JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Punya Bekas Luka? Hati-Hati Keloid

Punya Bekas Luka? Hati-Hati Keloid

2214
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

Kita sering melihat bekas luka yang tidak bisa pulih. Bekas luka itu justru menonjol dan semakin besar dari bekas yang sebelumnya. Bekas luka menonjol tersebut biasa kita sebut keloid. Keloid timbul karena bekas luka, bisa luka operasi, luka bakar, luka apapun termasuk bekas jerawat atau bekas bisul. Bayangkan jika keloid nampak di wajah atau tempat terbuka bagian tubuh lainnya. Belum lagi rasa gatal dan cekit-cekit yang ditimbulkannya.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUI Kustati Surakarta, Dr Endra Yustin, MSc, SpKK menjelaskan, keloid ini muncul akibat jaringan ikat yang tumbuh secara berlebihan akibat terjadi trauma pada kulit. Timbulnya jaringan ikat yang berlebihan itu biasanya terjadi karena fase penyembuhan yang tidak sempurna. “Keloid ini timbul karena fase penyembuhan luka yang terganggu,” katanya.

Dia menjelaskan, pada penyembuhan luka terdapat empat fase yakni Hemostrisis, Inflamasi, Proliferasi, dan remodeling. Jika salah satu fase itu berjalan secara tidak sempurna maka bisa berpotensi menjadi keloid. Biasanya keloid terjadi karena pada fase Proliferasi berlangsung secara berlebihan. “Ketika salah satu fase penyembuhan luka terganggu akan timbul keloid, yakni pada fase Proliferasi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, keloid ini bisa muncul secara spontan. Tetapi, kebanyakan keloid timbul karena ada bakat dari seseorang ketika luka muncul keloid. Pada bekas luka yang terjadi keloid itu terjadi hiperproliferasi. “Produksi fibroblast kelebihan inilah yang menyebabkan terjadinya keloid,” ujarnya.

Dikatakannya, keloid lebih sering terjadi pada kulit gelap dibanding kulit putih. Keloid lebih banyak terjadi pada ras kulit hitam atau bangsa di Asia juga sering terkena. Sedangkan persentase kejadian sama antara pria dan wanita. Lebih sering terjadi pada usia anak-anak dan dewasa muda (10-30 tahun). “Orang kulit putih paling jarang terkena keloid,” katanya.

Endra mengungkapkan, Keloid lebih sering terjadi pada peradangan yang lama sembuh. Dan lebih mudah terjadi pada daerah dengan regangan kulit yang tinggi, misalnya dada, bahu, leher, kepala dan tungkai. Benjolan keras, tidak teratur, berbatas jelas, menonjol, berwarna kecokelatan, kemerahan. “Acapkali terasa gatal dan lama kelamaan benjolan tersebut mengeras, ” paparnya.

Menurut Endra, pemicu terjadinya keloid ini akibat ada trauma di kulit. Kondisi ini akan diperparah dengan adanya garukan di kulit. Karena keloid ini sering disertai dengan rasa gatal, maka seringkali akan diperparah dengan adanya garukan. “Semakin sering digaruk maka keloid akan semakin membesar,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, selain garukan, ada beberapa sebab lain pemicu trauma pada kulit yang bisa menyebabkan timbulnya keloid. Jerawat, seringkali menjadi biang timbulnya keloid. Pada jerawat yang membandel, sering kali sentuh oleh pemiliknya, jika tidak tepat ditangani bisa jadi luka bekas jerawat ini menimbulkan keloid. “Kalau punya jerawat jangan diotak-atik, ini bisa menyebabkan trauma pada kulit dan jadi timbul keloid,” ujarnya.

Selain jerawat, dikatakan Endra, ada luka bekas operasi juga sering menyebabkan timbulnya keloid. Selain itu, luka bekas tato juga acapkali menyebabkan keloid muncul. Kasus yang paling sering menyebabkan timbulnya keloid adalah luka bekas cacar air. “Luka bekas tindik, bekas operasi Caesar pada ibu hamil, dan yang paling sering ini luka bekas cacar air,” ujarnya.

Endra menambahkan, jika keloid tidak ditangani dengan benar maka bisa menimbulkan komplikasi. Biasanya komplikasi timbul akibat keloid yang ada di persendian. Hal ini sering terjadi pada bekas luka bakar. Fase penyembuhan luka yang tidak sempurna pada persendian bisa menyebabkan keloid di daerah tersebut. Jika tidak ditangani dengan baik, maka keloid bisa melumpuhkan fungsi persendian. “Jika keloid timbul di persendian maka akan terjadi kontraktur atau hilangnya fungsi persendian,” terang dia.

Berbagai cara pengobatan dapat dilakukan untuk meratakan tonjolan keloid, antara lain dengan Injeksi kortikosteroid  atau dengan triamcinolone acetonide. Selain itu, pada kasus tertentu terkadang dibutuhkan tindakan pembedahan. Tetapi, cara ini harus benar-benar dengan pertimbangan tertentu, karena justru berpotensi menimbulkan keloid baru yang lebih luas dari sebelumnya. “Terkadang juga diperlukan pembedahan disertai injeksi, tergantung kondisi luka yang dialami,” ujar dia.

Selain itu, tindakan untuk menangani Keloid juga bisa dilakukan dengan bedah beku (cryotherapy) menggunakan nitrogen cair. Lebih efektif jika dikombinasi dengan injeksi kortikosteroid intralesi. Bahkan pada kondisi tertentu juga bisa dilakukan penyembuhan keloid dengan laser karbondioksida. “Bisa juga dilakukan kombinasi tindakan laser dan injeksi atau bedah dengan injeksi,” imbuhnya. Tri Sulistiyani