JOGLOSEMAR.CO Lifestyle Kesehatan Waspadai Penurunan Kekuatan Otot

Waspadai Penurunan Kekuatan Otot

8221
BAGIKAN
ilustrasi
ilustrasi

Keluhan tentang kelemahan otot banyak muncul di masyarakat. Keluhan lemah lesu, loyo dan sebagainya banyak kita dengar. Mereka mengeluh tentang ototnya yang lemah, atau ototnya serasa tidak kuat untuk bergerak. Karena keluhan-keluhan tersebut, banyak masyarakat yang kemudian mengonsumsi beraneka vitamin penambah kekuatan otot. Tapi apakah benar minum vitamin penambah kekuatan otot adalah tindakan yang tepat dan apa sebenarnya penyebab otot menjadi lemah??

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik & Rehabilitasi Rumah Sakit Kasih Ibu Surakarta,  Dr Sondang Rexano, SpKFR menjelaskan,keluhan ini tidak bisa dianalisa hanya berdasarkan keluhan, hal itu bersifat sangat subyektif. Tanpa pemeriksaan mendetail, sangat sulit untuk menilai benar atau tidak keluhan ototnya yang lemah tersebut. “Kalau keluhan itu sangat subyektif, sehingga harus melalui pemeriksaan lebih lanjut,” katanya kepada Joglosemar.

Untuk memastikan apakah kelemahan otot tersebut hanya karena tubuh yang capek atau karena penyebab yang lain memerlukan pemeriksaan yang teliti. Jika kelemahan otot murni terjadi karena penurunan kekuatan otot,  bisa menimbulkan akibat fatal bila terlambat di diagnosis. Keluhan tersebut berakibat fatal bila penderita mengeluh tidak kuat mengangkat lengan atau tak mampu bangun dari tidur dan tak kuat untuk berdiri sendiri. Keluhan ini bisa terjadi karena beberapa penyakit tertentu seperti Sindroma Gullain-Bare (SGB/GBS) dan Miastenia Gravis (MG). Sehingga bila terlambat didiagnosis keluhan ini dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian.

Dia mengungkapkan, otot menjadi lemah bisa dikarenakan dua hal utama, yaitu gangguan di sistem saraf dan gangguan di sistem otot. Pada kasus kelainan akibat gangguan sistem saraf masih akan dibagi lagi oleh kelainan sistem saraf pusat (sentral) mulai dari otak sampai sum-sum tulang belakang, dan kelainan pada sistem saraf tepi (perifer) yaitu mulai dari keluarnya serabut saraf dari sum-sum tulang belakang berupa serabut akar saraf spinal (radiks) sampai pada sinaps yaitu perbatasan ujung saraf tepi ke sel organ otot (organ motorik). “Otot lemah ini ada dua sebab utama karena gangguan sistem saraf dan sistem otot,” terang dia.

Bagi orang awam memang tidak mudah untuk memahami perbedaan karakteristik dari kelemahan otot akibat gangguan saraf & otot. Tetapi tidak ada salahnya untuk dimengerti bahwa kelemahan otot bukan hal yang mudah untuk diagnosis. Bahkan kadang dokter yang ahli sekalipun masih membutuhkan pemeriksaan khusus berupa Elektromyographi (EMG), suatu pemeriksaan dengan menggunakan metode elektrik untuk menentukan apakah gangguan kelemahan otot tersebut terjadi pada sistem saraf atau pada sistem otot. “Kelemahan otot ini terkadang memang susah ditegakan diagnosisnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, jika seseorang merasa ototnya lemah bisa saja karena berbagai sebab. Tetapi yang perlu diwaspadai adalah kelemahan akibat gangguan sistem otot. Bisa jadi kelemahan otot ini tidak segera tertangani hingga mencapai pada otot pernafasan yang berakibat fatal, yakni gagal nafas. “Keluhan ini bisa berbahaya jika tidak diwaspadai. Ada kasus di Boyolali sebuah keluarga yang dikira menderita lupuh layu, ternyata adalah gangguan sistem otot ini,” terang dia.

Dikatakannya, dalam ilmu kedokteran, khususnya Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, kekuatan otot rangka dapat dinilai berdasarkan tingkat kekuatannya dengan menggunakan skala angka linear 0 sampai dengan 5.  Penilaian kekuatan otot tersebut terutama dilakukan pada otot-otot ekstremitas (tungkai atas & bawah). “Otot itu ada kekuatannya yang dinilai dengan skala 0 sampai 5,” ujarnya.

Dijelaskannya, prinsip dari penilaian tersebut adalah bagaimana cara kita menentukan kekuatan sebagian atau keseluruhan kelompok otot berdasarkan kemampuannya melawan gaya gravitasi bumi dan tahanan yang diberikan oleh pemeriksa. Kesimpulan yang didapat akan sangat berharga bagi dokter untuk menentukan sebagaimana beratnya kelemahan otot yang diderita seseorang. “Ini untuk menentukan berat lemahnya otot yang diderita seseorang,” terang dia.

Dikatakannya, skala kekuatan otot itu juga berguna untuk menentukan sejauh mana kemampuan orang tersebut mampu menjalankan aktivitasnya sehari hari. Bahkan penilaian kekuatan otot seseorang sering dilakukan sebagai bagian dari teknik untuk menentukan lokasi (topis) dari kelainan atau penyakit yang mengakibatkan lemahnya otot tersebut. “Jika masih normal dan mampu melakukan segala aktivitas maka kekuatan otot masih pada grade 5, semakin lemah kekuatan grade semakin turun,” terang dia. Tri Sulistiyani

  • Mila dewi

    Sore Dok, anak saya usia 10 th di diagnosa oleh dr Dwi Putro terkena SMA type 2 dapatkah dokter memberi rekomendasi kpd kami pusat rehabilitasi yg terbaik dan tepat utk anak kami ? Atau adakah petunjuk utk kami ,,, langkah yg tepat dlm menghadapai kasus anak kami tsb ? mohon petunjuk nya ya dok! Terima kasih