Segelas Teh Berujung Malu

Segelas Teh Berujung Malu

445

SEGELAS TEH BERUJUNG MALUBeberapa waktu lalu, Dul Kenthut sedang berkunjung ke Kota Yogyakarta. Salah seorang adiknya sedang menempuh pendidikan di kota pelajar tersebut. Kebetulan adiknya sedang sakit dan ibunya menyuruh Dul Kenthut untuk menengok adiknya, siapa tahu memerlukan bantuan.

“Pokoknya kamu harus pastikan adikmu tidak kenapa-napa. Kalau perlu, kamu nginap di sana,” pesan ibunya.

“Ya ndak bisa ta, Bu. Wong itu tempat kos putri, kok,” sahut Dul Kenthut.

“Ya kepepetnya kamu kan bisa tidur di teras, Le,” kata ibunya. Dul Kenthut hanya bisa mecucu.

Singkat cerita, Dul Kenthut bergegas mengendarai motornya menuju Kota Yogyakarta. Memerlukan waktu satu jam lebih untuk sampai di kota tersebut. Setelah masuk beberapa gang, Dul Kenthut pun sampai di tempat kos adiknya yang bernama Moly Geli. Saat tiba di situ, beberapa teman kos Moly Geli sedang santai di teras. Dul Kenthut memarkir motornya dan menghampiri mereka.

“Permisi, mau ketemu Moly bisa?” tanya Dul Kenthut.

“Moly sedang ke dokter, Mas. Katanya pusingnya malah semakin menjadi. Mari, silakan duduk,” jawab salah satu teman kos Moly yang tahu kalau Dul Kenthut adalah kakak Moly Geli.

Karena merasa rikuh duduk bersama teman-teman adiknya yang semuanya wanita, Dul Kenthut memutuskan untuk menunggu di warung makan yang berada tepat di depan kos. Ia masuk ke warung makan yang penuh dengan mahasiswa sedang mengisi perut. Karena masih kenyang, Dul Kenthut hanya memesan segelas teh hangat. Toh, ia hanya menunggu kedatangan adiknya.

Beberapa saat kemudian, ia melihat Moly sudah datang. Ia bergegas menghampiri pemilik warung makan. “Sudah, Bu. Berapa, Bu? Satu gelas teh hangat,” kata Dul Kenthut sambil mengeluarkan dompetnya.

“Oh… teh di sini gratis kok, Mas,” sahut pemilik warung makan sambil mesem. Dul Kenthut melongo salah tingkah. Ia pun bergegas meninggalkan warung makan itu diiringi senyum geli beberapa orang yang sedang makan. Ealah… Dul… dikira cari gratisan.

BAGIKAN