JOGLOSEMAR.CO Daerah Jogja Tragedi 3 Mahasiswa Tewas di Gunung Seropan II, Gunungkidul

Tragedi 3 Mahasiswa Tewas di Gunung Seropan II, Gunungkidul

608
BAGIKAN

Jenazah Ditemukan Terkait di Tali, Mereka Berpulang Tanpa Pesan

Tiga mahasiswa tewas dalam tragedi di Gua Seropan II, Semanu, Gunungkidul. Kejadian yang menimpa para mahasiswa pencinta alam itu meninggalkan duka masing keluarga.

Dian Putri Permata Sari (20)
Dian Putri Permata Sari (20)

Tatap mata Widodo (50), seakan tak percaya dengan apa yang dilihat saat memandangi peti jenazah yang berisi Dian Putri Permata Sari (20), anaknya yang menjadi korban tewas di Gua Seropan II, Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul, DIY, Selasa (19/3).

Dian Putri, Mahasiswa Fakultas Biologi UGM bersama dengan  Ganang Samudra, mahasiswa ISI Yogyakarta, alamat Solo Baru, Solo dan Hefin Fahariza, mahasiswi UMP Purwokerto ikut dalam kegiatan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Speleologi yang dilaksanakan Himpunan Speleologi Cave Indonesia (HICASPI).

Air mata Widodo dan istrinya, Endang, terlihat berlinang saat jenazah putrinya tiba. Kesedihan dari wajah Widodo dan istrinya sangat jauh berbeda dengan foto almarhumah Dian Putri yang berada di atas peti jenazahnya. Dalam foto itu Dian terlihat tersenyum lebar dengan mengenakan topi rimba.

Tangisan keluarga dan para teman-teman sesama pencinta alam dari jogja pecah saat peti jenazah diangkat dan dibawa ke peristirahatan terakhir tak jauh dari rumah duka. “Saya ikhlas mas melihat anak saya mendahului saya menuju Sang Khalik. Mungkin ini jalan yang terbaik buat anak saya,” kata Widodo sembari menahan tangis, Rabu (20/3).

Menurut Widodo, kepergian anak sulungnya ini memang terjadi tanpa pesan dan pertanda apa-apa. Kepergian Dian Putri untuk mengikuti Diklat memang sudah diizinkan karena sudah menjadi kesukaannya. “Saya komunikasi terakhir kali hari Selasa (19/3) pagi hari melalui SMS. Anak saya mengatakan tidak bisa menghadiri takziah di salah satu kerabat yang meninggal dunia karena sedang diklat,” jelasnya dilansir Vivanews.

Di akun Facebook yang dimilikinya, perempuan asal Karawang, Jawa Barat, itu sempat berpamitan dengan menuliskan sebuah status. “Pamit untuk beberapa hari ke depan.. kalau ga bisa dihubungi, artinya hp nya ga bisa dihubungi (lho? haha) #sokpenting,” demikian status Dian di Facebook, Minggu (17/3).

Kondisi serupa juga menyelimuti keluarga Muhammad Fauzan, ayahanda dari Hefin Fahariza. Jenazah korban tiba di rumah duka, Kelurahan Tanjung RT 2 RW 3, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu, pukul 09.15 WIB. Kedatangan jenazah anak pertama pasangan Muhammad Fauzah dengan Wuriningsih disambut isak tangis keluarga korban.

Muhammad Fauzan, ayahanda korban mengatakan putri sulungnya yang tercatat sebagai mahasiswi semester IV Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMP. Hefin juga tidak meninggalkan pesan dan tak ada firasat dari anggota keluarganya. “Dia sangat ceria dan suka berpetualang sehingga bergabung dengan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) Satria UMP,” katanya.

Cahya Alkantana, Presiden Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (Hikespi) , menuturkan para korban merupakan peserta kegiatan pendidikan dan pelatihan SAR Sepeleologi. Kegiatan tersebut diikuti 60 peserta dan 14 instruktur. Dikatakannya, yang masuk ke dalam Gua Seropan II merupakan tim beranggotakan 20 orang ditambah empat pemandu. “Air tiba-tiba masuk ke mulut gua,” imbuh Cahya.

Regu penyelamat berusaha menyelamatkan korban, namun evakuasi terkendala cuaca dan kedalaman gua yang mencapai 40 meter. Semua korban ditemukan di kedalaman 20 dan 30 meter. Mereka tenggelam dalam kondisi terkait kali. Sementara 21 orang lainnya berhasil menyelamatkan diri. “Sudah langsung diperingatkan, tetapi karena air sangat cepat,” ujarnya.

Seropan II merupakan gua vertikal dengan kedalaman sekitar 40 meter dan diameter bagian dalam sekitar tiga meter. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung harus turun menggunakan tali. Dibutuhkan keahlian dan alat khusus untuk bisa menjangkau dasar gua. Karena itu, para pengunjung merupakan kelompok pencinta alam yang rata-rata sudah mengetahui dan menguasai teknik rappeling dan ascending. Detik | Okezone | Cisilia Perwita S