Perguruan Tinggi di “Lintasan Lari”

Perguruan Tinggi di “Lintasan Lari”

435

Sebuah PT harus membuka telinga dan mata mereka untuk melihat adanya peluang untuk memberi terobosan baru.

ilustrasi
ilustrasi

Krisis multidimensional yang sedang melanda Indonesia saat ini disertai dengan berbagai perubahan di berbagai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Perubahan tersebut  telah menciptakan “lintasan lari” yang baru bagi Perguruan Tinggi (PT).  Hampir setiap PT berlomba-lomba di garis start dengan modal berbagai kemampuan yang dimiliki. Menjadi jawara dengan predikat Perguruan Tinggi yang baik adalah garis finish mer eka, lalu? Apa indikatornya? sistem informasi terbaikah? website terbaik? atau akreditas?

Atribut seorang atlit di lintasan lari tidak pernah masuk hitungan. Sebagaimana PT yang baik ternyata tidak semata-mata dilihat dari seberapa maju teknologi yang dipakai atau seberapa mahal dan mentereng fasilitas yang ditawarkan. Tapi,  menurut Dr Ing Wiyatiningsih, ST MT, Wakil Dekan Bagian Administrasi dan Keuangan Fakultas Arsiktektur, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, PT yang baik adalah wadah yang mampu menjaga nilai-nilai luhur pendidikan itu sendiri.

“Dalam hal ini, relasi dan komunikasi antar-civitas akademika harus tetap terjaga secara harmonis,” terang wanita yang biasa di sapa Ning ini. Ning menekankan kualitas hubungan dalam PT yang bersifat kekeluargaan akan membawa dampak baik dalam proses belajar mengajar, yang berkontribusi besar pada kualitas sebuah PT.

Baca Juga :  Fakultas Pertanian UNS Selenggarakan Konferensi Internasional

“Perguruan tinggi tersebut mempunyai kepekaan terhadap permasalahan yang berkembang di sekitarnya dan tidak hanya disibukkan oleh permasalahan internal kampus,” jelas Ning. Hal inilah yang menurut Ning mencitrakan daya cipta yang inovatif dan kreatif dari sebuah PT.

Menurut Ning, selain mempertahankan nilai tadi, sebuah PT harus membuka telinga dan mata mereka untuk melihat adanya peluang untuk memberi terobosan baru. Bisa dalam hal apa saja. Guna bersaing di “lintasan lari”  bersama PT lain yang juga bertarung di lintasan yang sama.

Agar bersaing dengan sehat dan mantap baik PT, mahasiswa juga pengajarnya harus bersinergis dengan mantap. “Poros di perguruan tinggi idealnya jangan ditumpukan pada satu civitas saja. Ketiganya punya peran yang setara pentingnya,” tanggap Ning

Mahasiswa pro-aktif, pengajarnya provokatif,  perguruan tingginya kreatif-inovatif. Itu target penting yang perlu dicapai semua PT menurut Ning. Sudah tentu kesemuanya itu diikat dengan nilai-nilai luhur pendidikan, seperti yang telah dijelaskan di awal.

Baca Juga :  Siswa SD Marsudirini Ikuti Workshop Paper Craft

Pencapaian Mutu

Selain itu, Tri Dharma Perguruan Tinggi jadi kewajiban yang juga perlu dilakukan menurut, Dewi Kartika Sari, MIKom, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. “Perguruan Tinggi yang yang baik adalah perguruan tinggi yang mampu menjaga mutunya melalui pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tingginya yakni pengembangan riset, proses pembelajaran dan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat,” terang Dewi.

Dia menambahkan PT perlu mengarahkan kiblatnya untuk kepentingan mahasiswa dalam rangka pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih lagi. Terlepas dari itu semua, Dewi juga menegaskan bahwa ketetapan standardisasi mutu pendidikan seperti yang ditetapkan Direktorat Jenderal Tinggi (Dikti) bisa jadi tolak ukur yang baik bagi PT. Tinggal bagaimana semua komponen di dalam perguruan tinggi bekerja sama dan disiplin dalam pencapaian mutu itu bersama.

“Standar mutu ini mencakup kejelasan visi misi universitas, pelaksanaan visi misi tersebut dan kurikulum yang terstandarisasi, standar tenaga kependidikan, fasilitas perguruan tinggi serta pelaksanaan penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi tersebut,” papar Dewi.

Tim UKSW

BAGIKAN