Tikus Masih Jadi Hama Utama

Tikus Masih Jadi Hama Utama

355
SERANGAN TIKUS-Serangan tikus semakin mengganas, selain tanaman muda tikus juga menyikat habis tanaman padi yang siap panen di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Senin (28/1). Joglosemar|Ario Bhawono
Joglosemar|Ario Bhawono

KLATEN – Serangan hama tikus masih menghantui petani padi di wilayah Klaten. Ironisnya, daerah yang paling banyak terserang merupakan daerah utama penghasil beras.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultural Dinas Pertanian (Dispertan) Klaten, Joko Siswanto, mengatakan akibat serangan hama tikus di wilayah Klaten hingga Tengah Bulan (TB) I bulan Maret 67 hektare lahan tanam padi yang mengalami puso. Jumlah tersebut menurun dibandingkan pada TB I Februari yang mencapai 90 hektare. “Luasan serangan ini lebih sedikit dibandingkan bulan sebelumnya,” paparnya saat ditemui Joglosemar, Rabu (27/3).

Menurutnya, luas serangan tersebut dapat ditekan dengan adanya pemberantasan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang dilakukan secara rutin oleh petani. Gropyokan massal masih dianggap cara yang paling efektif untuk menekan populasi hewan pengerat itu. “Sejauh ini, cara yang paling efektif berupa gropyokan secara kelompok maupun massal. Karena jumlah populasi tikus dapat benar-benar ditekan,” kata dia.

Upaya gropyokan tersebut dilakukan dengan cara pengeposan atau pengasapan sarang koloni tikus dengan insektisida yang diberikan oleh Dinas melalui masing-masing UPTD Pertanian di tingkat kecamatan. Sasaran gropyokan, jelasnya, meliputi lahan terdampak serangan dan lahan sekitar. “Gerakan gropyokan sendiri dipandu oleh masing-masing PPL di tingkat kecamatan. Sehingga diharapkan dapat terkoordinir secara baik,” jelasnya.

Joko memaparkan, luas serangan hewan pengerat tersebut paling parah berada di wilayah Kawedanan Delanggu yang meliputi Kecamatan Delanggu, Kecamatan Ceper, Kecamatan Juwiring, Kecamatan Wonosari dan Kecamatan Polanharjo. Padahal, daerah tersebut termasuk daerah penghasil beras. “Rata-rata lahan tanam padi yang diserang memiliki pematang yang lebar dan dipenuhi tanaman berakar keras. Kondisi ini menyulitkan petani untuk menekan populasi tikus,” tutur Joko.

Selain tikus, terdapat tiga jenis OPT lainnya yang masih menghantui petani, yakni Wereng Batang Cokelat (WBC), penggerek leher, dan blas atau jamur. Kondisi tersebut diperparah dengan pola tanam yang tidak seragam yang dilakukan petani. “Dengan tidak serentaknya masa tanam dan tidak seragamnya tanaman yang ditanam petani, membuat OPT terutama tikus berkembang pesat. Kondisi ini menyebabkan rantai makanan hama tidak terputus sehingga kelangsungan hidupnya terus berputar,” ujarnya.

Angga Purnama

BAGIKAN