JOGLOSEMAR.CO Daerah Solo Tatkala BJ Habibie Berbagi Kisah Suksesnya ….

Tatkala BJ Habibie Berbagi Kisah Suksesnya ….

432
BAGIKAN
BERBAGI PENGALAMAN-Prof. DR. Ing. H. B.J. Habibi saat berbagi tentang pengalaman hidupnya pada talkshow ekslusif bertema "Mendidik dengan Hati" yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Pendidikan Al-Firdaus di The Sunan Hotel, Sabtu (30/3). Joglosemar/Yuhan Perdana
BERBAGI PENGALAMAN-Prof. DR. Ing. H. B.J. Habibi saat berbagi tentang pengalaman hidupnya pada talkshow ekslusif bertema “Mendidik dengan Hati” yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Pendidikan Al-Firdaus di The Sunan Hotel, Sabtu (30/3).
Joglosemar/Yuhan Perdana

Ruang Soemarjo Ballroom The Sunan Hotel, dipenuhi ratusan orang yang didominasi kaum ibu, Sabtu (30/3). Kedatangan mereka tak lain untuk mengikuti Talkshow bersama mantan Presiden BJ Habibie. Adapun kegiatan tersebut diselenggarakan Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus untuk memperingati Dwi Windu dengan mengambil tema Mendidik Dengan Hati Tanpa Diskriminasi.

Ketua Panitia Talkshow, Eny Rahma Zaenah mengungkapkan Al Firdaus yang menjadi salah satu lembaga pendidikan inklusi yang mencerdaskan tanpa diskriminasi. “Anak berhak mendapatkan pendidikan yang adil, kami bersyukur bisa melalui masa sulit untuk menciptakan pendidikan yang humanis hingga bisa menjadi percontohan pendidikan inklusif di Indonesia,” katanya kepada Joglosemar, Sabtu (30/3).

Talk show yang dipandu salah satu presenter Metro TV, Rory Asyary berjalan begitu meriah. “Banyak yang bilang susah memotong Eyang Habibie jika sudah mulai bicara,” ungkapnya mengawali bincang eksklusif tersebut.

Kemarin, Habibie berkisah dari perjuangannya hidup di hutan perbatasan Pare-Pare Makassar hingga berbagi keberhasilannya di Jerman. Kemudian, perjuangannya untuk kembali ke tanah air hingga bisa memenuhi janjinya membuat pesawat N 250 bersama jajaran Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

“Penguasaan Iptek bukanlah hak preogratif orang berduit, budaya dan agama tertentu saja. Penguasaan Iptek adalah hak preogratif semua umat manusia. Dulu saat masih berusia 8 tahun, saya menggigil kedinginan hidup di perbatasan Makassar, pagi-pagi berenang di kali untuk memandikan kuda dan mencari rumput. Ini penting saya informasikan bahwa segalanya itu mungkin, jangan lagi beralasan untuk meraih sukses,” kenang mantan Menristek  di era pemerintahan mantan Presiden Soeharto, itu.

“Anak-anak ditempa oleh ibu karena waktu saya banyak untuk bekerja. Maka saya tidak setuju dengan pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) karena anak-anak butuh ibu. Anak-anak harus diberi nilai dan perilaku yang baik bahkan pada musuhnya sekalipun. Agar anak bisa bertanggung  jawab dan bermoral harus mengikuti proses pembudayaan yang seimbang. Daya saing yang tinggi Cuma bisa dinikmati oleh anak yang juga telah berproses dalam pembudayaan yang tinggi pula.”

“Saya lulus cepat dan ingin segera kembali ke Indonesia karena Ibu saya yang membiayai sekolah . Ibu bersumpah akan membiayai anak-anaknya dengan tangannya sendiri saat ayah meninggal ketika salat, sumpah itu disaksikan oleh Jenderal Soeharto waktu itu. Dan karena saya harus membalas perjuangan nenek moyang kita, tanpa mereka tidak mungkin ada Habibie, itulah kenapa saya pilih kembali ke Indonesia meski di Jerman saya bisa sukses. Saya tidak tenang jika tak membalas semua itu dengan memberikan segala yang saya punya untuk Indonesia,” katanya yang disambut tepuk tangan.

Salah satu peserta, guru SMP Assalam Prihastuti mengatakan

Habibie sangat inspiratif. “Semua pasti mungkin terjadi jika sungguh-sungguh. Dalam pendidikan masa depan anak tergantung ibu, bukan hanya lamanya kebersamaan ibu dan anak tapi kualitasnya juga,” katanya.

Ahmad Yasin Abdullah