JOGLOSEMAR.CO Daerah Sukoharjo Raskin 3 Kecamatan Tak Layak Konsumsi

Raskin 3 Kecamatan Tak Layak Konsumsi

277
BAGIKAN

Dijual untuk Campuran Pakan Ternak

ilustrasi
ilustrasi

SUKOHARJO- Kualitas beras untuk rakyat miskin (Raskin) dikeluhkan oleh warga di tiga kecamatan, yakni Weru, Tawangsari, dan Bulu. Pasalnya, Raskin yang mereka terima berbubuk, pecah, dan berkutu sehingga tak layak konsumsi.

Alhasil, warga penerima Raskin enggan memakannya. Mereka justru menjual Raskin tersebut untuk campuran pakan ternak. Salah seorang warga Desa Karangmojo, Weru, Wahyono Abdullah, mengungkapkan, Raskin itu hasil distribusi bulan Maret ini. Meski kualitas Raskin yang diterima biasanya juga tak terlalu bagus, menurutnya Maret ini jauh lebih buruk.

”Ini sudah keterlaluan. Coba lihat saja, Raskin ketika dipegang sudah hancur menjadi bubuk. Belum lagi banyak kutunya. Warga yang bisa dibilang sangat miskin pun enggan memakannya. Ini berarti, Raskin yang diberikan pemerintah sangat buruk,” kata Wahyono, Minggu (17/3).

Berdasarkan pengamatannya di lapangan, beras itu dijual dalam ukuran beruk dengan harga Rp 6.000. Uang hasil penjualan Raskin itu pun digunakan untuk membeli beras yang layak konsumsi. “Saya merekam dalam bentuk video saat Mbah Kromo, warga Karangmojo menjual Raskinnya untuk campuran pakan ternak. Hal ini juga kami temukan di Desa Kunden Kecamatan Bulu, Desa Watubonang, Pundung Rejo, Grajegan, dan Kateguhan Kecamatan Tawangsari,” ujar dia.

Pasca mendapati kualitas Raskin seperti itu, pihaknya langsung melaporkannya kepada tingkatan RT, RW, lurah hingga camat. Ia menilai Bulog sebagai perwakilan pemerintah pusat sudah melanggar Inpres Nomor 8 Tahun 2008 tentang Kebijakan Perberasan. Di mana, dalam Inpres mengatur kadar air dalam beras harus di bawah 14 persen, butir patah maksimal 20 persen, derajat sosoh minimal 95 persen, dan menir maksimal dua persen.

Saat dikonfirmasi Camat Weru, Heru Indarjo mengatakan masalah tersebut sudah selesai. Hal ini disebabkan sudah ada penggantian Raskin dengan kualitas yang lebih baik dan layak konsumsi. “Kami sudah melaporkan kepada Bulog dan sudah diganti. Jadi, masalah itu sudah selesai,” kata Heru.

Murniati