Siswa SD Ikuti Simulasi Bencana

Siswa SD Ikuti Simulasi Bencana

619
SIMULASI TANGGAP BENCANA--Sejumlah siswa SD Muhammadiyah Program Khusus Kotabarat berlarian keluar gedung sekolah saat mengikuti kegiatan Simulasi Tanggap Darurat Bencana, Selasa (19/3). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo
SIMULASI TANGGAP BENCANA–Sejumlah siswa SD Muhammadiyah Program Khusus Kotabarat berlarian keluar gedung sekolah saat mengikuti kegiatan Simulasi Tanggap Darurat Bencana, Selasa (19/3). Joglosemar/ Kurniawan Arie Wibowo

SOLO – Ratusan siswa SD Muhammadiyah Kota barat mengikuti kegiatan simulasi bencana di aula SD setempat. Anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan yang dipandu oleh delapan orang anggota tim SAR.

Koordinator tim SAR, Dwi Yulianto mengatakan, simulasi tentang kebakaran itu dilakukan karena anak-anak belum tahu mengenai alat-alat pemadam kebakaran serta cara antisipasi jika terjadi gempa.

“Intinya  agar anak-anak tahu tentang mitigasi bencana. Untuk mereka, ini hanya pengetahuan saja. Anak-anak kita perkenalkan Apar, tabung pemadam kebakaran dan cara memadamkan api dengan karung goni yang dibasahi air. Untuk gempa anak-anak kami ajak keluar dari gedung dan menjauhi pepohonan yang tinggi dan besar,” jelasnya.

Adelin Arindita Salsabila (10), di sela-sela kegiatan sempat mengatakan senang mengikuti kegiatan itu, karena dulu pernah merasakan bagaimana takutnya saat merasakan gempa bumi. Namun, Adel mengaku masih tetap takut meski sudah dilatih.

“Semoga saja tidak ada bencana, soalnya tetap takut kalau nanti ada bencana meski sudah dikasih tahu, dulu aja gemetaran saat tahun 2010 dulu ada gempa,” tutur siswa kelas 5 itu.

Sementara itu, Humas Perguruan Muhammadiyah Kota Barat mengatakan, kegiatan itu untuk membekali para siswa, khususnya kelas 1 hingga 5 tentang pengetahuan bencana alam. Tujuannya, agar anak-anak tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.

“Mumpung sekarang masih kecil ingatannya masih kuat untuk merekam pengetahuan,” ujarnya pada Joglosemar, Selasa, (19/3).

Menurutnya, cara menghadapi bencana merupakan bagian dari kurikulum sekolah, terutama untuk kelas 6. Sedangkan untuk kelas 4 dan 5 baru sebatas pengenalan.

“Harapannya dengan kegiatan ini selain bermanfaat untuk diri anak juga bermanfaat untuk orang lain,” terang guru kelas SD kelas 6 itu. ***   Ahmad Yasin Abdullah

 

 

 

 

 

 

BAGIKAN