JOGLOSEMAR.CO Daerah Boyolali Sayuran Diserang Bendol, Petani Resah

Sayuran Diserang Bendol, Petani Resah

863
BAGIKAN
DISERANG ULAT- Petani Desa Sukabumi tengah mencabut tanaman kolnya akibat serangan ulat dan benjol, Senin (18/3). Joglosemar|Ario Bhawono
DISERANG ULAT- Petani Desa Sukabumi tengah mencabut tanaman kolnya akibat serangan ulat dan benjol, Senin (18/3). Joglosemar|Ario Bhawono

BOYOLALI – Petani lereng Merapi resah kembali resah karena tanaman sayur mereka kembali terserang hama,  yakni hama bendol  atau akar ganda, jamur, dan ulat. Hama tersebut telah menyerang sayuran di lima hektar lahan milik warga di Desa Jrakah.

Hama menyerang tanaman jenis sayur-sayuran hijau seperti sawi, kubis, kembang kol, maupun brokoli. Petani sebenarnya sudah berupaya membasmi hama tersebut dengan obat-obatan, namun upaya mereka gagal. Akibatnya petani rugi besar karena gagal panen, mengingat tanaman yang terserang hama, khususnya hama bendol dipastikan akan mati. “Kalau sudah terserang bendol, membasminya sulit sekali dan belum ada obatnya,” tutur Wiyono (32), petani Desa Jrakah, Senin (18/3).

Marni Suroso Kadus III Jrakah membenarkan musibah yang dialami petani di desanya itu. Menurutnya hama sudah menyerang lebih dari lima hektar lahan sayuran. Menurut Marni, hama bendol menyerang akar sayuran di bagian dalam. Akibatnya akar sayuran pun seperti bercabang ganda penuh benjolan. Jika terserang hama ini sayuran menjadi layu dan mati. Biasanya hama ini mulai menjangkiti akar tanaman saat memasuki usia satu bulan tanam.

“Petani sudah berupaya mengobati tanaman mereka tapi sia-sia, ada juga yang mengantisipasi dengan mencangkul dalam-dalam tapi juga tidak berhasil, malah ada yang terpaksa membasmi dengan cara dibakar, juga belum ada yang berhasil, petani jadinya resah karena gagal panen,” kata dia.

Selain hama bendol, petani juga dipusingkan serangan hama lalat dan ulat yang menyerang batang serta daun sayuran. Apalagi serangan lalat dan ulat ini cukup ganas, meski sudah diobati serangan hama tak kunjung reda. “Belum lagi serangan kupu-kupu dan belalang, membuat kami kewalahan mengatasinya,” papar da.

Menurutnya petani pernah mendatangkan ahli tanaman dari Yogyakarta untuk belajar membasmi hama. Namun ternyata teori penanganan hama yang diberikan setelah dipraktikan juga tidak berhasil maksimal. Hama-hama itu tetap saja muncul dan menyerang tanaman sayuran mereka. Akibatnya, petani harus gigit jari karena panen tak maksimal, bahkan kadang terpaksa gagal panen. Ario Bhawono