JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Petani Sragen Borong Solar

Petani Sragen Borong Solar

305
BAGIKAN
Ilustrasi
Ilustrasi

SRAGEN-Krisis solar bersubsidi yang terjadi di wilayah Sragen membuat kalangan petani panik dan mulai melakukan pembelian besar-besaran di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang mendapat pasokan. Sementara, kalangan DPRD mengecam arogansi Pertamina yang dinilai terlalu mengintervensi SPBU agar tidak menyuarakan kelangkaan yang terjadi.

Pantauan Joglosemar, hingga Sabtu (23/3), mayoritas SPBU masih menutup layanan solar karena tidak dipasok. Beberapa SPBU yang mendapat kiriman juga langsung diserbu oleh petani dan pemilik angkutan yang sudah berhari-hari menunggu. Di SPBU Nglangon milik Pemkab Sragen misalnya, setidaknya ada sekitar 40 petani dan pengemudi minibus yang menyerbu sejak kiriman datang sehingga pasokan 8.000 liter habis hanya dalam tempo lima jam.

“Kalau nggak antre nggak mungkin dapat. Ini saja dibatasi hanya boleh beli Rp 50.000. Susa h dapat solar, padahal ini sudah mulai bajak sawah dan mesin traktor nggak bisa jalan kalau nggak ada solar,” ujar Sukardi (56), salah satu petani asal Sine, Sragen yang mengaku sudah antre sejak pukul 07.00 WIB.

Supervisor SPBU Nglangon, Efvan Sethyono mengatakan terpaksa melakukan pembatasan jumlah pembelian untuk pemerataan. Pasalnya, sudah hampir sepekan, kiriman solar dari Pertamina tidak lagi bisa diterima setiap hari.

Sementara, data yang diterima Wakil Ketua DPRD Bambang Widjo, setidaknya ada lebih dari 10 SPBU di jalur utama Sragen yang nihil stok. Di antaranya, SPBU Jirapan, Jati, Puntukrejo, Jetak, Sine, Pilangsari, Tunjungan, Sambungmacan, Bener, Mahbang dan Nglorog. Selain berharap pasokan segera dinormalkan, ia juga mengecam arogansi Pertamina yang mengintervensi SPBU untuk tak menyuarakan kondisi yang terjadi. Indikasi intervensi itu diketahui dari pengakuan sejumlah pengelola SPBU yang takut melaporkan kelangkaan karena jika melapor akan diberi sanksi tidak dikirim selama sepekan.

“Padahal Pertamina itu kan milik pemerintah yang semestinya mengutamakan kebutuhan masyarakat. Kalau ada masalah nggak boleh mengadu, di mana tanggung jawabnya terhadap amanat pemerintah,” ujarnya berang.

Oleh karenanya, pihaknya akan segera memanggil pihak terkait di antaranya Dinas Perdagangan, Hiswana Migas, pengelola SPBU untuk mencari solusi agar krisis tak semakin berlarut-larut. “Kasihan masyarakat dan petani. Silakan lihat ke lapangan, banyak petani yang nggak bisa mengolah sawah karena traktor nggak dapat solar. Kemarin ada bus jurusan Winong yang berhenti di jalan karena kehabisan solar dan cari di SPBU tidak ada,” timpal Ketua DPRD, Sugiyamto.

Wardoyo