Solo Cycling Company (SCC)

Solo Cycling Company (SCC)

1364

Lepaskan Penat dengan Gowes

Lewat Bike to Work inilah, komunitas SCC semakin dikenal dan semakin memiliki banyak kenalan dengan komunitas lain.

Solo Cycling Company
Solo Cycling Company

Berawal dari kesukaan atau hobi bersepeda kayuh, sekelompok orang ini akhirnya membuat sebuah komunitas sepeda. Komunitas yang mereka buat dinamakan Solo Cycling Company (SCC). Awalnya, mereka tidak ada niatan untuk membuat komunitas. Komunitas ini dibuat secara spontan pada 7 Januari 2011. Perkumpulan komunitas SCC dimulai oleh dua orang yang merupakan tetangga rumah. Mereka sering melakukan gowes sepeda bersama. Kemudian, mereka pun mengajak teman-teman lain untuk bergabung untuk gowes bersama mereka.

Lama melakukan aktivitas itu, mereka akhirnya memutuskan membuat nama untuk perkumpulan mereka. Jika biasanya komunitas sepeda menamakan diri sesuai dengan jenis sepeda yang dipakai, mereka tidak demikian. Mereka menamakan komunitas bukan berdasarkan jenis sepeda yang mereka pakai tapi kesamaan hobi bersepeda. “Kalau biasanya komunitas sepeda dinamakan sesuai dengan sepeda yang mereka buat. Komunitas kita tidak seperti itu karena memang kita berkumpul bukan berdasar kesamaan sepeda tapi kesamaan hobi,” ungkap Iqbal Abdul Latief selaku Ketua SCC.

Iqbal sapaan akrab Iqbal Abdul Latief , mengaku suka sepeda sudah sejak lama tapi baru setelah duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) dia tiba-tiba saja memutuskan untuk mengubah kebiasaan naik sepeda motor dengan naik sepeda kayuh. Ketika bersepeda kayuh itulah dia merasakan menemukan kenyamanan baru. “Naik sepeda itu seperti refreshing. Selain capai kita juga merasakan kesenangan. Setiap perjalanan ada pemandangan baru dan ada keasyikan baru yang kita lihat,” paparnya.

Baca Juga :  Street Art Keren Karya Ibu-ibu di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan

Saat ini anggota komunitas berjumlah sekitar 20-an orang dengan berbagai macam sepeda yang dipakai mulai dari fixie, hingga Sepeda Lipat (Seli) dan sebagainya. Aktivitas rutin yang mereka jalani yakni gowes bersama. Kegiatan ini mereka lakukan rutin setiap Jumat malam. Selain itu, mereka juga sering mengikuti acara Solo Last Friday. “Kalau gowes kita sengaja memilih malam hari karena tidak terlalu macet dan lebih nyaman. Selain itu, siang hari kita semua masih sibuk dengan aktivitas masing-masing,” jelas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Jurusan Psikologi ini.

 

Aksi Sosial

Tak hanya gowes biasa, mereka juga melakukan gowes sosial dengan membagikan nasi bungkus pada orang-orang yang berada di pinggir jalan yang mereka lewati baik untuk tukang becak maupun untuk anak jalanan. Ide-ide semacam ini, biasanya muncul secara tiba-tiba. Mereka sudah melakukan aksi membagikan nasi bungkus sebanyak dua kali.

Selain aktif pada komunitasnya, mereka juga aktif bergabung dengan gerakan Bike to Work. Lewat Bike to Work inilah, komunitas SCC semakin dikenal dan semakin memiliki banyak kenalan dengan komunitas lain. Mereka juga sering mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Bike  to Work seperti saat menyambut Srikandi Bersepeda dari Jepara. “Kita terjauh gowes waktu mengantarkan Srikandhi bersepeda sampai ke Prambanan. Ide itu pun muncul mendadak tanpa persiapan,” tandas mahasiswa yang aktif di dunia teater.

 

Ikut Menjaga Lingkungan

Bersepeda bagi Iqbal Abdul Latief dan kawan-kawannya yang tergabung di komunitas  Solo Cycling Company (SCC) seperti sebuah obat galau. Sehingga dia pun sangat menikmati setiap kayuhan dan setiap pemandangan yang dilihat ketika bersepeda. Bahkan, bagi Iqbal sang Ketua SCC,  sepeda seperti pacar baginya, saking sukanya bersepeda, teman wanitanya sempat cemburu karena sepeda lebih menjadi prioritas perhatiannya.

Baca Juga :  Street Art Keren Karya Ibu-ibu di Perumahan Dosen UNS IV Triyagan

Selain merupakan sebuah hobi, bersepeda juga merupakan cara bagi komunitas ini untuk mengatasi masalah kemacetan di Solo. Tak dimungkiri bahwa saat ini jalan di Solo sudah mulai didominasi mobil-mobil pribadi yang membuat jalan sesak dan macet. Mereka pun memutuskan untuk bersepeda agar tidak terjebak kemacetan. “Terkadang saya justru tertawa melihat mobil-mobil yang terjebak macet. Sedangkan saya dan teman-teman bisa lewat dengan leluasa,” ungkap Iqbal baru-baru ini.

Pria kelahiran Solo 24 Juni 1992 ini mengatakan, selain kemacetan, mereka sadar betul bahwa kendaraan bermotor juga mengakibatkan polusi. Komunitas SCC memang bukan komunitas pencinta lingkungan, tapi secara tidak langsung kepedulian pada lingkungan juga muncul pada diri mereka. Mereka pun beberapa kali ikut berkontribusi pada acara yang diadakan oleh komunitas-komunitas pencinta lingkungan seperti Earth Hour Solo dan Green Movement UNS.

Semua orang baik wanita maupun pria yang hobi bersepeda dengan usia apa pun bisa bergabung dengan komunitas ini. Mereka biasanya berkumpul untuk melakukan gowes di Pom Bensin Purwosari. “Bagi yang ingin bergabung langsung saja ikut gowes bareng karena tidak ada syarat. Yang penting memiliki kesamaan hobi,” pungkasnya.

Rahayu Astrini

 

BAGIKAN