JOGLOSEMAR.CO Daerah Sragen Solar Nihil, Puluhan SPBU Tutup

Solar Nihil, Puluhan SPBU Tutup

285
BAGIKAN

Krisis solar bersubsidi juga dirasakan oleh sejumlah instansi Pemkab Sragen terutama yang terkait dengan mobil ambulans, pemadam kebakaran, dan armada sampah.

Ilustrasi
Ilustrasi

SRAGEN—Krisis bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di Kabupaten Sragen benar-benar mencapai puncak. Setelah beberapa hari dilanda kekosongan pasokan, kemarin hampir semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sragen sudah tidak melayani pembelian karena stoknya kosong.

Hasil penelusuran Joglosemar ke sejumlah SPBU di jalur utama Sragen menuju Solo dan Ngawi, sejak Kamis (21/3) dini hari hingga pagi kemarin sudah menutup layanan solar bersubsidi karena stok habis. Beberapa pengelola SPBU di jalur utama Sragen juga menuturkan kekosongan terjadi di 21 SPBU yang tersebar di wilayah Sragen. Stok solar habis karena sudah beberapa hari tidak dikirim oleh Pertamina.

“Sudah dari Rabu (20/3) malam sebagian sudah habis. Kami juga sejak Rabu malam sudah tidak jual karena tiga hari tidak dikirim. Kalau kemarin (lusa) baru delapan (SPBU)yang kosong, hari ini (kemarin) mungkin sudah puluhan yang kosong stok solarnya,” papar salah satu pengelola SPBU di Sragen Kota yang minta identitasnya tidak disebut, Kamis (21/3).

Krisis solar bersubsidi dibenarkan sebagian pengguna kendaraan umum berbahan bakar solar. Aji (43), warga Karanganyar, yang juga manajer sebuah perusahaan farmasi di Solo mengaku kesulitan mengisi bahan bakar saat bertandang ke Sragen, Kamis (21/3) kemarin. “Saya sudah muter-muter dari Sambungmacan, dan mampir di enam SPBU, semua tidak punya solar. Kata petugasnya, stok sudah habis karena tidak dikirim lagi sejak dua hari,” ujarnya kesal.

Sejumlah instansi Pemkab yang mengoperasikan mobil dinas ambulans dan pemadam maupun armada sampah pun juga menjerit. Kasubag Umum dan Rumah Tangga RSUD Dr Soehadi Prijonagoro, Handoko, mengatakan sudah dua hari terakhir, pihaknya kesulitan mendapatkan solar bersubsidi karena semua SPBU kosong. Padahal, dari lima unit mobil ambulans milik RSUD setiap hari minimal membutuhkan 50 liter solar per unit dan semuanya harus dalam posisi stand by.

Sekretaris Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sragen, Sih Mulyono mengatakan dari 17 unit mobil armada sampah yang beroperasi hingga kini memang masih tercukupi persediaannya. Namun, jika krisis solar terus terjadi, maka pihaknya akan mengajukan nota dinas anggaran tambahan ke bupati.

Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Sragen, Siti Suharmi menyebutkan sejak Rabu (20/3), seluruh SPBU di jalur utama Sragen menuju Solo dan Ngawi memang sudah nihil stok solar bersubsidi. Namun untuk Kamis (21/3) kemarin pihaknya belum mendapat laporan lagi. Atas kondisi tersebut, pihaknya juga akan segera berkoordinasi dengan Pertamina agar pasokan secepatnya dinormalkan kembali.

Sementara, Staf Bidang Perdagangan, Joko Suratno mengatakan seretnya pasokan dimungkinkan karena ada pengetatan distribusi solar bersubsidi terkait kebijakan pembatasan BBM yang diberlakukan 1 Maret lalu.

Wardoyo

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here