JOGLOSEMAR.CO Pendidikan Akademia Skripsi, Kegalauan di Akhir Kuliah

Skripsi, Kegalauan di Akhir Kuliah

1071
BAGIKAN

Mahasiswa yang memutuskan untuk memulai membuat skripsi juga dituntut untuk mampu mengolah dan memakai kosakata ilmiah hingga sistematika penulisan yang baku.

CEPAT SELESAI- Mahasiswa harus mampu mengelola dirinya sendiri agar mampu menyelesaikan skripsi secara tepat waktu. Tim UIN Suka
CEPAT SELESAI- Mahasiswa harus mampu mengelola dirinya sendiri agar mampu menyelesaikan skripsi secara tepat waktu. Tim UIN Suka

Ada awal, pasti ada akhir. Sebuah jargon untuk menganalogikan banyak hal, lebih tepatnya pada sebuah perjalanan untuk mencapai sesuatu. Begitu juga dengan proses pendidikan, khususnya di Perguruan Tinggi (PT). Pada awal tahun ajaran, para mahasiswa angkatan baru berbondong-bondong mengikuti masa orientasi. Mereka masuk bersama-sama dan menikmati euforia menjadi mahasiswa.

Seiring berjalannya waktu, euforia kuliah pada berbagai program studi mulai terlupakan. Hingga pada satu waktu ketika mahasiswa harus memulai untuk merangkum semua proses akademiknya dalam sebuah karya akhir, kegalauan pun dimulai. Sebut saja skripsi. Di sanalah tanggung jawab moral dipertarungkan. Mereka tak lagi bersama-sama merasakan indahnya menjadi mahasiswa lantaran sudah disibukkan oleh kepentingan masing-masing. Pun pada akhirnya, mereka lulus tidak bersama-sama layaknya saat mulai masa orientasi.

Kegalauan skripsi tersebut dirasakan oleh Charis Fuadi, mahasiswi tingkat X Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. “Masih banyak hal yang harus saya kerjakan selain kuliah. Tanggungan di luar skripsi itulah yang membuat say gelisah sehingga berdampak pada skripsi. Saya menjadi tidak fokus” ungkapnya Charis, di sela-sela aktivitasnya sebagai staf madrasah aliyah di Yogyakarta.

Kegelisahan juga dirasakan oleh Rahmawati, mahasiswi Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Rahmawati merasa malu lantaran belum lulus pada waktunya. Orangtuanya juga selalu menanyakan hal itu. “Jelas gelisah karena juga dikejar waktu dan umur yang semakin menua. Sampai-sampai pernah ada teman yang ngira saya  sudah punya anak,” kata dia.

Menurutnya, telat skripsi yang dia alami tersebut disebabkan oleh penggalian ide yang kerap tersendat sehingga penulisan skripsi menjadi terhambat.

Sebenarnya tidak ada persiapan yang khusus dilakukan untuk menghadapi skripsi.  Segala sesuatu jika dipersiapkan dengan baik  maka hasil yang diperoleh juga akan baik. “Begitu juga dengan penyusunan skripsi, kita harus memiliki persiapan yang matang. Topik yang kita pilih sesuai dengan minat, lakukan survei pendahuluan terlebih dahulu, konsultasi judul yang kita pilih dengan dosen pembimbing atau dosen wali, dan juga siapkan literatur terlebih dahulu,” jelas Arkin Bin Syukri, mahasiswa semester 8  Institurt Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry.

Dalam pengungkapannya, disebutkan jangan pernah menunda, jangan pernah ada kata esok. Rasa malas itu suatu hal yang lumrah bila masih bisa dikontrol. Yakinkan pada diri sendiri bahwa skripsi itu dikerjakan bukan untuk dipikirkan. Arkin ingin membuktikan bahwa organisasi tidak pernah menganggu dalam hal kuliah.

“Selalu berpikir positif, kalau skripsi itu bukan beban tapi tantangan. Selanjutnya jika terlalu lelah dengan skripsi luangkan waktu untuk melakukan hal yang lain yang membuat Anda melupakan skripsi untuk sementara waktu. Seperti bermain bola dan game,” tandasnya.

Sementara itu, Mohammad Mahfudz, SSos,MSi, Dosen dan Pengendali Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fishum) UIN Sunan Kalijaga mengungkapkan skripsi merupakan karya ilmiah dari satu penelitian yang menjadi tolak ukur bagaimana mahasiswa berproses dalam studinya.

Paham Permasalahan

Melalui skripsi, mahasiswa dituntut mampu dan cakap dalam menganalisis masalah, menentukan cara dalam memahami masalah, mengorganisasikannya hingga bagaimana masalah yang dikaji tersebut diperlakukan. Tidak cukup hanya itu, mahasiswa yang memutuskan untuk memulai membuat skripsi juga dituntut untuk mampu mengolah dan memakai kosakata ilmiah hingga sistematika penulisan yang baku.

Dalam realita, mahasiswa memiliki kebebasan untuk mengorganisasikan waktu, pemikiran dan kegiatan. “Mahasiswa tidak boleh main-main dengan skripsi. Hal yang paling pokok, mahasiswa harus tahu fenomena apa yang akan diangkat dan sesuai dengan jurusan. Kemudian temukan masalah dari fenomena tersebut. Kalau sudah ketemu baru memikirkan metodologi. Karena kalau berangkat dari judul tapi Anda tidak tahu masalah apa yang memang menarik untuk diangkat dikhawatirkan penelitian Anda nantinya menjadi bias,” ungkap Mahfudz.

Turut menambahkan,  seorang dosen psikologi, Raden Rahmi Diana, SPsi, MA, bahwa menyiapkan hati agar tidak galau, yaitu mengetahui penyebab galau tersebut. Sadari apa yang mendasarinya, apakah karena masalah dosen, malas, atau apa. Selanjutnya, paham masalahnya, kemudian satu persatu diselesaikan, contoh referensi kurang, maka harus memaksa diri untuk lebih giat membaca berbagai referensi.

“Jadi kalau mahasiswa sudah mengambil skripsi berarti telah mencapai tingkat kematangan, sehingga harus mengelola dirinya.  Mungkin mahasiswa yang belum lulus-lulus belum cukup motivasi menjadi sarjana, belum ingin membahagiakan orangtua,” ujarnya.  Tim UIN Sunan Kalijaga