JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Solo Siap Tampung Eksodus 90 Pabrik dari DKI

Solo Siap Tampung Eksodus 90 Pabrik dari DKI

424
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

BALAIKOTA-Pemkot Solo siap menampung 90 perusahaan yang ingin hengkang dari DKI Jakarta. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan, sekitar 90 perusahaan di Jakarta akan hengkang, karena tak siap dengan kenaikan upah buruh yang ditetapkan Provinsi DKI.

Walikota Solo, Hadi Rudyatmo, mengatakan, kondisi iklim investasi di Solo sangat kondusif dan jarang terjadi permasalahan. Menurutnya, Solo berpeluang jadi lokasi investasi puluhan perusahaan itu dibandingkan kota lain di Jawa Tengah.

“Saya sudah mendengar adanya rencana 90 perusahaan dari Jakarta yang berniat hengkang ke Jateng. Jika itu benar, Solo siap menampung,” ujar Rudyatmo, Jumat (22/3). Solo, katanya, cocok untuk perusahaan yang padat modal dan padat teknologi.

Alasannya, Solo tidak memiliki lahan kosong yang luas. ”Lebih cocok Solo itu untuk garment dibanding tekstil,” katanya. Lahan yang akan ditawarkan, katanya, di Solo bagian utara. Karena di Solo bagian selatan sudah padat.

Selain itu, tawaran di Solo utara itu, untuk mengindari kesenajangan ekonomi di daerah. Kepala Bidang Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu  (BPMPT) Solo, Ing Ramto, mengatakan, pihaknya berharap ada investasi baru pada tahun ini di Solo.

Terlebih, dari 90 perusahaan, katanya, sudah ada salah satu yang pindah ke Solo.”Kami siap ra memberikan pelayanan kemudahan izin. Ruang investasi di Solo yang masih terbuka ada di wilayah Solo utara. Sebab, di lokasi sana masih banyak tersedia lahan dengan jumlah lumayan luas,” paparnya.

Diakui Ramto, pabrik yang padat karya, tidak cocok di Solo, tetapi lebih pas untuk wilayah Karanganyar, Sukoharjo dan Boyolali. Meski demikian, dia yakin Solo tetap akan menikmati imbas dari puluhan perusahaan yang eksodus dari DKI itu.

Ramto menambahkan,  investasi baru yang ditanamkan di Solo mencapai Rp 2,8 triliun. Investasi tersebut jauh lebih tinggi dibanding belanja modal Pemkot Solo yang besarnya hanya Rp 186 miliar selama setahun. ”Iklim ekonomi di Solo yang kondusif membuat pertumbuhan ekonomi di Solo manarik untuk lahan investasi. Apalagi UMK-nya masih terjangkau,” tandasnya. Muhammad Ismail