JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Pilkades Diduga Curang, Warga Demo

Pilkades Diduga Curang, Warga Demo

387
BAGIKAN
TUNTUT PENGUSUTAN- Ratusan warga Desa Mojodoyong, Kedawung menggelar aksi demo di halaman kantor DPRD Sragen menuntut aparat kepolisian, DPRD dan Pemkab mengusut indikasi kecurangan di Pilkades setempat, Sabtu (16/3).
TUNTUT PENGUSUTAN- Ratusan warga Desa Mojodoyong, Kedawung menggelar aksi demo di halaman kantor DPRD Sragen menuntut aparat kepolisian, DPRD dan Pemkab mengusut indikasi kecurangan di Pilkades setempat, Sabtu (16/3).

SRAGEN-Seratusan warga dari berbagai dukuh di Desa Mojodoyong, Kedawung, menggelar demo di depan kantor DPRD Sragen, Sabtu (16/3). Mereka mendesak aparat kepolisian dan DPRD untuk mengusut indikasi kecurangan pada pemilihan kepala desa (Pilkades) Mojodoyong 6 Maret, lalu.

Warga yang mayoritas pendukung calon kades, Sumardi itu menilai Pilkades tidak transparan sehingga membuat calonnya kalah oleh calon incumbent, Kasidi dengan selisih tipis empat suara. Sesuai agenda, sebenarnya DPRD hanya menjadwalkan akan menerima beberapa perwakilan warga saja untuk beraudiensi.

Namun, di luar dugaan warga yang lain secara sukarela ikut bergabung sehingga jumlahnya ratusan. Begitu sampai di DPRD, mereka juga langsung membentangkan beberapa spanduk berisi tudingan Pilkades Mojodoyong penuh rekayasa dan kecurangan hingga dukungan supaya Polres Sragen segera mengusut hasil Pilkades Mojodoyong.

Beberapa warga juga berteriak meminta kades terpilih diturunkan. Beruntung, aksi demo berhasil dikendalikan puluhan aparat kepolisian yang bersiaga di lokasi.

Koordinator aksi, Haryanto (45), mengungkapkan aksi terpaksa digelar karena warga mencium indikasi ketidakberesan Pilkades selama proses berlangsung. Beberapa poin indikasi kecurangan yang ditemukan di antaranya penggelembungan 23 suara di mana jumlah suara yang masuk tidak sesuai dengan jumlah warga yang hadir di TPS.

Kemudian, panitia desa dianggap kurang transparan karena tidak mengizinkan tim sukses salah satu pasangan melihat daftar hadir pemilih, panitia desa tidak mengumumkan perolehan masing-masing kotak saat penghitungan suara, pemilih ganda ditemukan pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) hingga panitia desa diduga ikut kampanye. “Selisih satu suara pun kami tidak masalah asalkan semua transparan. Makanya kami minta Komisi I DPRD dan polisi mengusut indikasi kecurangan ini. Termasuk indikasi adanya oknum joki yang menggunakan undangan milik perantau. Kalau tudingan kami tidak terbukti, kami legawa (ikhlas). Kalau terbukti maka hukum harus bicara,” kata Haryanto saat ditemui usai beraudiensi di ruang Serbaguna kantor DPRD Sragen.

Dia mengancam akan menggelar demonstrasi lebih besar apabila DPRD Sragen tidak menindaklanjuti persoalan. Ia juga menjanjikan akan segera mengirim data dan bukti-bukti kecurangan untuk memperkuat tuntutan.

Perwakilan warga itu diterima beraudiensi dan ditemui Ketua DPRD Sugiyamto, Wakil Ketua DPRD Hariyanto dan Wakil Ketua DPRD Bambang Widjo serta Ketua Komisi I berikut anggotanya.

Sugiyamto menyatakan akan menindaklanjuti dengan meminta Komisi I menangani aduan tersebut secepatnya. Ia juga berjanji memanggil panitia desa, kecamatan, dan kabupaten untuk diklarifikasi.

Ketua Komisi I Inggus Subaryoto menambahkan akan mengupayakan panitia kabupaten agar membuka daftar hadir dan perolehan suara di hadapan warga. Meskipun pemenangnya sudah dilantik, ia menilai apabila ditemukan penyimpangan maka perkara dapat dibawa ke jalur hukum.

Wardoyo

  • marsono gbs.

    kita melihat masalah pilkades di mojodoyong ini sebenarnya hanya tidak ada sikap ksatria dari pihak yg kalah terutama pendukung2nya,kalo mau maju pilkades harus siap menang juga siap kalah,lebih baik kita bersikap yang gentlemen kita akui kekalahan dan mengucapkan selamat kpd pihak yang menang,sehingga tercipta suasana yang kondusif..salam satu hati…