JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen SISWA DITAHAN : Diizinkan Ikut UAS, Berharap Keajaiban Bisa Lulus

SISWA DITAHAN : Diizinkan Ikut UAS, Berharap Keajaiban Bisa Lulus

1016
BAGIKAN

SISWA SMKN 1 KEDAWUNG SRAGEN 18 HARI DITAHAN

Selama 18 hari, siswa kelas XII SMKN 1 Kedawung, Sragen, Hendi Fuad Abdurahman, hidup dibalik jeruji. Ia berharap meski menjalani penahanan kontroversial agar tak menggagalkan impiannya untuk lulus sekolah. 

PASRAH- Hendi Fuad Abdurrahman (16), siswa kelas XII SMKN 1 Kedawung, Sragen tampak pasrah saat dijemput oleh penyidik Polres sesaat setelah menyelesaikan ujian akhir sekolah (UAS) hari pertama, Senin (18/3).  Wardoyo
PASRAH- Hendi Fuad Abdurrahman (16), siswa kelas XII SMKN 1 Kedawung, Sragen tampak pasrah saat dijemput oleh penyidik Polres sesaat setelah menyelesaikan ujian akhir sekolah (UAS) hari pertama, Senin (18/3). Wardoyo

Setelah melalui perjuangan dan dukungan berbagai pihak, Hendi Fuad Abdurrahman (16), siswa kelas XII SMKN 1 Kedawung yang ditahan gara-gara melerai perkelahian, akhirnya diizinkan mengikuti ujian akhir sekolah (UAS) di sekolahnya, Senin (18/3). Meski dengan persiapan seadanya, siswa yang sudah ditahan hampir 18 hari itu tetap berharap insiden penahanan kontroversial ini tak sampai menggagalkan impiannya bisa lulus tahun ini.

Jarum jam tepat menunjukkan pukul 09.30 WIB. Ketika itu, dua orang personel penyidik Reskrim Polres Sragen tampak tergesa-gesa menuju ruang ujian No 7 di SMKN 1 Kedawung, tempat Hendi berada. Sesampai di ruangan, para siswa kebetulan tengah memeriksa soal UAS jam kedua yang baru saja mereka terima. Kedatangan dua personel polisi itu pun sejenak menghentikan semua aktivitas siswa.

“Maaf, Hendi terpaksa harus kami bawa dulu karena masih harus diproses lagi,” ujar personel polisi itu meminta izin ke guru pengawas ujian.

Sang guru pun tak lagi bisa berontak. Hendi yang baru memegang soal, pun terpaksa harus kembali meninggalkan lembaran itu di mejanya. Diambilnya tas dan kemudian meminta diri diikuti dua personel polisi tadi yang langsung menggiringnya ke mobil polisi.

Pamannya, Totok Saryanto yang datang lima menit berselang, bahkan tak sempat bertatap muka dengan keponakannya. Meski tak sempat bicara banyak, raut wajah Hendi pagi itu sedikit menyiratkan rasa kecewa karena tak bisa ikut ujian jam kedua. Di sepanjang perjalanan menuju mobil, ia berkali-kali meyakinkan jika dirinya hanya berniat melerai perkelahian namun entah kenapa justru dijadikan tersangka.

“Saya hanya melerai mas nggak ngeroyok,” sebutnya sembari berjalan.

Sembari terus berjalan,siswa bertubuh kecil itu juga mengaku sejak ditahan tanggal 2 Maret lalu, ia memang kehilangan kesempatan untuk belajar. Termasuk menghadapi UAS hari pertama kemarin, siswa asal Kutho, RT 2/1, Kerjo, Karanganyar itu mengaku tak ada persiapan apapun. Kendati kemarin hanya bisa ikut satu mata ujian, ia tetap berharap hari berikutnya bisa diizinkan ikut ujian di sekolah. Karena tanpa persiapan, dirinya pun hanya pasrah dan berharap keajaiban agar bisa lulus tahun ini.

“Ya pinginnya lulus,” akunya.

Kepala SMKN 1 Kedawung, Taryono mengapresiasi itikad kepolisian yang akhirnya mengantar Hendi ke sekolah meski hanya ikut satu mata ujian. Menurut keterangan dari pihak penyidik kepolisian, Hendi terpaksa dijemput karena akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari). Ia pun berharap kejaksaan bisa memberi kelonggaran agar siswanya itu bisa mengikuti UAS sampai jadwal UAS selesai. “Apalagi dia kan masih di bawah umur dan dalam amanat Undang-Undang berhak mendapat wajib belajar 12 tahun. Hari ini, orangtuanya didampingi penyidik akan menyampaikan permohonan tidak ditahan selama UAS ke kejaksaan,” urainya.

Sementara, pamannya, Totok mengaku tak habis pikir dengan sikap kepolisian yang ngotot tidak memberikan izin kepada keponakannya untuk ikut UAS. Sebab menurut riwayatnya, keponakannya memang hanya melerai temannya bukan mengeroyok seperti yang dituduhkan. Totok yang juga salah satu pegawai di LP Sragen justru mempertanyakan alasan kepolisian ngotot menahan keponakannya.

“Dalam banyak kasus yang lebih besar saja, kami sering mengeluarkan tahanan yang mendapat penangguhan. Tapi ini kok tidak, padahal anaknya masih pelajar,” tegasnya. Wardoyo