JOGLOSEMAR.CO Foto Ritual Mahesa Lawung, Kubur Kebodohan

Ritual Mahesa Lawung, Kubur Kebodohan

581
GELAR MAHESA LAWUNG-Sejumlah kerabat dan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengarak sesaji yang akan dibawa ke Alas Krendowahono, Karanganyar seusai didoakan di Sitinggil Lor Keraton Kasunanan, Senin (11/3). Joglosemar/Yuhan Perdana
GELAR MAHESA LAWUNG-Sejumlah kerabat dan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengarak sesaji yang akan dibawa ke Alas Krendowahono, Karanganyar seusai didoakan di Sitinggil Lor Keraton Kasunanan, Senin (11/3). Joglosemar/Yuhan Perdana

Ratusan kerabat dan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta, siang itu berdoa bersama di Sitinggil Lor Keraton. Doa itu sebagai permulaan dimulainya ritual Mahesa Lawung, Senin (11/3). Berangkat dari keraton, mereka beranjak ke Alas Krendowahono, Karanganyar. Di tempat itulah, ritual penguburan kepala kerbau dilangsungkan.

Aneka sesaji, seperti nasi tumpeng, ayam panggang, kelapa muda, pisang, dan salak disiapkan. Sedangkan kepala kerbau yang hendak dikubur dibungkus dengan kain putih. Pengageng Museum Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Puger, menjelaskan, semua makanan yang disajikan itu, sejatinya sebagai ungkapan syukur pada Tuhan.

Sedangkan kepala kerbau yang dikubur, kata Puger, menganut falsafah Jawa, bahwa penguburan kepala kerbau adalah mengubur kebodohan. ”Semua makanan ini hasil bumi. Kecuali kepala kerbau yang akan dipendam di Alas Krendowahono. Prosesi penguburan kepala kerbau ini merupakan simbol bahwa kebodohan harus kita hindari yakni dengan mengubur sedalam-dalamnya,” tutur Puger.

Menurutnya, ritual Mahesa Lawung, digelar saban bulan Jumadilakhir pada Minggu terakhir. Sedangkan untuk pilihan harinya, yakni Senin atau Selasa. ”Kami memilih kalender Jawa. Karena lebih sesuai dengan perhitungan kalender Islam. Kebetulan, kali ini kami memilih hari Senin untuk perayaannya,” imbuh dia.

Puger menceritakan, ritual Mahesa Lawung sejatinya menghormati para leluhur. Namun, sekarang lebih berkembang untuk mendoakan keselamatan negara. ”Kami harap Indonesia menjadi negara yang aman, tenteram dan makmur,” ujarnya.

Tak hanya kerabat keraton saja yang terlibat dalam ritual itu. Para mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo juga ikut dilibatkan. ”Kami sengaja mengundang anak-anak muda pada upacara ritual seperti Mahesa Lawung. Agar bisa diketahui generasi muda, sehingga bisa dilestarikan,” kata Puger.

Firman (38), warga Baluwarti, Pasar Kliwon, mengaku sudah tiga kali ikut ritual Mahesa Lawung. Saban ikut ritual itu, ia selalu berharap, keluarganya selalu dijauhkan dari sifat buruk dan  malapetaka. ”Ritual ini seperti membuang sengkala (hal-hal buruk),” kata Firman. Ronald Seger Prabowo

BAGIKAN