Sindikat Perdagangan Gadis SMP Dibongkar

Sindikat Perdagangan Gadis SMP Dibongkar

962

Libatkan Sekdes, Dijual ke Gunung Kemukus

ilustrasi
ilustrasi

SRAGEN—Jajaran Polres Sragen berhasil mengungkap sindikat penjualan gadis di bawah umur yang dipekerjakan sebagai wanita penghibur di kafe kompleks Wisata Gunung Kemukus, Sumberlawang, Sragen. Tragisnya, sindikat ini juga melibatkan sekretaris desa (Sekdes) yang diduga ikut berperan membuatkan kartu tanda penduduk (KTP) palsu agar korban bisa dipekerjakan.

Dari sindikat ini, aparat mengamankan Manto alias Pethik (50), warga Dukuh Gunungsari RT 33, Desa Pendem, Sumberlawang yang menjadi otak sekaligus pemilik kafe. Selain itu, Sekdes Pendem, Widodo (64), warga Pendem RT 14, juga ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti menerbitkan KTP palsu untuk korban.

Jaringan ini terungkap ketika salah satu korban, DTY (13), pelajar SMP asal Ngandong, Boyolali ditemukan oleh orangtuanya saat dipekerjakan di kafe remang-remang milik Manto alias Pethik. Korban ditemukan berkat bantuan salah seorang warga di kompleks Gunung Kemukus yang mengetahui korban dipekerjakan di kafe milik Manto.

Menurut keterangan orangtua korban di Polres, putrinya ditemukan setelah menghilang sejak tanggal 4 Januari lalu. Kala itu, korban yang masih duduk di bangku kelas satu SMP, tidak kunjung pulang. Semula, ia dikira ke Solo ke rumah neneknya, Mbah Raji sehingga orangtua tak begitu cemas.

Setelah tiga hari tak pulang, kedua orangtuanya baru kebingungan dan berusaha mengecek ke rumah neneknya di Solo. Namun mereka kaget karena putrinya juga tidak berada di sana. Mendapati putrinya hilang, mereka kemudian menginformasikan ke tetangga. Hingga kemudian, tanggal 22 Februari lalu, mereka mendapat informasi dari Pangat (50), warga Gunungsari, Pendem bahwa putrinya dipekerjakan di warung kafe milik Manto.

“Karena anaknya tidak kunjung pulang, awalnya orangtua korban melapor ke Ngandong, Boyolali. Namun karena saksi, pelaku, dan kejadiannya ada di Sragen kemudian melapor ke sini dan langsung kami limpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reskrim Polres  Sragen,” ujar Kapolsek Sumberlawang, AKP Giyanto mewakili Kapolres Sragen, AKBP Susetio Cahyadi, Senin (4/3).

Hasil pengembangan yang dilakukan jajaran kepolisian, ternyata jaringan tersebut juga menyeret nama Sekdes Pendem, Widodo. Setelah ditelusuri, Widodo diketahui telah membuatkan KTP palsu untuk korban dengan umur yang dituakan dari umur aslinya agar bisa dipekerjakan. Widodo kini juga sudah ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan melakukan pemalsuan dokumen otentik.

Sementara dari pengakuan Manto, modus perdagangan itu dilakukan setelah dirinya melihat peluang dari korban yang mengaku sudah bosan sekolah dan ingin bekerja. Dari situlah, ia kemudian menawarkan bisa membantu mencarikan pekerjaan di rumah makan di luar Sragen.

Setelah dicarikan KTP palsu di Pendem, korban bukan dibawa ke rumah makan, namun justru diajak ke warungnya dan dipekerjakan sebagai wanita penghibur yang bertugas menemani para pengunjung yang minum dan menikmati musik. Hanya saja, saat ditanya berapa korban dibayar pertama kali dan apakah juga dipekerjakan untuk melayani kebutuhan biologis pengunjung, pelaku enggan menjawab.

Kades Pendem, Saidi Rosyid membenarkan bahwa Widodo adalah Sekdesnya. Namun soal pembuatan dan pengambilan KTP palsu atas nama korban, sama sekali di luar sepengetahuannya maupun pihak desa.

Kapolres Sragen, AKBP Susetio Cahyadi melalui Kasubag Humas, AKP Sri Wahyuni mengatakan saat ini Manto dan Sekdes Pendem, Widodo sudah ditahan di Mapolres. Manto bakal dijerat pasal berlapis yakni UU perlindungan anak, memperdagangkan anak di bawah umur, dan pemalsuan dokumen otentik dengan ancaman hukuman di atas 15 tahun. Sedangkan Widodo dijerat dengan pemalsuan dokumen otentik dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. Wardoyo

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR