Petani Sulit Keringkan Gabah

Petani Sulit Keringkan Gabah

457
SULIT KERING - Petani di Desa Bulan, Kecamatan Wonosari menjemur gabah panen, Minggu (17/3). Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat gabah milik petani sulit kering. Joglosemar/Angga Purnama
SULIT KERING – Petani di Desa Bulan, Kecamatan Wonosari menjemur gabah panen, Minggu (17/3). Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat gabah milik petani sulit kering. Joglosemar/Angga Purnama

KLATEN – Sebagian petani di Kabupaten Klaten kesulitan mengeringkan gabah karena cuaca yang tak menentu. Kondisi tersebut membuat kualitas gabah yang dipanen petani menurun. Salah satu petani di Desa Kwarasan Kecamatan Juwiring, Darmadi, mengatakan kondisi cuaca yang sering hujan hingga berjam-jam membuat ia kesulitan untuk menjemur gabah. Dampaknya, gabah yang sudah dipanennya itu sulit kering dan membuat kualitas gabahnya menjadi jelek. “Kurangnya panas saat menjemur membuat gabah yang sudah dipanen sulit kering dan menjadi lembab,” kata dia kepada Joglosemar, Minggu (17/3).

Dirinya menjelaskan, meskipun stok gabah yang dimiliki petani sebelumnya sudah dikeringkan pascapanen, namun saat itu belum maksimal, maka perlu dikeringkan. Akibat sulitnya proses pengeringan saat ini, maka sebagian petani menunda untuk menjemur gabah dan menunggu hingga kondisinya baik untuk mengeringkan gabah tersebut. “Biasanya setelah panen, memang kami mengeringkan gabah sebelum disimpan, namun lama pengeringan hanya berkisar satu hingga dua hari saja, sebab nantinya akan dikeringkan kembali,” jelasnya.

Baca Juga :  Tjokro Hotel Klaten, Upacara Sembari Mengenalkan Ikon Lurik Klaten

Dengan kondisi cuaca tersebut, gabah miliknya memerlukan waktu lima hingga enam hari untuk kering dan siap digiling. Padahal pada kondisi normal, gabah dapat kering hanya dalam waktu dua hari saja. “Akibatnya, gabah menjadi hitam dan mudah rusak,” ujarnya.

Menurutnya, setelah digiling gabah yang sudah terlanjur menghitam dan rusak karena lembab itu menghasilkan beras yang jelek. Meski masih dapat dikonsumsi, namun beras tersebut berbau apak dan tidak enak dikonsumsi.

Baca Juga :  Tjokro Hotel Klaten, Upacara Sembari Mengenalkan Ikon Lurik Klaten

Hal senada disampaikan petani lain, Supangat. Ia mengatakan kendala yang dihadapi para petani terutama pascapanen yakni proses pengeringan. Menurutnya, para petani biasanya mengeringkan gabah secara tradisional, yakni mengeringkannya dengan bantuan sinar matahari, akibatnya di saat curah hujan tinggi maka petani tidak bisa meningkatkan mutu gabah yang ada. “Mutu gabah biasanya dipengaruhi masa pengeringan, sebab di saat proses penggilingan memerlukan gabah yang kering agar beras yang dihasilkan tidak mudah patah,” katanya. Angga Purnama

BAGIKAN