JOGLOSEMAR.CO Foto Polisi Tepis Sabotase di Istana

Polisi Tepis Sabotase di Istana

322
BAGIKAN
Pasca Kebakaran Setneg. (ant)
Pasca Kebakaran Setneg. (ant)

JAKARTA–Tim Puslabfor Mabes Polri dan penyidik memastikan tidak ada unsur sabotase dalam insiden kebakaran yang terjadi di Gedung Sekretariat Negara (Setneg), yang berada di Kompleks Istana Negara, Jakarta.

“Sampai sekarang penyidik dan Puslabfor masih menyelidiki. Dugaan awal karena arus pendek listrik. Sampai sekarang kami tidak melihat ada unsur sabotase, tapi pemeriksaan masih dilakukan,” ujar Karopenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (22/3).

Boy mengatakan, hingga saat ini polisi telah melakukan sterilisasi pada tempat kejadian perkara (TKP). “Karena masih dilakukan penyelidikan yang mendalam,” imbuhnya.

Sepanjang Jumat kemarin, tampak belasan petugas yang menggunakan rompi hitam bertuliskan “Puslabfor” menyusuri setiap ruangan Gedung Setneg. Sementara petugas Inafis menyusuri ruangan di bagian lainnya.

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara, Lambock V Nahattands mengatakan, pegawai beraktivitas seperti biasa di lantai 1 dan 2 gedung tersebut. Aktivitas pegawai diyakini tidak mengganggu petugas yang sedang menelusuri penyebab kebakaran.

“Karena itu, ini lantai 3 itu tidak dipakai, hanya ruang rapat. Jadi, tidak ada masalah. (Mengganggu) Oh enggak, karena TKP di lantai 3,” kata Lambock yang sedang memantau pembersihan dan renovasi gedung.

Mengenai kaca-kaca yang pecah, Lambock mengatakan hal itu dilakukan oleh petugas Unit Keamanan Dalam (UKD) untuk memudahkan pemadaman api. “Itu kan hanya antisipasi saja, kan itu sekarang sudah dipasang,” imbuhnya.

Lambock memastikan kerusakan hanya ada di lantai 3. Sementara di lantai 2 tidak terlalu banyak dampak kerusakannya termasuk ruang kerja Mensesneg Sudi Silalahi. “(Ruang Pak Sudi) Masih rapi semua itu,” jelasnya.

Lambock kembali menegaskan bahwa pada saat kebakaran alarm sudah berbunyi. “Siapa bilang enggak bunyi. Masa kalau sudah kebakar, alarmnya masih bunyi,” tegasnya.

Kok alarm tidak kedengaran sampai ke bawah Pak? “Masa alarmnya ngaung-ngaung? Alarm kan bukan sirene. Peringatan dini itu untuk di ruangan, bukan keluar. Bagaimana Anda itu,” jawabnya.

Sementara itu, politikus dan paranormal Permadi mengatakan, kebakaran yang terjadi di Gedung Sekretariat Negara merupakan pertanda buruk bagi kepemimpinan Presiden Susilo bambang Yudhoyono (SBY).

“Itu tanda-tanda berakhirnya kepemimpinan SBY,” ujar Permadi saat ditemui di Sekretariat Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI), Bukit Duri, Jakarta Selatan. Menurutnya, pertanda buruk itu dilihat dari hari kejadian kebakaran yang jatuh pada Kamis 21 Maret petang, yang bertepatan dengan malam Jumat Kliwon.

“Kalau hitungan orang Jawa itu, kebakaran di malam Jumat Kliwon, itu buruk, itu tandanya kepemimpinan SBY akan segera berakhir,” paparnya.

Bersama sejumlah tokoh, seperti Ketua MKRI Ratna Sarumpaet, dan Sekjen MKRI Adhie Massardi, Permadi akan menggelar aksi demo pada 25 Maret lusa. Rencananya aksi tersebut akan diramaikan oleh simpatisan dari 17 provinsi dan akan memusatkan aksi di depan Istana Presiden. Detik | Antara