. Hal tersebut seperti yang dilakukan M Burhan Gatot Santosa (41) perajin wayang koran, yang berlokasi di Gambuhan Rt 03/02, Baluwarti, Solo.

Burhan, panggilan akrabnya, merupakan seorang yang mempunyai hobi berkarya seni. Namun, dari hobinya ini, mampu dia pergunakan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.

“Terjun ke dunia seni koran mulai tahun 1998-1999. Dulu cuma sekedar iseng-iseng, pas masih kerja di Yogyakarta. Untuk survive cari makan, kemudian buat kerajinan koran, terus dijual,” kisahnya.

Lanjut Burhan, pada masa itu dia masih membuat kerajinan koran berbentuk benda-benda fungsional. Seperti frame foto, tempat tisu, vas bunga, kap lampu, dan lain-lain.

“Tahun 2007, saya langsung perkenalkan kerajinan itu langsung ke pameran Pekan Raya Seni Ancol, dengan modal Rp 5 juta. Awalnya ingin promosi ke Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), tetapi kemudian disuruh teman langsung ke Jakarta saja. Eh karena pas itu masih bodoh, saya malah rugi, rekasa. Banyak barang rusak, gak payu, masih ngopeni orang juga. Wah pokoknya pas itu tidak bisa dilupakan,” ceritanya sambil tertawa.

Pria lulusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS Angkatan 2004  ini menambahkan, bahwa dia mulai memfokuskan karya seninya ke wayang koran pada tahun 2010. “Ide awalnya karena dulu booming-booming-nya action figure. Seperti superman, batman, dan lain-lain, semuanya dari luar negeri. Kemudian saya berpikir action figure yang dekat dengan Kota Solo itu apa. Terus kepikiran wayang. Dengan materi yang simple kemudian buat action figure lokal wayang,” bebernya.

Menurut pria yang bekerja pula di salah satu media lokal Solo ini mengatakan, bahwa dia cukup sering untuk mengikuti pameran-pameran di tingkat lokal, maupun nasional, baik yang bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM, maupun yang bersifat mandiri. Seperti di Inacraft (Indonesia Craft), Bandung Wayang Festival (BWF) International.

“Yang di BWF International, saya pameran mandiri. Saya diajak langsung oleh panitia BWF untuk ikut pameran. Karena dinilai kerajinan saya, jenis seni wayang kontemporer, karena menggunakan bahan baku yang tidak biasa,” terangnya.

Saat ditanya mengenai apresiasi masyarakat Solo terhadap karyanya, raut muka Burhan tampak serius.

“Terkadang produk saya sering diremehkan orang-orang, karena  bahannya yang cuma dari koran. Mereka menganggap wayang koran saya murah, tetapi kenapa dipatok mahal. Padahal kalau mereka tahu mahal tidaknya produk craft bukan berdasarkan bahan bakunya. Tapi seni craft itu mengandalkan kreativitas pikiran, nilai seni, maupun tenaga. Saya ingin memberi tahu mereka bahwa perajin tidak bisa dengan mudah diremehkan. Perajin harus memiliki idealis, untuk memperjuangkan hasil karya seninya,” kata pria kelahiran 21 Maret 1972 ini tegas.

Saat ini, Burhan mengandalkan promosi produknya dengan berjualan di Night Market Ngarsopuro dan melalui media online. Menurutnya melalui media ini lebih mudah, praktis, dan produknya pun dapat diketahui orang secara luas, tidak hanya dalam negeri namun luar negeri. Dari tahun ke tahun pun, pertumbuhannya bisnisnya mencapai 25 persen.

“Produk saya malah banyak dibeli orang luar Solo. Untuk wayang koran ukuran suvenir saya jual mulai Rp 25.000 hingga tak terhingga, tergantung permintaan konsumen. Produksi terbesar saya bisa mencapai 500 buah, dengan pendapatan bisa mencapai Rp 20 juta. Sedangkan, dalam sebulan saya bisa mendapatkan orderan dari Rp 300.000 hingga Rp 1 juta,” paparnya.

Burhan menambahkan, dalam memajukan industri kreatifnya ini, dia memiliki kendala di sistem manajemen keuangan dan belum mempunyai pekerja yang dapat dipercaya dan rajin. Untuk menjadi yang terdepan, pihaknya akan selalu menjadi pelopor, lebih mengasah kreativitas, dan berpikir inovatif.

“Sebenarnya kepuasan terbesar saya bukan masalah profit, tetapi seberapa banyak saya memberikan manfaat dan membantu orang lain. Saya ingin memotivasi juga, untuk dapat membuat sebuah karya seni tidak hanya menggunakan bahan baku mahal, namun  dengan limbah atau barang tidak berharga pun dapat menghasilkan sebuah kerajinan yang bernilai seni tinggi,” ungkapnya bersemangat.  Paramita Sari Indah