Wanita Lebih Berisiko Terjangkit Lupus

Wanita Lebih Berisiko Terjangkit Lupus

387
ilustrasi
ilustrasi

Penyakit kanker,  selama ini menjadi penyakit yang paling ditakuti, karena merupakan penyakit yang mematikan. Tetapi, ternyata ada penyakit lain sejenis yang juga mematikan. Penyakit itu disebut penyakit Lupus. Penyakit lupus adalah penyakit auto imun yang menyerang sistem kekebalan tubuh secara berlebihan, sehingga mengganggu kesehatan tubuh. Penyakit lupus terjadi ketika antibodi menyerang sel sehat dalam tubuh itu sendiri. Di seluruh dunia penderita penyakit lupus diperkirakan mencapai angka 5 juta orang dan lebih dari 100.000 kasus baru terjadi setiap tahunnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Rumah Sakit Umum Islam Kustati Surakarta, Dr Bambang Wuriatmojo, Sp.PD menjelaskan lupus dalam dunia medis disebut Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Penyakit ini menyerang sistem imunitas tubuh,  di mana jaringan dalam tubuh dianggap benda asing. Reaksi sistem imunitas bisa mengenai berbagai sistem organ tubuh seperti jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, sistem saraf, sistem jantung atau kardiovaskuler, paru-paru, lapisan pada paru-paru, hati, sistem pencernaan, mata, otak, maupun pembuluh darah dan sel-sel darah. “Penyakit merupakan gangguan imunitas tubuh, sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri,” katanya.

Kejadian puncak dari LES ini terjadi pada usia antara 15 tahun hingga 40 tahun. Pada kurun usia tersebut, penderita wanita sepuluh kali lebih banyak daripada pria. Diduga, hormon estrogen yang banyak dimiliki kaum hawa menjadi salah satu penyebab LES. “Kebanyakan penderita lupus wanita, lebih banyak lagi dialami oleh ras kulit hitam,” katanya. Penyakit lupus sendiri bukanlah penyakit menular dan sebagian besar penderitanya adalah wanita pada usia produktif. Sehingga sering dianggap bahwa penyakit lupus itu identik dengan penyakit wanita.

Bambang menjelaskan, penyebab penyakit lupus hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Pada sebagian besar  kasus,  penyakit lupus tidak lepas dari latar belakang riwayat keluarga yang pernah terkena sebelumnya. Namun pada sebagian kasus lain, tidak ada penyebab yang jelas untuk penyakit lupus ini. Menurutnya faktor genetik bukanlah penyebab langsung penyakit lupus. Melainkan ada faktor lain yang menyebabkan munculnya penyakit lupus ini. “Dugaan lain para ahli tentang penyebab penyakit lupus adalah karena faktor hormon, tetapi ini pun belum diketahui hormon mana penyebabnya,” jelasnya.

Bambang mengungkapkan gejala penyakit lupus sangat bervariasi. Penderita penyakit lupus yang satu dengan yang lain bisa berbeda-beda gejalanya. Itu sebabnya seseorang yang menderita penyakit lupus sulit mendeteksi penyakit tersebut. Bahkan, gejala penyakit lupus dapat menyerupai gejala penyakit lain. “Gejala yang variatif ini disebabkan karena organ tubuh yang diserang juga bisa berbeda antara penderita yang satu dengan yang lain,” terang dia.

Jika menyerang sistem saraf, lLupus bisa menyebabkan disfungsi mental, kejang, psikosis, dan sakit kepala parah. Sistem otot yang terserang akan menunjukkan ciri -ciri penyakit lupus yang khas berupa rasa lemah atau sakit di otot atau pada persendian, baik dengan ataupun tanpa pembengkakan serta menunjukkan kemerahan pada daerah yang terserang. “Bahkan Lupus juga menyerang persendian, misalnya nyeri sendi, tetapi penyebabnya bukan karena ada kerusakan sendi seperti rematik,” ungkapnya.         Sedangkan ciri-ciri yang umum dan bisa dilihat pada penyakit lupus antara lain, munculnya bercak merah pada hidung dan kedua pipi membentuk seperti kupu-kupu (butterfly rash). Bercak itu bisa pula terjadi pada seluruh tubuh. Selain itu, penderita biasanya juga merasakan rasa lelah yang berlebihan. “Kalau tanda-tanda yang paling sering terlihat ini adanya butterfly rash di pipi penderita,” paparnya.

Ciri lainnya, menurut Bambang, penderita seringkali mengeluhkan rasa nyeri pada bagian persendian, tetapi saat diperiksa ternyata tidak ada masalah pada sendinya. Penderita juga bisa mengalami anemia yang parah. Dia juga akan susah bernafas dan sangat sensitif pada cahaya. “Nafasnya biasanya akan susah dan berat, nafsu makan juga turun dan diikuti oleh penurunan barat badan,” jelasnya.

Untuk mengetahui apakah seseorang menderita penyakit lupus atau tidak adalah dengan melakukan tes Antinuclear Antibodies (ANA). Tes ini akan mengidentifikasi auto antibody (antibody perusak) yang memakan sel-sel berguna dalam tubuh. Jika hasil tes positif maka kemungkinan besar orang tersebut mengidap penyakit lupus. “Diagnosis terkena lupus akan ditegakkan dengan tes ANA ini,” ujarnya. Tri Sulistiyani

BAGIKAN