JOGLOSEMAR.CO Daerah Jogja Tak Dapat izin, Komnas HAM Batal ke Kopassus

Tak Dapat izin, Komnas HAM Batal ke Kopassus

418
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

JOGJA-Komnas HAM mengagendakan berkunjung ke Markas Kopassus, Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo. Pertemuan itu sedianya akan dilakukan untuk merunut kasus pembunuhan anggota Kopassus di Kafe Hugo’s yang berbuntut pada tewasnya empat pelaku kasus pembunuhan tersebut di Lapas Cebongan, Sleman.

Ketua Komnas HAM, Siti Nurlaela mengatakan, karena tidak bisa ke Kopassus, pihaknya akan langsung ke Mabes TNI. Rencananya, Komnas meminta Mabes untuk mengundang pihak Kopassus dalam pertemuan. “Alasan birokrasi, yakni mereka belum dapat izin dari Mabes. Hanya itu yang disampaikan ke kami,” kata Siti Nurlaela usai menemui Kapolda Brigen Sabar Rahardjo di Mapolda DIY, Rabu (27/3).

Komnas HAM, kemarin juga mendatangi Polda Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menyerahkan satu butir proyektil yang ditemukan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan, Kabupaten Sleman. “Satu proyektil tersebut ditemukan di ruang tahanan Blok A5 yang menjadi tempat penembakan terhadap empat tahanan saat terjadi penyerangan oleh kelompok bersenjata api pada Sabtu (23/3),” kata Siti Nurlaila.

Menurut dia, proyektil tersebut ditemukan saat petugas Lapas Cebongan membersihkan Blok A5 pada Selasa (26/3). “Temuan proyektil tersebut kemudian kami serahkan ke Polda DIY sebagai barang bukti dan bahan penyelidikan,” katanya.

Ia mengatakan, selain itu kedatangan Komnas HAM ke Polda DIY juga dalam rangka koordinasi dengan Polda dan menyampaikan informasi atas temuan-temuan di Lapas Cebongan. “Kami juga minta polda menjaga keamanan dengan baik 31 tahanan di Lapas Cebongan yang melihat langsung insiden penyerangan dan menjadi saksi dalam peristiwa tersebut,” katanya.

Siti mengatakan, pihaknya juga meminta Polda DIY untuk memberikan keamanan kepada warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat ini berada di Yogyakarta. “Mereka ini sekarang masih merasa tidak aman ,” katanya. Ia mengatakan, Komnas HAM juga berkoordinasi dengan Polda DIY untuk pemulihan keamanan di wilayah DIY khususnya bagi saksi dan warga NTT. “Ini sifatnya hanya koordinasi saja. Saat ini juga belum ada bukti baru. Namun kami yakin dengan bukti-bukti yang ada, kasus pelanggaran HAM berat ini akan terungkap,” katanya.

Komnas HAM kemarin juga melanjutkan penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi. Hasilnya  diketahui bahwa belasan penyerang itu membawa sejumlah peralatan. Pastinya mereka membawa senjata laras panjang dan granat. “Mereka menggunakan rompi, HT (handy talkie), sebo (tutup kepala), dan kaus tangan,” jelas Siti Nurlaila.

Para penyerang ketika masuk ke LP pada Sabtu (23/3) langsung mencari empat tahanan yang membunuh anggota TNI di Cafe Hugos.  “Mereka mencari yang namannya Deki,” jelas Siti. Kemudian setelah menemukan sel kelompok Deki, seorang diantara penyerang mengeksekusi empat tahanan tersebut yakni Hendrik Angel Sahetapy alias Deki, Adrianus Candra Galaga, Yohanes Juan Mambait, dan Gamaliel Yermiayanto Rohi.

Detik | Antara