JOGLOSEMAR.CO Berita Utama Nasional TNI Bentuk Tim Investigasi

TNI Bentuk Tim Investigasi

307
BAGIKAN
TNI AD BENTUK TIM INVESTIGASI
TNI AD BENTUK TIM INVESTIGASI

JAKARTA-Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan TNI AD telah membentuk tim investigasi terkait dengan penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut dia, tim dibentuk atas dasar dugaan keterlibatan anggota TNI AD dalam peristiwa yang menewaskan empat tahanan itu, Sabtu (23/3) lalu.

“Mengapa harus TNI AD, karena hasil temuan sementara tim investigasi bentukan Kepolisian, memperlihatkan adanya keterlibatan atau peran oknum TNI AD yang bertugas di Jawa Tengah,” kata Pramono dalam konferensi pers di kantornya, di Jakarta, Jumat (29/3).

Tim investigasi TNI AD, kata Pramono, baru dibentuk pada 28 Maret 2013. Tim itu dibentuk setelah sehari sebelumnya Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono memberi perintah Pramono melalui telepon.

Pramono memilih sembilan orang untuk masuk sebagai anggota tim. Mereka berasal dari polisi militer daerah dan Korem. Tim itu dipimpin Wakil Komandan Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI, Brigadir Jenderal (CPM) Unggul K Yudhoyono.

Tim ini bekerja tanpa target waktu. Menurut Pramono sebagaimana dikutip Tempo.co, tim akan mengumumkan hasilnya secepat mungkin begitu mendapat informasi selengkap mungkin.

KASAD juga berjanji tegas akan menghukum anggotanya bila nantinya memang terbukti ada yang bersalah. “Saya janji, siapa yang salah saya hukum. Siapa yang benar saya bela. Itu prinsipnya,” tegas Jenderal Pramono dalam jumpa pers di Markas TNI AD, (29/3).

Menurutnya, di zaman sekarang pihaknya akan terbuka dan tidak akan menutupi hasil dari penyelidikan dan temuan tim investigasi. “Keterbukaan sudah masanya. Negara ini adalah negara hukum harus ikuti aturan yang ada,” ujarnya.

Sebagai bentuk keseriusan pihaknya dalam mengusut kasus ini, Pramono meminta masyarakat mengawasinya. Tim Investigasi TNI akan mengungkap kasus ini. Dia juga meminta seluruh pihak mengawasi kasus yang menjadi sorotan masyarakat itu. “Karena kami sudah bentuk tim investigasi, percayakan kepada kami, awasi kami, kalau butuh informasi komunikasilah kepada kami,” tegasnya.

Dia menjelaskan, sembilan personel diterjunkan dalam tim investigasi tersebut, salah satunya dari jajaran Kopassus. “Tim terdiri dari orang-orang yang memungkinkan melancarkan kegiatan investigasi. Ada POM (Polisi Militer), Kodam, Korem. Itu integrasi yang kita lakukan,” ujarnya.

Hasil temuan tim nantinya akan dikoordinasikan dengan temuan tim dari Polri. “Sangat jelas, bahwa kita berangkat dari koordinasi bersama-sama. Tim Investigasi Kepolisian dan Angkatan Darat bersama-sama, jangan sampai terjadi mis komunikasi,” tegas Panglima.

Terkait dengan adanya indikasi keterlibatan TNI, Pramono enggan berspekulasi. “Karena ini ada indikasi awal, ini yang jadi pegangan. Tidak akan saya sebutkan apa bunyinya, akan saya dalami, karena temuan itu dari pihak lain. Percayalah saya ingin menyelesaikan dengan setuntas-tuntasnya,” pungkas Pramono.

Ketua MPR Taufiq Kiemas berharap TNI terbuka dalam pengusutan peristiwa penyerangan Lapas Kelas IIB Sleman. Taufiq mendukung adanya tim dari TNI dan berharap tim investigasi yang dibentuk harus berhasil mengungkap pelaku di balik penyerangan dan pembunuhan 4 tahanan.

“Saya rasa TNI harus membuka. Saya rasa sudah baik sekali dengan ada tim independen itu. Saya rasa TNI tahu cara menyelesaikan masalah itu,” kata Taufiq di Jakarta, Jumat (29/3).

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mendukung didukungnya pembentukan tim investigasi oleh TNI AD.

Pendapat serupa dikemukakan politisi senior Partai Golkar, Akbar Tandjung. Menurut dia, investigasi yang dilakukan TNI penting agar masyarakat dapat mengetahui kebenaran peristiwa tersebut.

Sementara itu, dua dari empat korban penyerangan di LP Cebongan, Sleman, ternyata memiliki catatan kriminal. Satu tersangka kasus pembunuhan dan pemerkosaan, sedangkan satunya lagi terkena kasus narkoba.

Hendrik Benyamin Angel Sahetapy alias Diky/Deki (37) pernah ditahan di Polresta Yogyakarta dalam kasus pembunuhan mahasiswa Papua tahun 2002 dan kasus pemerkosaan. “Diky memang pernah ditangkap Polresta Yogyakarta dalam kasus pembunuhan mahasiswa tahun 2002 dan pemerkosaan tahun 2007,” kata Kasatreskrim Polresta Yogya, Kompol Dodo Hendro Kusuma SIK.

Diky juga menjadi tenaga keamanan di Hugo’s Cafe yang terletak depan halaman Hotel Sheraton Mustika di Jl Solo Km 10 Maguwoharjo, Sleman. Nama Diky Ambon mulai muncul sejak Kota Yogyakarta memperbolehkan adanya tempat hiburan malam pada 2011. Sejumlah kafe-kafe yang menjual minuman keras mulai bermunculan di Kabupaten Sleman. Kafe-kafe itu banyak berdiri di Jl Magelang, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati dan Kecamatan Depok Sleman.

Detik | Okezone0

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here