JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kuliner Tape Tan-Pong, Peuyeum Khas Girimarto, Wonogiri

Tape Tan-Pong, Peuyeum Khas Girimarto, Wonogiri

1346
BAGIKAN

Akan Dikembangkan Jadi Jenang Jowo

180313-son-Peuyeum Ti Ciman Wonogiri Sudah banyak yang tahu kalau peuyeum banyak dibuat dan dijual di wilayah Jawa Barat. Tapi belum banyak yang tahu jika di Dusun Ciman, Semagar, Girimarto, Wonogiri juga ada peuyeum. Padahal peuyeum di sana sudah ada sejak 2009 lalu. Sayangnya saat Joglosemar bertandang ke sana, Minggu (17/3), si pembuat sedang libur memproduksi peuyeum.

Satu rumah di atas bukit di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut itu, sejak 2009 lalu membuat peuyeum. Adalah Agus Purnomo yang menjadi satu-satunya pembuat penganan dari singkong ini, baik di Girimarto, maupun di seluruh kabupaten. Agar punya ciri khas, ia mengganti nama peuyeum menjadi “Tape Tan-Pong” atau tape tanpa dipotong  alias dalam bentuk singkong utuh. “Sudah satu pekan ini libur. Mungkin beberapa minggu ke depan akan membuat lagi,” kata Agus.

Menurutnya, saat musim penghujan seperti saat ini jumlah tape Tan-Pong yang dibuat tidak sebanyak saat kemarau. Harga singkong yang naik, juga membuat harga jual tape ini naik namun tetap laku. Selama musim penghujan, ia mengaku hanya mengolah100 kilogram singkong ukuran sedang yang bisa dibuat Tan-Pong atau setara 100 keranjang satu kilo. Satu keranjang kini dijual Rp 7.000.

“Kalau kemarau bisa membuat sampai 400 kilogram. Minimnya produksi saat penghujan dipengaruhi pengeringan di udara bebas. Sinar matahari tidak bisa stabil. Menjemurnya pun tidak langsung di bawah sinar matahari. Butuh alat penghangat agar suhu stabil, baru kami usulkan ke Pemkab dan sepertinya disetujui,” lanjutnya.

Pengolahan tape jenis ini berbeda dengan tape singkong khas Jawa. Setelah dikupas dengan diklokop atau tanpa memakai pisau, singkong lalu disikat dengan sikat yang biasa untuk mencuci baju. Baru dikukus selama 25 hingga 30 menit dalam posisi pangkal singkong berada di bawah. Bonggol singkong tidak dipotong.

“Sebelum dikukus disikat dengan sikat cucian. Tujuannya untuk membuka pori singkong agar proses peragian bisa maksimal. Baru setelah dikukus dan didinginkan diberi ragi dan dibungkus. Dalam dua tiga hari dikeluarkan untuk diangin-anginkan. Kalau kemarau satu hari cukup dan siap jual,” terangnya.

Urusan pemasaran, Agus mengaku tidak kesulitan. Hanya saat kali pertama membuat saja dia harus berputar-putar mencari pembeli. Setelah itu, banyak pesanan datang karena dirinya menempel label beserta nomor telepon di keranjang Tan-Pong. “Sasaran pertama ke kantor-kantor. Setelah itu menyebar dengan sendirinya dan pesanan pasti ada,” imbuhnya.

Bahan baku cukup disuplai dari wilayah sana. Dalam waktu dekat, tuturnya, tape yang tidak layak jual karena rusak akan dijadikan jenang Jawa. “Gula Jawa tetap dipakai hanya saja nanti jenang akan bercita rasa tape,” katanya.

Eko Sudarsono