JOGLOSEMAR.CO Foto Satu Dekade Nemlikuran, Misteriusnya Topeng Klana

Satu Dekade Nemlikuran, Misteriusnya Topeng Klana

1439
MALEM NEMLIKURAN - Penari membawakan tari golek lambang sari gaya Jogja saat acara Malem Nemilikuran di Pendapa SMKI Solo, Sealsa (26/3) malam. Joglosemar/Abdullah Azzam
MALEM NEMLIKURAN – Penari membawakan tari golek lambang sari gaya Jogja saat acara Malem Nemilikuran di Pendapa SMKI Solo, Sealsa (26/3) malam.
Joglosemar/Abdullah Azzam

Bertajuk Sepuluh Tahun Langen Beksan Nemlikuran, pentas tari klasik kembali disuguhkan di Pendapa SMKN 8 Solo, Selasa (26/3) malam. Lantaran sebagai perayaan satu dekade, pentas tari klasik yang ditawarkan pun tak seperti biasanya alias spesial.

Pentas diawali dengan sajian tarian Umbul Dungo. Kemudian berturut-turut dilanjutkan dengan Bedaya Rudrah, Pasihan Driasmara, Manguwung. Salah satu pentas yang spesial adalah tarian khas Jogja, Fragmen Topeng Klana Sewandana. Fragmen tarian dibawakan secara apik oleh Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Jogjakarta. Lantaran terbiasa dengan tarian Jogja, sejumlah penari bergerak dengan lembut tapi penuh ketegasan.

Fragmen menceritakan Prabu Klana Sewandana yang jatuh cinta dengan Dewi Sekartaji. Padahal Dewi Sekartaji sudah memiliki seorang kekasih yang bernama Raden Panji Inukertapati. Lantas timbul niat jahat dari Prabu Klana untuk menculik Dewi Sekartaji.

Prabu Klana Sewandana menyuruh anak buahnya untuk menculik Dewi Sekartaji. Akan tetapi Dewi Sekartaji terus berusaha untuk membebaskan dirinya dari semua itu. Tak butuh waktu lama usaha itu akhirnya dirinya dapatkan, Dewi Sekartaji berhasil mengelabui Prabu Klana Sewandana dan anak buahnya.

Prabu Klana Sewandana bersama anak buahnya terus mengejar Dewi Sekartaji. Akan tetapi dalam pelariannya, Dewi Sekartaji sudah berlindung di bawah kuasa Inukertapati. Peperangan Inukertapati dan Prabu Klana Sewandana tak dapat terbendung. Hingga akhirnya Prabu Klana Sewandana tumbang dengan tusukan keris dari Inukertapati.

Asmara dan gejolak peperangan sangat jelas tersirat lewat tarian tradisi gaya Jogjakarta ini. Ekspresi misterius dan penuh ketegangan terasa dalam   fragmen yang pernah dibawa dalam festival tarian tingkat Asia di Thailand ini terlihat eksotis. Penonton terasa menanti setiap gerak dan ekspresi yang ditampilkan.

“Sampai saat ini jenis cerita ini jarang sekali di tampilkan, karena masyarakat hanya mengenal cerita Ramayana dan Mahabarata saja. Padahal cerita ini juga bagus untuk ditampilkan lewat tari. Terbukti beberapa waktu lalu banyak warga asing yang mengapresiasinya, sewaktu kami bawa ke Thailand,” ujar Siti Sutiah Sasmintadipura, Pimpinan Yayasan.

Namun, suasana misterius penonton sirna kala Sahita yang berhasil mengajak penonton tertawa dengan banyolan khasnya. Usia terbilang cukup tua, namun gayanya masih seperti anak muda.

Bambang Suhendro, Koordinator Pelaksana Kegiatan Bambang Suhendro apresiasi dan partisipasi dari masyarakat dan seniman-seniman yang membawa Malam Nemlikuran bertahan sampai saat ini. “Kami akan terus mempertahankan ciri khas Malam Nemlikuran ini, yakni pertunjukan tari tradisi dari berbagai daerah,” ujar Bambang.

Raditya Erwiyanto.

BAGIKAN